Furqon melepaskan tautan bibir keduanya saat Ana mulai kehabisan napas. Ustaz tampan itu tersenyum sembari mengusap bibir istri piyiknya yang telah basah akibat aksi spontannya. "Kamu jangan suka memancing aku, Ana. Tahu sendiri akibatnya, bukan? Bagaimana, apa masih mau lanjut?" tanya Furqon saat melihat Ana masih mengatur napasnya yang tersengal. "Mas, ini kan masih siang. Masak iya mau begituan," balas Ana sembari memalingkan pandangan. Entah kenapa jantungnya selalu berdebar jika saling bertatap dengan ustaz tampan itu. "Kalau suami menginginkan, kapan pun dan di mana pun kamu tidak boleh menolak, Ana. Bahkan Rasulullah juga pernah bersabda, meskipun seorang istri sedang berada di atas onta, jika suaminya menginginkan maka dia harus mengabulkan." "Benar begitu hadisnya, Mas? Kamu g

