''Gusti iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan. Gusti itu dekat namun tak bersentuhan, ada namun tak bisa dijangkau akal," kata mbah Cokro Wibowo. Duduk di tanah dengan santai menghisap rokok dengan cerutu balung. Mengobrol ngalir seperti dua orang sahabat yang baru berjumpa setelah sekian lama terpisahkan. "Itu orang siapa? Kok tampilannya kayak gitu. Awut-awutan kayak orang jalanan." Sita berbicara sambil mendongak ke arah mbah Cokro. Dengan tatapan sinis dan senyuman meremehkan. "Sita ... jangan menghina seperti itu. Dia bukan orang sembarangan, hati kamu ngmonya," kata Risma. Memegang pergelangan tangan Sita dan menatap bola matanya dengan tatapan tajam. "Aduh, lepaskan. Kamu jangan ketularan gendeng deh." Sita cemberut dan marah sambil melepaskan tangannya yang dipega

