Bab 10

1288 Kata
Hari ini seluruh staff kantor disibukkan dengan persiapan acara ulang tahun David Kertarajasa yang ke tiga puluh tiga. Terbilang masih mudah bagi seorang CEO dengan beberapa anak perusahaan yang dipegangnya. Acara akan diselenggarakan besok malam. Sehingga beberapa staff dari setiap divisi diminta membantu mendekorasi ruangan yang akan digunakan sebagai acara perayaan ulang tahun David Kertarajasa. Karena hari ini waktu Freya sedikit longgar maka dia pun diminta Pak Dahlan untuk membantu. Ketika ia memasuki ruangan, pandangan matanya menemukan beberapa staff dari divisi lain tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Mulai dari memompa balon, memasang banner sampai memasang pita. Freya mengedarkan pandangannya dan menemukan Robby sedang mengangkat sebuah pot putih besar dengan berbagai macam bunga menghalangi pemandangannya. Dengan sigap Freya berlari kecil dan membantu pria itu membawa pot itu bersamaan. “Thanks,” ucap Robby tulus setelah mereka berhasil meletakkan pot besar itu di pintu lain ruangan ini. “Your welcome,” jawab Freya dengan senyum lebar di bibirnya. “Mengapa kamu bisa berada di sini?” tanya Robby heran. “Karena hanya aku yang menganggur hari ini,” bisiknya. “Ah begitu. Sama denganku kalau begitu,” jawab Robby. “Mana mungkin kamu yang seorang manager menganggur,” kilah Freya tidak percaya. Alhasil Robby terkekeh dibuatnya. “Kamu terlalu tahu banyak. Aku hanya ingin membantu di sini sebentar. Nanti aku akan kembali pada pekerjaanku yang setumpuk. Aku jamin mereka pasti merindukanku.” “Kalau begitu aku akan dengan senang hati membantu. Dua orang lebih baik dari pada satu tangan bukan?” Mereka pun akhirnya bekerja sama sampai tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Sore hari Robby harus pamit lebih dulu karena ada pekerjaan yang harus dikerjakannya. Seiring berjalannya waktu satu persatu dari mereka yang berada di ruangan itu pamit undur diri karena jam kerja pun telah berakhir. Tapi tidak dengan Freya. Kebetulan dia tidak memiliki pekerjaan untuk dilakukan di rumahnya. Maka, ia pun memutuskan untuk lembur. Ketika ia merasa bahunya mulai sakit Freya memutuskan untuk pulang, tapi ketika ia hendak melangkah keluar ruangan. Diedarkan pandangan matanya sekali lagi ke seluruh ruangan yang mulai tampak indah. Namun, ketika ia memandang banner yang berada di depan sana, Freya menyadari jika banner itu sedikit miring. Maka ia pun memutuskan untuk memperbaiki posisi banner tersebut. Diambilnya tangga lipat yang berada tak jauh dari banner dan memasangnya. Setelah itu dia mulai menaiki tangga dan melepas sisi ujung kanan banner dan menaikkan posisinya. Butuh beberapa menit baginya untuk menyelesaikan pekerjaan itu hingga berhasil. Siapa sangka ketika sedang menuruni tangga kitten heels miliknya terselip hingga membuat Freya kehilangan keseimbangan tubuhnya. Dengan mata terpejam Freya bersiap untuk merasakan sakit ketika tubuhnya melayang jatuh ke lantai. Hanya saja ketika beberapa detik telah berlalu, mengapa ia tidak merasakan sakit? Perlahan dibuka kedua matanya dan saat itulah dia menemukan sepasang wajah tampan sedang memandang wajahnya. Kedua tangannya yang kokoh menopang tubuhnya kuat-kuat. Freya memandang wajah David Kertaraja dalam diam. Entah mengapa ketika melihat wajah itu ia merasa terhipnotis. Begitu juga dengan David. Berapa lama baginya menahan perasaannya terhadap perempuan ini? Tiba-tiba suasana di sekitar mereka seakan membeku. Waktu yang berjalan dalam seketika berhenti berdetik. Menyisakan dua insan manusia yang sedang saling memandang untuk memuaskan dahaga mereka yang telah lama mencari oase yang tak kunjung datang.  Manik cokelat yang tenang seperti permukaan danau di malam hari. Di mana rasanya Freya pernah melihatnya? Mengapa jantungnya bereaksi berlebihan? Ting! Bunyi notifikasi ponsel milik David berhasil menyadarkan mereka dari pandangan intens yang terjadi di antara mereka. “Kamu baik-baik saja?” tanya David membuka suara. “Um.. ya. Saya baik-baik saja,” jawab Freya gugup. Perlahan David mengendurkan pelukannya membantu Freya berdiri. Sikap David sukses membuat Freya merasa tidak nyaman. Bagaimanapun David adalah CEO perusahaannya sedangkan dirinya hanyalah seorang staff biasa. “Terima kasih,” imbuhnya. “Lain kali berhati-hatilah. Saya tidak mau ada karyawan saya yang terluka akibat perusahaan ini,” kata David mengingatkan. Meski ucapannya pelan, entah mengapa setiap kata yang keluar dari bibir pria ini selalu berhasil menusuk hatinya. Rasanya Freya dapat merasakan kebencian yang diberikan pria itu kepadanya. Hanya saja apa alasan di balik sikap dingin David Kertarajasa kepadanya? Hanya saja apa alasan di balik sikap dingin David Kertarajasa kepadanya? Apa salahnya? “Baik Pak.” Setelah itu David memandang wajah Freya sejenak sebelum akhirnya memutar tubuhnya dan hendak melangkah keluar dari pintu keluar. Ingatannya kembali melayang ketika ia hendak mengecek persiapan acara besok malam. Siapa sangka jika Freya masih berada di dalam ruangan itu seorang diri? Entah sudah berapa lama David memperhatikan gerak-gerik Freya dari pintu keluar yang jaraknya tidak jauh dari tempat Freya. Mulai dari menaiki tangga hingga perempuan itu hendak jatuh. Dengan sigap David berlari secepat mungkin dan untunglah Freya jatuh tepat ke dalam pelukannya. Tak ingin hal yang buruk kembali menimpa perempuan itu David memutar tubuhnya dan berkata, “Di luar sudah larut malam. Sebaiknya kamu pulang bersama saya.” Freya yang masih berdiri di tempatnya tampak terkejut dan dengan cepat menjawab, “Ti-tidak usah, Pak. Saya pulang sendiri saja.” “Ini perintah.” Jika David sudah mengeluarkan kalimat titahnya bak seorang raja, masih dapatkah Freya menolaknya? Lebih baik menurut daripada besok harus menyerahkan surat pengunduran diri bukan? Di dalam keheningan mobil dan langit yang gelap Freya duduk tepat di sebelah David. Malam ini pria itu memang memerintahkan supir pribadinya untuk pulang lebih dulu karena kemungkinan dia lembur akan terjadi. Sehingga malam ini dia-lah yang menyetir.  “Di mana rumahmu?” tanya David memecah keheningan. Freya menyebutkan alamat rumahnya. “Antarkan saya sampai halte di depan saja. Nanti biar saya naik bis.” Tapi David tidak menjawab ataupun menghentikan mobilnya. Pria itu tetap menyetir seakan Freya tak kasat mata. Hal ini membuat Freya untuk diam dan pasrah. Sehingga keheningan kembali muncul di antara mereka. Freya memutuskan untuk memandang keluar jendela kaca. Menikmati keindahan malam ibu kota yang dipenuhi dengan gemerlap lampu gedung-gedung yang memperlihatkan kemegahannya. “Freya…” panggil David pelan. “Ya, Pak?” sahut Freya. “Kamu.. tidak ingat saya?” tanya David seraya menoleh ke arah Freya beberapa detik sebelum kembali fokus memandang jalan raya. Kening Freya menyatu. “Maksud Bapak?” “Kamu tidak mengenali saya sama sekali?” “Saya tidak mengerti ucapan Bapak.” Tiba-tiba David membanting setirnya dan berhenti di tepi jalan. Ia memiringkan kepalanya untuk memandang Freya yang tampak terkejut dengan sikapnya ini. “Ini aku, Freya…” Dahi Freya yang menyatu semakin dalam. Sungguh ia tidak mengerti dengan ucapan CEO-nya yang tiba-tiba berubah menjadi tidak formal. Tanpa diduga David memegang kedua sisi lengannya dan memandang Freya dengan frustasi. “Ini aku, Freya. David-mu.” “Pak… jangan begini, saya…” “Selamanya bersama. Hanya kamu dan aku. Karena meski jarak memisahkan hati ini akan tetap bersama. Apa kamu ingat?” Selamanya bersama…. “Ugh… sakit,” keluh Freya sambil menahan sakit di kepalanya. “Sakit? Apakah aku menyakitimu?” Perlahan David mengendurkan cengkeramannya. Selamanya bersama… Hati ini akan tetap bersama… Karena kamu adalah David-ku… Kilatan bayangan akan seorang pria yang selama ini selalu muncul di dalam mimpinya perlahan terlihat jelas dan semakin jelas hingga akhirnya Freya mampu melihat wajah itu dengan baik. Saat itulah wajah David tepat berada di depannya. Tersenyum kepadanya. “Freya aku mencintaimu,” ucapnya bahagia. “David…?” bisiknya. “Kak David?” ulangnya diiringi sebulir kristal bening di atas pipinya yang perlahan jatuh. “Iya Freya! Ini aku, David-mu.” “Kak David!” Tanpa mampu menahan perasaannya lagi, David memeluk Freya dengan sangat erat. Akhirnya perempuan yang ia cintai bisa berada di dalam pelukannya lagi seperti mimpinya selama ini. Hanya saja kali ini bukan mimpi. Melainkan kenyataan. Kenyataan yang membuat David lupa akan ponselnya yang terus bergetar karena panggilan Sophie yang sedang mengkhawatirkan dirinya jauh di rumah. ***              
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN