3.5 Teman Manis

1950 Kata
Nian membulatkan matanya saat mendengar suara wanita yang tidak asing itu masuk ke dalam telinganya. Pun dia menegakkan punggungnya saat merasakan ada tangan menyentuh pundaknya. Dia mendongak dan mendapatkan kecupan hangat. Kemudian dia melihat ke depan. Ella tersenyum lebar. Ah, rasanya dia ingin menenggelamkan diri saja di lautan. Terserah lautan yang mana. Yang penting bisa menghilangkan wajahnya sekarang juga. "Ini teman Nian, ya?" Wanita itu bertanya. Ella menyambut jabatan tangan sambil tersenyum ramah. Dalam keadaan biasa mungkin gadis ini sudah kikuk dan bingung dengan apa yang sedang terjadi, namun candaannya dengan Nian tadi cukup untuk membuang semuanya. Ini adalah bukti yang tak akan bisa dielak oleh Nian. Dan dia akan menang. "Iya, Tante." "Namanya?" "Laila. Tapi, biasa dipanggil Ella." Wanita itu menarik tangannya dan menoleh ke Nian yang sudah berpaling pandang dari mereka. Dia harusnya kabur saja sejak tadi. "Teman kamu manis, Kak. Mekanya kamu betah." Ella mengangguk takzim dan senyuman itu tidak lepas dari bibirnya. Sedangkan Nian, dia hanya bisa menggenggam erat alas kursi yanh didudukinya dan memjamkan mata untuk meredam rasa malunya. Semua ini terlalu mendadak. Seharusnya dia menyudahi saja pertemuannya dengan Ella sebelum Mamanya datang. Tapi, suasananya tadi tidak memungkinkan. Ah, tapi tak apa. Toh, kedua wanita itu bisa saling mengenal. Kemudian, Nian membalas ucapan Mamanya itu dengan senyuman. "Ini Mamaku, La." "Iya, Kak." Ella mengangguk. "Tante baru pulang kerja, ya?" "Iya. Sekalian jemput anak Tante yang cakep ini. Kasihan kalau harus naik taksi lagi ke rumah. Apalagi dia udah jarang banget keluar rumah. Dari pada nanti kalau ada apa-apa dan nanti Tante yang disalahin. Mendingan Tante bela-belain jemput meskipun habis kerja." "Hmmm," dehem Ella. Canggungnya mulai keluar. "Oh, gitu, ya, Tan." Nian yang melihat itu pun langsung melingkarkan tangan ke pundak Mamanya. "Karena Mama udah di sini, jadi kayaknya kami harus pamitan, deh." Mama Nian langsung menoleh ke arah anaknya dengan tatapan bertanya. Kenapa anaknya terasa aneh begini? "Kamu kenapa, sih, Kak? Mama masih mau ngomong sama Ella ini, loh." Nian pun menurunkan tangannya. Lagi, Ella hanya bisa mengangguk dan tersenyum. "Mau saya pesankan minuman, Tante?" "Nggak usah. Tante sudah minum banyak tadi waktu di kantor." Nian memundurkan punggungnya dan berisyarat kepada Ella untuk tidak meneruskan basa-basinya. Ella mengangkat kedua alisnya sebagai tanda tanya. Sang Mama merasakan ada sesuatu saat melihat raut wajah gadis di depannya. Lalu dia menoleh ke samping. Nian langsung mengangkat kedua tangannya untuk perenggangan dengan sedikit menguap. "Ya, ampun. Ternyata capek juga, ya, duduk terus dari tadi." "Hayo, kalian ngapain?" todong wanita itu. Nian menurunkan tangannya. "Ngapain apanya? Dari tadi kita cuma bicara, ya, 'kan, La?" Jari telunjuk Nian mondar-mandir menunjuk dirinya sendiri dan Ella. Gadis itu hanya mengangguk. Senyuman takzim dan canggung itu berubah dengan sendirinya menjadi senyuman yang akan membentuk sebuah tawa. Dia yakin, Nian pasti kuwalahan juga menghadapi Mamanya jika sudah bertemu dengan temannya. Notifikasi dari gawai Ella memalingkan gadis itu dari dua insan di depannya. Dari Ryan. Lelaki itu mengabarkan bahwa akan sampai di Apaja Kafe. "Siapa?" tanya Nian. "Ryan," jawab Ella singkat. "Kenapa?" "Katanya mau sampai." "Ryan temen kamu itu, Kak?" Wanita itu bertanya, ikut dalam pembicaraan dua remaja itu. Nian mengangguk. "Ryan yang anaknya baik banget itu? Yang satu pelatihan sama kamu?" Mama Nian meyakinkan diri bahwa dia tak salah orang. "Iya, Mamaku sayang." Nian langsung melipat bibirnya saat menyadari perkataannya barusan. Dia melirik ke arah Ella. Gadis itu tampak menahan tawanya. "La." Lelaki itu bersendekap. "Apa, Kak?" Nian mendesis dengan udara yang ditarik ke dalam mulutnya sebagai peringatan untuk gadis itu agar tidak menertawakannya. "Gak papa. Mau tanya aja. Si Ryan udah sampai mana?" Dia mengalihkan pembicaraan karena merasa Mamanya sedang memantau. "Sebentar." Ella mengetik di atas keyboard lagi untuk menanyakan hal itu. "Sudah sampai depan POM bensin, Kak. Gak lama lagi, kok." "Oke." Nian menoleh ke Mamanya. "Ma, ayo pulang," ajak Nian kepada sang ibu yang terdengar hampir seperti pengusiran. "Lhoh, kenapa? Mama aja masih pengin di sini. Mama mau ngobrol dulu sama temen kamu yang manis ini." "Gak usah, Mam. Kapan-kapan aja kalau aku ajak dia ke rumah. Nanti Mama ngobrol sama Ella sepuasnya. Sekarang, Mama, 'kan, abis kerja. Mendingan pulang aja, ya, kita. Mamaku pasti capek." Sungguh selamatkanlah Ella dari sini. Gadis itu masih berjuang untuk menahan tawanya yang sedari tadi. Perutnya terasa seperti digelitik. Dia tidak bisa mengelak jika situasi ini sangat mendukung dan menunjukkan bukti bahwa sesungguhnya lelaki di depannya termasuk anak yang tidak boleh dia pikirkan itu. Ya, apalagi kalau bukan manja. Dia mengikis kecanggungan dan 'baru kenal kemarin'. Sepertinya dia akan cepat dekat dan akrab dengan Nian. Secara, dia juga sudah sampai di umur remaja. Ryan juga sudah berkali-kali bilang agar membuka batasannya sendiri. Lelaki itu memang sangat berarti dalam hidupnya. "Ya, udah kalau kayak gitu." Wanita itu menoleh ke Ella. "Tante pulang duluan, ya. Kapan-kapan kita ngobrol yang banyak. Tante juga pengin punya temen bicara. Kalau sama Nian, dia cuma iya doang." Ella hanya tersenyum. Jika dipikir-pikir, dia pun akan melakukan hal yang sama jika mendapat curhatan dari seseorang. Namun, entah jika orang itu adalah Ryan. Reaksinya pasti akan berbeda. "Iya, Tante." Terbukti kebiasaannya. "Gak papa, 'kan, kalau aku tinggal sendirian di sini? Ryan udah deket, 'kan, katanya tadi." Ella mengangguk. "Iya. Gak papa, Kak." Setelah bersalaman dengan Mama Nian, Ella terpaku dengan Nian yang masih berdiri di depanya. Ibu lelaki itu sudah keluar terlebih dahulu setelah anaknya membisikkan sesuatu. Sedangkan Nian masih berada di depannya. Dia tampak akan mengatakan suatu hal. "Ada apa, Kak?" Ella memastikan lelaki itu baik-baik saja. "Maaf. Maafin aku. Maaf banget pokoknya. Aku gak bayangin kalau Mama jemput secepat itu dan langsung nyamperin kita." Lelaki itu tampak gugup dan ragu. "Gak papa, kali. Emangnya kenapa?" "Aku gak enak sama kamu." Alis Ella bertautan. "Apa yang salah?" "Semua di luar rencana aku. Aku kira Mama akan menunggu di luar. Aku maunya aku yang bawa kamu ke Mama. Aku inginnya aku datang sama kamu ke Mama dan ngenalin kamu ke beliau. Bukan Mama yang nyamperin kayak tadi. Jadi, kapan-kapan kalau aku ajak kamu main ke rumah buat kenalan sama Mama, mau, ya?" "Tapi, aku, 'kan, udah kenalan sama Mamanya Kak Nian tadi," bingung Ella. "Kan cuma kamu yang nyebutin nama. Mama belum. Berarti kamu belum kenalan sama Mama." Ella semakin memperdalam kerutan yang ada di dahinya. Lelaki ini bicara apa, sih? "Ah, pokoknya gitu. Maaf juga aku harus ninggalin kamu kayak gini. Semua sudah kubayar. Jadi gak usah bayar lagi. Pun aku gak minta balasan buat kamu teraktir balik. Tapi, kalau kamu mau teraktir aku, kita bisa ketemuan di lain waktu." Perkataan itu sangat tergesa. "Ah, gitulah. Aku pulang dulu. Maaf, harus ninggalin kamu kayak gini, ya. Aku janji gak akan ninggalin kamu kayak gini lagi." Sekarang Ella menahan tawanya. Tingkah tergesa lelaki itu menggemaskan sekali. Dia ingin mencubitnya. Atau mengusak rambutnya seperti yang dia lakukan kalau sedang gemas dengan Ryan. "Iya. Hati-hati, ya, Kak." Nian mengangguk dan menyambar tasnya dari kursi. Dia melambaikan tangan sambil melangkah ke pintu. Dia sempat terhenti saat tidak sengaja menabrak kaki kursi yang tidak berdosa, merintih singkat sambil memegangi kakinya yang sakit. Ella tersenyum lebar. Nian sangat konyol. Awalnya, dia mengira lelaki itu adalah tipe orang yang dingin dan pendiam. Ternyata, sama saja dengan Ryan. Aneh. Eh, tapi, itu berarti mereka sama. Sama-sama aneh. Dia menghela napas dalam. Kemudian duduk lagi untuk menunggu kedatangan Ryan. Dia pun mengambil garpu untuk menyuap kue yang masih tersisa separuh. Dia tenggelam dalam pikirannya. Entah kenapa semua yang terucap dari bibir Nian dan Mama lelaki itu teringat dan terngiang kembali di benaknya. Teman yang manis. Teman ngobrol. Anak manja. Main ke rumah Nian. Membawanya dan mengenalkan kepada Mama lelaki itu. Sepertinya Nian sangat bersungguh-sungguh ingin dekat dengannya. Dia jadi teringat dengan Ryan sebelas tahun yang lalu saat mereka masih kecil. Sahabatnya itu bersikeras ingin menjadi temannya dan terus mengajaknya berteman hingga dia menyerah untuk menjauh lagi. Lucu untuk ukuran mereka yang masih kecil. Namun, setelah dipikir-pikir kembali, dia tidak mungkin melakukannya lagi sekarang. Sepertinya dia harus melakukan anjuran Ryan untuk membuka batasannya sendiri. Ah, kalimat Ryan terngiang kembali. Kalimat setelah anjuran itu sangat tidak disukainya. Siapa mau berpisah dengan orang yang selama ini berjasa dalam hidupnya? Ryan keterlaluan karena sudah mengatakan hal itu. Tanpa disadari, kue manis itu telah habis. Ella meletakkan garpunya dan mulai meminum coklat lattenya. Sangat pas untuk makanan penutup. Sepertinya, nanti dia tidak akan makan lagi. Terlalu banyak makanan manis. Bisa-bisa dia gendut. Bukan apa-apa. Badannya yang cukup berisi itu selalu saja menjadi bahan cubitan sana-sini. Kalau dia bertambah berat badan, mungkin cubitannya tidak hanya di kulit, tapi juga di hati. "Nian, mana?" Pertanyaan itu membuat Ella menoleh sambil mengikuti gerak-gerik si penanya. Dia tersenyum melihat Ryan yang mengambil tempat duduk di depannya. "Udah pulang?" Ryan mengangguk. Badannya agak merosot. "Maaf, kamu jadi lama banget nunggu aku. Canggung gak?" Ella menggeleng dan itu membuat Ryan menautkan kedua alisnya. "Kak Nian asyik. Kami cerita tentang masa lalu. Apalagi saputangan itu. Ternyata gak main-main. Udah kayak novel aja." "Emangnya kenapa?" Ella tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Ryan terlalu paham dengan gerak-gerik gadis itu. Bahkan, dari nada bicara pun dia bisa tahu apa yang sedang dirasakan Ella. "Nenek Kak Nian sengaja menyulam inisial Kak Nian di ujung saputangan itu. Kata beliau, biar kalau hilang bisa ketemu lagi. Pun ...," Ella menggaruk sisi pipinya yang tak gatal, "kata beliau, saputangan itu akan memberi tahu Kak Nian tentang orang yang bisa jadi penyembuhnya." Ryan menelan ludahnya. Matanya bergerak tanpa arah, mencoba mencerna apa yang baru saja dia dengar. "Apa tadi? Penyembuh?" Ella mengangguk dengan mengulum senyuman. Dada Ryan seperti diketuk keras. Dia baru mendengar hal itu. "Kak Nian memangnya abis kenapa? Dia abis terpuruk banget, ya? Kok lagu yang dikasih ke aku juga mellow banget." "Lagu?" "Oh, aku belum cerita, ya?" Ryan mengangguk. Dia melemaskan badannya di atas kursi. Otot-ototnya perlu rileks sejenak setelah latihan. "Jadi, kemarin Kak Nian itu kasih aku lagu. Apa, ya, judulnya? Aku lupa." Ryan memalingkan pandangannya ke arah lain. Dia merasa agak percuma sudah mendengarkan Ella dengan sangat seksama. "Ih, jangan gitu, dong, Ry. Aku inget, kok, isinya. Pokoknya tentang orang yang—" Dengan segera, Ella membuka gawainya. Dia mencari ruang pesan antara dirinya dan Nian. "Ah, ini." Dia pun menyebutkan beberapa bait lirik yang ada dalam lagu itu. Ryan menegakkan punggungnya saat Ella berkata, "Saat hati ini mulai merapuh." Itu baginya tidak mungkin. "Gak mungkin liriknya kayak gitu." "Kok, kamu gak percaya, sih? Ini beneran liriknya kayak gitu." Ella menunjukkan lirik yang dimaksud. Dia mencarinya di internet. Ryan menelan ludah. Dia mengambil gawai gadis itu dan men-scroll semua liriknya. Dia membaca satu per satu kata yang ada di sana. Tidak mungkin. "Kayaknya Kak Nian abis diputusin pacarnya, ya? Dia sampai segitunya sakit hati. Kasihan. Ya, meskipun aku belum pernah punya pacar, sih. Tapi, rasanya ditinggalin sama orang yang disayang itu bener sakit banget. Apalagi di hati." Ocehan Ella hanya diangguki oleh Ryan. Lelaki itu masih tidak percaya dengan yang dia baca baru saja. Dia belum pernah mendengarkan lagu itu. Dia pun melihat tahun rilis lagu itu. Pantas saja. Lagu lama ternyata. "Ryan?" "Y-ya. Iya. Ada apa?" Bola mata Ryan bolak-balik memandang antara layar gawai dan pemiliknya. "Kamu kenapa? Kok, serius banget?" Ryan berdehem. "Gak. Gak papa. Hmm, cuma mikir tentang Nian aja, sih. Ternyata dia begitu." "Begitu apanya?" "Ya ... begitu. Dia ... dia ... emang sakit banget." Lelaki itu membasahi bibirnya. "Beneran Kak Nian seterpuruk itu sebelumnya? Berarti pas dia lihat saputangan hijau itu ada di kamu, langsung berubah dong?" Ryan mengangguk. Isi otaknya masih memproses informasi yang baru saja dia dapatkan itu. Dia menghela napas panjang. Pikirannya dipenuhi oleh teman basketnya itu. Ternyata Nian sungguh-sungguh dengan perkataannya. Dia yang terbiasa dengan guyonan lelaki itu pun menganggap perkataan Nian dahulu hanyalah bualannya saja. Namun, melihat semua ini, dia semakin yakin bahwa temannya itu tidak sedang bermain-main.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN