Bab 7

1063 Kata
Ting! Pintu lift terbuka. Dalam diam Freya mengikuti langkah CEO-nya. Sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan Freya sempat bertemu dengan Naomi yang akan memberikan hormat untuk atasannya. Tapi, detik selanjutnya perempuan penyuka berbaju ketat itu dikejutkan dengan sosok Freya yang mengekori langkah atasannya. "Jika ada tamu yang hendak bertemu saya tolong suruh tunggu saja," perintah David. "Baik Pak," jawab Naomi singkat. Tidak urung hatinya menebak-nebak alasan di balik perintah ini. Ada urusan apa sampai Freya dari divisi marketing dipanggil ke ruang CEO? Selanjutnya David membuka pintu ruangannya dan memberi isyarat kepada Freya untuk masuk ke dalam ruangannya. Freya yang tahu tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah CEO-nya melangkah masuk ke dalam ruangannya dan selanjutnya pintu pun tertutup rapat. Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya bagi Freya menginjakkan kakinya di ruang CEO. Ruangan yang sangat besar itu sangat mengagumkan. Tanpa sadar Freya terus mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan. Ia melihat jendela kaca yang besar memperlihatkan kemegahan Ibu Kota di luar sana. Di sisi jendela itu terdapat kursi dan meja kerja yang cukup besar dengan sebuah papan kaca bertuliskan CEO David Kertarajasa dan komputer terbaru di dekatnya. Di seberangnya terdapat sofa panjang abu-abu dan dua sofa single yang mengelilingi meja kaca berbentuk persegi panjang yang sepertinya disediakan untuk tamu. Foto ukuran besar sebuah pantai dihiasi batu karang di dua sisi berwarna hitam putih tergantung indah di atas sofa panjang. Seakan mampu menghipnotis siapa saja yang melihat foto itu seakan sedang berdiri di dalamnya. Sangat indah. Tapi, mengapa rasanya dia seperti pernah melihat pemandangan seperti ini? “Duduklah,” kata David membuka suara ketika dia terus menerus melihat Freya yang sedang memandang kagum pada foto pantai yang tergantung di dinding ruang kerjanya. Suara bariton itu berhasil menarik Freya dari pikirannya sendiri. “Ba-baik Pak.” Dasar bodoh! Bagaimana bisa dia melupakan sopan santun di hadapan atasannya? Sampai ia tidak menyadari entah sejak kapan David Kertarajasa sudah duduk bersandar di sofa single yang berada di dekat jendela dan pandangan matanya terarah lurus kepadanya. Dengan kikuk Freya menjatuhkan bokongnya ke sofa single di hadapan David. “Jadi, bagaimana kamu akan mengatasi masalah yang terjadi kepada Ibu Ningrum jika saya tidak datang tepat waktu?” tanya David dengan kedua alis terangkat. Freya memandang atasannya dua detik sebelum akhirnya membuka suaranya, “Saya hendak meminta waktu kepada beliau dan akan membicarakan masalah ini dengan Pak Dahlan. Karena bagaimana pun saya tidak bisa sembarangan mengambil keputusan.”  “Dan kamu akan tetap bertahan dengan keputusanmu itu meski kamu harus menanggung malu seperti itu?” David memajukan punggungnya. “Saya mengerti jika kamu akan bertahan. Hanya saja saya sebagai direktur di perusahaan ini tidak bisa menerima jika karyawan saya diperlakukan tidak sopan seperti itu. Jadi, saya harap kamu bisa mengambil keputusan yang lebih baik karena saya tidak mungkin menjadi malaikat penolongmu untuk yang kedua kalinya,” lanjutnya penuh penegasan. “Saya mengerti,” jawab Freya singkat. Padahal hati kecilnya berkata siapa juga yang saat itu meminta pertolongan. Dia punya caranya sendiri untuk menghadapi setiap konsumennya. Juga ini bukan pertama kalinya dia menerima cacian ataupun penolakan. Dua tahun bekerja sebagai marketing telah membuatnya memiliki mental kuat. Hanya saja Freya memang tidak pernah menyukai yang namanya menjadi pusat perhatian. “Bagus kalau kamu mengerti. Masalah Bagas biar Pak Dahlan yang mengurusinya. Untuk hari ini sebaiknya kamu pulang. Karena kamu tidak akan bekerja dengan kondisimu seperti itu, bukan?” “Ta-tapi saya…” “Saya tidak ingin menerima alasan apapun.” Freya memandang David dalam diam sebelum akhirnya mengangguk mengerti. “Kalau begitu saya undur diri. Permisi.” Namun, baru saja Freya bangkit berdiri dan memutar tubuhnya David kembali memanggil namanya. Lantas Freya memutar tubuhnya dan saat itulah dia menemukan pemandangan di mana David sedang membuka jas navy miliknya. Hal ini langsung membuat kedua mata Freya membesar. Apa yang sedang dilakukan oleh pria ini!? Setelah selesai melepaskan jasnya David melangkahkan kakinya mendekati tempat dimana Freya berdiri lalu menyodorkan jasnya itu ke udara. “Gunakan ini untuk menutupi pakaianmu yang ternoda itu.” “Ti-tidak perlu. Saya baik-baik saja,” tolak Freya sambil menggoyangkan kedua tangannya. “Saya tahu. Tapi mata saya yang tidak baik-baik saja,” jawab David dingin. Akhirnya Freya tak punya pilihan lain selain mengambil jas itu dan menggunakannya di depan direkturnya. Setelah selesai ia pun pamit undur diri. Sesampainya di luar Freya menarik napas panjang sampai membuat Naomi memandangnya dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Namun, sebelum Naomi melontarkan rasa ingin tahunya Freya sudah lebih dulu berjalan meninggalkan lantai itu.  Sesampainya di lift Freya menyandarkan dirinya ke dinding lift dan menarik napas panjang lagi. Bagaimana bisa teman-temannya memuji atasannya hanya karena ketampanannya? Padahal lihatlah bagaimana aslinya? Begitu dingin. Setiap perkataannya seperti duri yang menusuk hatinya. Begitu menyakitkan. Perlahan Freya memanang jas kebesaran yang dikenakannya. Meski dingin setidaknya masih ada kebaikan di dalam hatinya. Terutama setelah apa yang telah dilakukan pria itu untuk menolongnya. Tidak buruk sebagai seorang CEO. Hanya saja ucapan terakhirnya itu sedikit melukai hati Freya. Apakah dia tampak begitu buruk? Sebelum ia memasuki ruangannya, Freya menyempatkan diri mampir ke toilet. Ketika dia bercermin wajahnya tidak terlalu  mengerikan. Hanya saja make up tipis yang biasa dia aplikasikan ke wajahnya sudah hilang. Tapi ketika dia melihat blouse pink-nya yang terkena noda Lemon Tea, kedua mata Freya membesar. Pakaian dalamnya tercetak jelas di sana. Bibir Freya terbuka lebar. Memandang noda itu dengan pandangan tidak percaya. Jadi inilah alasan mengapa David Kertarajasa meminjamkan jas miliknya. Freya menutup kedua matanya untuk menutupi rasa malu. Pantas saja David Kertarajasa mengeluarkan kalimat terakhirnya seperti itu!  Di tempat lain, David sedang memandang foto pantai di seberang mejanya. Masih jelas di dalam ingatannya ketika dia mengambil foto itu dengan tangannya sendiri. Kamera tua milik ayahnya menjadi saksi keindahan alam itu. Perempuan itu tampak begitu ceria dan bahagia ketika untuk pertama kalinya melihat keindahan pantai sore itu. Bibirnya tak berhenti membentuk senyum. “Sepertinya kamu benar-benar sudah melupakanku, Freya…” gumamnya pada diri sendiri. “Sebesar itukah rasa benci yang kamu ciptakan sampai kamu lupa padaku?” Suara pesan masuk terdengar dari ponselnya yang berada di atas mejanya. David meraih ponselnya dan membaca pesan yang tertera pada layar. Kapan kamu pulang? – Sophie Sekarang. – David Kalau begitu aku akan menghangatkan makan malam. – Sophie Di dalam kesendiriannya David menyandarkan punggungnya dan memilih memejamkan kedua matanya sejenak. Saat itulah ingatan akan hari itu kembali terjadi. Ingatan dimana semua kenangan indah yang ia miliki bersama Freya berhenti hanya sampai di situ. Karena akhirnya Freya harus pergi meninggalkan dirinya. Seberapa besar usaha yang mereka lakukan, tidak bisa berhasil karena mereka terlalu muda untuk jatuh cinta dan bersama.  ***        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN