BAB 14

1645 Kata
Sore hari di atas jembatan panjang dan kokoh ini, akhirnya aku bisa menemukan setitik cahaya tentang laki-laki yang aku cari di negeri ini. Seperti yang aku sudah duga. Perempuan yang ada di sampingku ini, kenal dengan Andrew. Dan sepertinya, bukan hanya kenal. Dia juga tahu, apa apa saja yang terjadi dengan Andrew di kota ini. “Ada apa dengan Andrew?” Aku pura-pura terkejut untuk memancing perempuan ini berbicara. “Mmmm... sebenarnya, aku sendiri tidak boleh mengatakannya dulu.” Viona malah terlihat ragu untuk menjawab pertanyaanku itu. “Kenapa?” tanyaku sedikit kecewa. “Mmmm... karena aku juga tidak sengaja mendengarnya di depan kantor Bos besar,” jawab Viona dengan melakukan hal sama yang sejak tadi aku lakukan. “Bos besar itu... maksudnya....” Aku sepertinya tahu siapa yang dimaksudkan olehnya. Hanya saja, aku tidak ingin mengakuinya. “Mr. Alexander. Ayahnya Bos Andrew.” Viona pun menegaskan apa yang memang sudah terpikirkan olehku. “Jadi... Ayahnya Andrew ada di kota ini? Bukannya, dia selalu berpindah-pindah?” Aku tidak percaya, bahwa aku akhirnya bisa bertemu dengan orang yang sangat sulit ditemukan itu. “Apa... kamu belum pernah bertemu dengan ayahnya Bos Andrew?” Ternyata, perempuan ini memang sangat peka. Aku semakin ragu harus menjawab apa. Jika aku menjawab belum pernah, maka statusku yang merupakan menantu perempuannya tentu akan langsung terbongkar. Namun, sebaliknya. Jika aku bilang sudah pernah bertemu dengan dia. Dan tiba-tiba, Viona menanyakan tentang wajah Bos besarnya itu. Lalu, jawaban apa yang akan aku berikan selanjutnya. “Huffff... jadi pembohong memang bukan keahlianku,” gumamku pelan. “Hah? Maksudnya?” Meski, aku yakin sudah mengatakannya dengan sangat pelan. Ternyata, masih tetap bisa didengar olehnya. “Entahlah, Aku harus jujur atau tidak sama kamu,” lanjutku. “Jujur? Jadi... dari tadi.” Perempuan ini memang sangat pintar, dia bisa dengan cepat menyimpulkan semuanya. “Tapi... kalau aku mengatakan semuanya. Maka, aku sudah melanggar kontrak yang aku buat dengan bosmu itu,” kataku sambil kembali menatap genangan air yang mulai berubah warna. “Maksudnya, kamu dan bos itu...” Dia sempat berhenti mengatakan apa yang ingin dia katakan.  Namun, dari cara dia berbicara, sepertinya dia mengetahui sesuatu. Apalagi, dia juga sudah tidak memanggil diriku ini dengan sebutan ‘anda’. Sepertinya, dia mulai menganggap aku layaknya teman. “Mmmm... jangan jangan, kamu dan bos Andrew... kawin kontrak ya?” lanjut gadis manis itu. “Deg.” Seketika, jantungku terkejut mendengar ucapannya. Ini, bukan aku yang kasih tahu kan ya? Ini, dia sendiri yang tahu kan? Apa... memang aku enggak sengaja mengatakan sebuah petunjuk? Terlalu banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benakku ini. “Kamu... tahu dari mana?” Meski berat menanyakannya. Namun, aku tetap mengucapkannya. Bagaimana pun, dengan apa yang aku katakan itu. Viona bisa langsung menganggap, semua yang dia katakan itu memang benar. Apa lagi, dia memang pintar menyimpulkan segala sesuatunya. “Itu gampang aja,” jawabnya santai. “Gampang gimana?” “Ya, zaman sekarang, banyak kali yang seperti itu antara orang kaya dengan kaum biasa kayak kita,” lanjutnya dengan sangat percaya diri. Bahkan, dia pun juga bisa menyimpulkan bahwa aku ini bukanlah salah satu keturunan bangsawan. Atau pun, orang yang memiliki banyak harta. Seperti keluarga Andrew itu. “Mmmm... tapi, ini bukan aku yang kasih tahu ya?” Aku yang memang sudah tidak mau lagi menahan rahasia ini, hanya bisa pasrah saat mengetahui hal ini diketahui oleh perempuan ini. “Iya, tenang saja. Aku enggak akan membuat kamu membayar semua pelanggaran yang sudah kamu lakukan.” Dia selalu menjawabnya dengan santai. “Kok....” “Aku tahu?” Dia melanjutkan apa yang akan aku katakan. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. “Bukannya sudah biasa, Isi kontraknya, pasti seperti itu kan?” tebaknya lagi. Aku pun menjawab dengan cara yang sama. “Trus, batas kontraknya tinggal berapa lama lagi?” tanya Viona. “Mmmm... sekitar satu tahun lebih beberapa bulan,” jawabku sambil mengingat kapan pertama kali aku membuat kontrak dengan laki-laki itu. “Lumayan lama ya?”  “Ya, gitu deh.” “Trus, kita digantung dalam kurun waktu segitu lamanya, pasti enggak enak.” Viona bisa merasakan peran yang sedang aku jalani. “Benar banget. Karena itu, aku menunggu penjelasan dari laki-laki itu,” kataku mulai meluapkan rasa kekesalanku ini. “Mmmmm... jangan bilang... kamu jatuh cinta sama Bos Andrew?”  “Deg.” Lagi-lagi, dia bisa menebak sesuatu yang aku sendiri masih ragu untuk mengakuinya. “Kata siapa?” Aku berusaha mengelak apa yang Viona pikirkan. “Ya, keliatan kali. Kamu pasti cemburu kan melihat semua perempuan yang ada di samping Bos?” tanyanya lagi. Kok, jadi dia yang mancing diriku ya? Bukannya, seharusnya aku yang mengorek informasi dari gadis ini? “Udah ah, kamu jangan bahas itu. Aku... aku enggak ada perasaan apa-apa sama Bos Andrew,” jelasku sambil menghindari tatapan matanya. “Mmmm... meski, bos itu selalu berganti-ganti perempuan yang ada di sampingnya?” gayanya bicara, sama persis seperti Farale. Dia suka sekali memancing emosi seseorang. Ingin sekali, aku langsung menanggapinya dengan seribu pertanyaan lainnya.  Kenapa dia bisa tahu kalau Andrew suka ganti-ganti perempuan? Kapan dia melihat Andrew selalu bersama dengan perempuan-perempuan itu? Siapa aja perempuan yang bersama Andrew? Ngapain aja Andrew dengan mereka? Sampai pertanyaan yang akhirnya, aku akan membenarkan perasaan di mana saat aku melihat dua hari ini Andrew selalu keluar dengan perempuan yang berbeda. “Kenapa diam?” tanyanya, karena aku memang tidak menjawab apa yang ditanya oleh gadis mungil ini. “Ya, aku mau jawab apa?” Aku malah balik bertanya kepadanya. “Ya, bilang aja. Kalau kamu suka sama dia,” jawabnya. Dia bisa dengan mudah mengatakannya, karena dia memang tidak berada di posisiku. “Emangnya semudah itu?” gerutuku. “Ternyata benar kan? Kalau kamu memang suka sama Bos Andrew?” tebaknya lagi. “Apaan sih.” Mukaku mendadak menjadi sangat panas. Aku yakin, warna wajahku terlihat sedikit memerah. “Mmmm... aku sebenarnya senang, kalau kamu suka sama Bos Andrew. Karena, aku yakin kamu bisa merubah sifat bos yang dingin itu.” Kali ini, Viona mengatakannya sambil sedikit murung. “Kenapa kamu bisa seyakin itu?” Aku bingung dengan perubahan reaksi dari gadis yang sejak tadi terlihat semangat. “Mmmm... aku pernah tidak sengaja memergoki Bos Andrew yang sedang senyum-senyum sendiri sambil melihat sesuatu. Namun tiba-tiba saja, wajahnya berubah menjadi sedih,” jawabnya. Aku pun hanya diam mendengar ucapannya itu, dan terus mendengar apa yang masih ingin dia katakan. “Awalnya, aku bingung apa yang bisa membuat bos seperti itu. Tapi, sekarang aku paham. Pasti yang bos liat saat itu adalah foto kamu,” lanjut Viona. “Ah, itu mana mungkin.” Aku tidak mau terlalu berbesar hati karenanya. Walau terus terang, aku juga senang mendengarnya. Namun, bayangan Andrew dengan perempuan itu pun kembali memecahkan kebahagianku yang sesaat ini. Aku yang serasa sudah berada di langit, tiba-tiba harus jatuh ke bumi dengan sangat kencangnya. “Kamu kan tahu sendiri. Andrew punya banyak perempuan. Enggak mungkin, kalau yang dia liat itu foto aku. Bisa saja, itu foto salah satu dari mereka.” Aku langsung membantah semua yang dia ucapkan. “Tapi, mereka itu hanya pasangan sesaat bos Andrew,” lanjut Viona. “Maksudnya?” “Iya. Mereka itu hanya menjadi pasangan satu harinya bos Andrew. Dan Bos juga tidak pernah merasakan perasaan apa-apa sama mereka,” jelas Viona. “Pasangan satu hari?” Aku semakin terkejut mendengarnya. Pikiranku semakin kacau saat mendengar semua ucapan Viona ini. Jika Andrew memang mempunyai pasangan satu hari. Jadi, sudah berapa banyak perempuan yang bermalam dengan Andrew. Apakah dua orang yang kemarin aku lihat itu, memang salah satunya. Mengapa, dia harus seperti itu? “Iya... Bos Andrew itu... dia....” “Dreeettt... dreettt....” Belum saja, Viona selesai mengatakannya. Tiba-tiba, handphone-nya itu bergetar. “Tunggu bentar ya.” Dia pun lebih memilih langsung mengangkat telepon yang masuk tersebut. Jika dilihat dari reaksinya, sepertinya yang menelepon memang orang yang sangat penting. “Ya, Bos.” “Deg.” Aku langsung terkejut dengan panggilan yang dia sebutkan pada orang yang ada di balik telepon itu. “Andrew?” gumamku. “Ya, baik bos. Siap, bos tenang saja.” “Satu perempuan kan?” “Jam berapa bos?” Aku terus mencuri dengar apa yang sedang Viona katakan dengan orang itu. Dari cara dia berbicara, sepertinya perempuan inilah yang mencarikan semua perempuan satu hari untuk Andrew. Bahkan, dia terdengar sangat santai saat menanyakan semua itu. Berarti, ini bukan pertama kalinya pertanyaan yang dia lempar ke orang yang di seberang sana. Tapi... mengapa? “Ya, Bos. Siap.” Itu kata terakhir, sebelum Viona menutup teleponnya. Aku pun langsung pura-pura melihat ke arah kapan layar yang berada di atas perairan yang luas ini. Meski jaraknya jauh, aku tetap pura-pura fokus untuk melihatnya. “Mmmm... sepertinya kamu sibuk ya?” Aku pun langsung bertanya kepada Viona. “Sudahlah. Enggak usah pura-pura. Kamu dengar semua kan?”  Lagi-lagi, dia bisa langsung mengambil kesimpulan dari sikapku ini. “Eee... mmm... maksudnya apa?” Tentu saja, aku salah tingkah karena sudah langsung kepergok oleh dirinya. “Kamu tahu kan, kalau yang menelpon ku tadi Bos Andrew,” lanjut Viona. Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Aku hanya menunduk, mengiyakan semua yang Viona katakan. “Ya, seperti yang kamu dengar. Bos Andrew meminta aku mencarikan satu perempuan buat dia malam ini,” jawabnya dengan sedih. Sepertinya, dia sendiri juga berat melakukan tugas yang diberikan bosnya itu. Tapi, dia tidak bisa berbuar apa-apa. Dia hanya bisa melakukan semua yang disuruh oleh atasannya itu. “Mmmm... kamu enggak usah carikan perempuan buat dia malam ini,” kataku dengan sangat jelas. “Maksudnya?” Viona bingung dengan yang aku katakan. “Biarkan aku yang menjadi perempuannya malam ini.” Meski ragu, namun aku menawarkan diri untuk melakukan hal yang tidak mungkin aku lakukan sebelumnya. Tetapi, aku harus mengambil resiko ini. Aku harus melihat dengan kepala sendiri, apa yang sudah Andrew lakukan dengan perempuan-perempuan itu. Meski ini terlarang. Namun, dengan terpaksa. Aku tetap ingin melakukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN