"Tempat apa ini sebenarnya?” Banyak keanehan-keanehan yang Venia temukan. Semalam suntuk ia tidak tidur dengan benar terus saja berkedip di tengah keheningan malam berbaring di atas tempat tidur beralaskan merah yang sama sekali tidak nyaman bagimya itu. Sehingga tak terasa hari sudah memasuki siang hari. Ah, atau mungkin masih malam? Mau siang atau malam ia rasanya tidak ada bedanya. sebab dalam ruangan itu mengandalkan penerangan cahaya lampu. Venia benci gelap, ia juga tidak menyukai warna merah ia benci apa yang ada di dalam rumah ini. Benar-benar hampir gila rasanya. “Venia.” Venia yang sedang memeluk lulutnya sambil menjambak rambutnya sendiri itu mengangkat wajahnya saat mendengar Senna yang kini berpenamilan pakaian rapi rok span selututi padu dengan kemeja putih seda

