Ana terdiam saat merasakan bibir Furqon yang dingin dan kenyal menyesap lembut bibirnya. Jantung gadis itu seolah ingin berhenti berdetak mendapatkan perlakuan yang sedemikian dari sang suami. Untuk beberapa detik, keduanya menikmati pagutan itu. Namun, Ana segera tersadar dan melepaskan tautan bibir mereka, lalu berusaha melepaskan diri dari tangan Furqon.
"Ustaz, aku ingin kita bercerai. Kenapa Ustaz malah menciumku?" tanya Ana marah. Tangannya berulang kali mengusap bibirnya yang telah basah akibat ciuman panas Furqon.
"Jadi, kamu masih ingin kita bercerai?"
"Iya."
"Baiklah, kamu yang memaksaku, Ana." Furqon mendorong tubuh Ana hingga terlentang di atas ranjang, lalu mengukungnya.
"Ustaz mau ngapain? Kenapa Ustaz suka sekali berbuat m***m padaku?" tanya Ana sembari menghindari tatapan nakal dari suaminya.
"Karena kamu istri aku, Ana. Aku tidak mungkin berbuat m***m pada wanita selain istriku, bukan?"
"T-tapi, aku ingin kita bercerai."
"Aku sudah menikahimu, Ana. Tidak mungkin aku menceraikanmu sebelum merasakan madumu."
"M-maksud Ustaz apa?" tanya Ana gugup saat merasakan tangan Furqon sudah bergerilya membuka penutup kepalanya. Kedua tangan Ustaz tampan itu lalu menahan kedua tangan Ana yang saat ini berada di bawah kungkungannya.
"Ustaz, jangaaan," ucap Ana bercampur dengan suara desahan saat leher jenjangnya menjadi sasaran ciuman Furqon. Namun, ustaz tamapan itu tidak memerdulikan ucapan Ana, bahkan ciumannya semakin turun dan berhenti di d**a gadis itu tepat di atas bukit kembar milik Ana yang tegak menantang, tetapi masih tertutup baju atasan.
"Ustaz, jangan. A-aku belum siap," mohon Ana. Tanpa sadar kristal bening mengalir dari kedua sudut matanya. Furqon terdiam sembari menahan hasrat yang sudah di ujung tanduk. Sudah lima tahun berlalu, dia tidak pernah merasakan manisnya surga dunia, kini saat semua yang sudah halal ada di depan mata, ustaz tampan itu harus menghentikannya. Melihat air mata Ana, mana mungkin dia tega.
"Aku janji tidak akan minta cerai lagi, Ustaz. T-tapi tolong jangan sekarang. Aku belum siap." Kembali Ana memohon. Tidak dapat dipungkiri kalau sebenarnya dia juga menikmati sentuhan Furqon. Wanita mana yang tidak ingin diperlakukan demikian oleh pria setampan Furqon. Namun, Ana merasa belum siap.
Perlahan, Furqon mengendurkan tangannya dan melepaskan Ana dari kungkungannya. Lelaki itu terdengar beristighfar lirih. Sebagai lelaki normal yang sudah lama tidak menyentuh wanita, tentu saja hasratnya sudah meningkat di level yang tinggi. Bahkan junior kecil di bawah sana sudah sangat bereaksi untuk meminta pelampiasan. Namun, putra Kiai Iskandar itu sadar kalau dari awal dia hanya berniat membuat Ana jera. Tentu dia tidak ingin Ana melaksanakan ibadah suami istri tanpa rasa cinta dan dengan keterpaksaan.
"Ana, aku suamimu. Aku akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah kelak di akhirat terhadap apa yang kamu lakukan. Aku hanya tidak ingin kamu salah jalan. Maaf, kalau caraku menuntunmu membuat tidak nyaman. Meskipun sebenarnya aku juga tidak menginginkan pernikahan ini, tetapi aku sama sekali tidak berniat menjadikannya permainan," ucap Furqon sembari duduk di tepi ranjang membelakangi Ana.
Ana masih terdiam membeku. Semua yang diucapkan suaminya benar adanya. Benar, Furqon tidak jadi melakukannya seperti apa yang dia minta, tetapi mengapa rasanya seperti ada yang kurang? Benarkah dia menikmati sentuhan-sentuhan lelaki itu?
Ana merasa akan selamanya terjebak dalam situasi ini. Kalau memang dirinya tidak boleh meminta Furqon menceraikannya, maka dia akan membuat Ustaz kutub itu sendiri yang akan mengucapkan kata talak kepadanya. Namun, untuk saat ini, gadis itu belum menemukan caranya.
"Ingat, Ana. Kalau kamu tidak patuh padaku, maka aku tidak akan segan-segan melaksanakan tugasku sebagai suami. Jadi, tolong jangan membuatku memaksamu melakukannya," ucap Furqon sebelum beranjak dari ranjang. Sementara Ana masih terdiam.
"Sekarang bersiaplah untuk kuliah, karena mulai hari ini akulah yang akan mengantarmu ke kampus," ucap Furqon membuat Ana sontak menoleh ke arahnya.
"Apa? Apa Ustaz tidak mengajar? Biar Pak Agus saja yang mengantarku kuliah," tolak Ana.
"Aku suamimu dan sekarang aku yang bertanggung jawab atas dirimu."
"Tapi, Ustaz--"
"Oiya, satu lagi. Aku sekarang suamimu. Panggil aku Mas."
"Ustaz aku--"
"Panggil aku Mas atau aku cium lagi. Mau, hmm?"
"I-iya, Ustaz. Eh, maksudku Mas."
"Ya sudah kamu mandi dan bersiap kuliah. Aku mau mengontrol apel pagi. Soal gosip yang beredar di pesantren, kamu gak usah khawatir karena nanti malam aku akan meluruskan semua." Setelah berkata demikian, Furqon melangkah keluar kamar.
"Sebenarnya kanebo kering dari kutub itu baik juga. Tapi aku gak bisa terus bersamanya. Dunia kami berbeda. Aku harus mikirin jalan agar bisa lepas dari semua ini sebelum pesta penikahan," ucap Ana bermonolog. Gadis itu kemudian mandi dan bersiap ke kampus.
Ana duduk di samping kemudi dengan muka masam. Berkali-kali gadis itu melirik wajah Furqon yang tampak datar dan fokus menyetir. Gadis itu malas memulai obrolan dan membiarkan suasana dalam mobil hening hingga kendaraan roda empat itu tiba di depan kampus Ana.
"Ustaz, eh ... maksudku Mas. Nanti aku pulang kuliah jam--"
"Satu siang. Aku sudah punya jadwal kamu Ana. Jadi, jangan khawatir. Insya Allah sebelum jam satu, aku sudah di sini," kata Furqon memotong ucapan Ana. Gadis itu hanya bisa melongo mendengar jawaban suaminya.
"Kalau begini caranya mana bisa aku hangout sama teman-teman? Dasar menyebalkan. Apa aku bolos saja, ya?" pikir Ana dalam hati sembari membuka pintu mobil.
"Ingat, Ana. Jangan sampai kamu bolos kuliah. Kamu harus ingat, aku bisa menghukum kamu jika kamu tidak patuh," ancam Furqon membuat Ana terhenyak. Apakah manusia kutub ini bisa membaca pikirannya?
"Iya, iyaa. Dikit-dikit ngancem," balas Ana sebal. Gadis itu menggembungkan kedua pipinya karena kesal, lalu beranjak keluar.
"Tunggu, Ana!" cegah Furqon membuat gadis itu menoleh. Ustaz tampan itu mengulurkan tangannya dan dengan muka masam Ana menjabat dan mencium punggung tangan lelaki itu.
"Belajar yang benar dan jangan kecewakan Papi kamu," pesan Furqon yang hanya dibalas anggukan oleh Ana. Mobil Toyota Alpard putih yang dikendarai Furqon kemudian melesat meninggalkan area kampus. Sementara Ana melangkah memasuki gerbang utama kampus. Tak berapa lama dua gadis sudah menyambut kedatangannya. Mereka adalah Candy dan Sherly, teman kuliah sekaligus teman nongkrong Ana.
"Itu tadi siapa yang nganter lo, Ana?" tanya Sherly masih penasaran.
"Ustaz gue di pesantren."
"Ustaz lo? Kok bisa lo dianter ustaz? Emang dia ustaz merangkap sopir, ya. Terus kenapa lo duduknya di depan?" tanya Sherly lagi.
"Udah itu kita bahas nanti. Sekarang kita ke kantin aja," balas Ana kesal. Gadis itu tak tahu bagaimana cara menceritakan pernikahannya dengan Furqon kepada dua sahabatnya.
"Eh badeway, ustaz lo ganteng juga, ya. Gue juga mau lho diajari ngaji sama dia," ucap Candy saat ketiganya sudah sampai di kantin. Ana langsung menatap sahabatnya itu tajam. Entah kenapa ada perasaan tidak rela jika Candy mengagumi Furqon.
"Gue males kalau kalian terus bahas ustaz gue," ucap Ana marah.
"Iya deh, kita ganti obrolan aja. Eh lo udah dua malem gak ke klub. Gak bisa melarikan diri, ya?" tanya Sherly sembari memesan minuman.
"Itulah, gue kayak di penjara."
"Bagaimana kalau kita bolos hari ini?" tawar Candy. Belum Ana menjawab, dua pemuda tampan datang menghampiri ketiga sahabat itu.
"Hai, Ana. Boleh kita gabung?" tanya salah satu pemuda tampan yang tidak lain adalah Dewa. Ana hanya mengangguk, lalu Dewa dan satu temannya yang bernama Sultan bergabung dengan tiga cewek itu.
"Lama kita gak nongkrong bareng, gue punya rekomendasi tempat yang bagus," ucap Dewa setelah duduk.
"Di mana, Wa? Bagaimana kalau weekend kita ke sana?" tanya Candy senang. Kapan lagi mereka bisa pergi bersama dua pemuda tampan yang menjadi idola para mahasiswi di kampus itu.
"Di pinggir kota. Ana bisa ikut, kan?" tanya Dewa penuh harap.
"Kalau weekend gue gak bisa, Wa," jawab Ana. Tentu saja dia tidak akan bisa keluar pesanttren kalau tidak ada acara kuliah.
"Kalau gitu kita ke sana sekarang aja, kita bolos, bagaimana?" usul Sherly.
"Setuju," sahut Dewa senang. Namun, Ana tampak diam berpikir.
"Kalau kanebo kering dari kutub itu tahu gue bolos kuliah, kira-kira apa yang akan dia dilakukan, ya?" batin Ana gusar. Namun, tiba-tiba gadis itu tersenyum.
"Baiklah, kita bolos hari ini," putus Ana disambut gembira oleh empat temannya. Mereka pun akhirnya pergi menggunakan mebil Ferarri merah milik Dewa menuju suatu tempat yang dibilang bagus oleh Dewa.
Duh, Ana ... siap-siap kamu kena marah Pak Ustaz.