Bab 16

1112 Kata
"Ning Ambar lebih pantas daripadanya Ning Maira." "Iya, saya juga dengar rumor itu. Tapi masa sih? Jadi selama ini Ning Maira itu ada kelainan dalam memandang cinta?" "Allahualam, tapi keliatannya sih gitu." "Tau darimana?" "Sopia, dia yang katanya udah lihat langsung kemesraan dari Ning Maira sama orang yang jenisnya sama." "Astagfirullahalazhim." Santer terdengar bisikan tidak mengenakan. Umi yang memang punya jadwal kunjungan santri rutin, tidak sengaja mendengar para santri berbisik. Wanita tua baya itu menghela nafas, dan berusaha untuk tetap sabar. Mengingat apa yang menjadi objek pembicaraan mereka adalah sang menantu. Baru beberapa hari menikah, menantunya sudah dapat kabar burung. Apalagi hal itu menyangkut sebuah permasalahan yang fatal dan tidak main-main. "Ekhem." "Assalamu'alaikum," ucap Umi ditemani salah seorang santri yang memang menjadi ketua asrama. "Waalaikumussalam," balas mereka. Karena menyadari ada keberadaan umi di sini, mereka segera menundukkan kepalanya. Berharap apa yang tadi mereka katakan tidak sampai ke telinga umi. Sementara itu wanita tua baya yang kini menatap dengan tegas ke arah mereka, hanya diam sembari mengamati gerak-gerik mereka. Hal itu lantas membuat para santri bertanya-tanya. Apa ada yang ingin disampaikan oleh umi kepada mereka? "Umi lihat asramanya sudah cantik, orang-orang yang didalamnya pun cantik. Tapi alangkah baiknya lisannya juga dijaga ya cantik, jangan asal menghakimi seseorang sebelum mengetahui kejadian sebenarnya," ucap Umi dengan suara yang sangat lembut. Mereka menunduk lebih dalam, dan salah satu diantara mereka mengatakan maaf. Hal itu membuat Umi kembali menarik kedua sudut bibirnya ke atas. "Minta maaflah pada orang yang sedang kamu gibahkan." Sepulang Umi dari asrama, beliau mengeluhkan hari ini kepada Abah. Namun tentu saja tanpa diketahui oleh Maira dan juga Renjuna. Selama yang Umi lihat, tidak ada hal aneh dari Maira. Justru baik-baik saja untuk Maira, namun kenapa orang-orang bisa salah paham dan justru menggibah. "Sudah umi, sabar. Biarkan orang berkata apa tentang keluarga kita, karena sesungguhnya mereka tidak dua puluh empat jam bersama dengan kita," ucap Abah seraya mengelus punggung Umi. Wanita tua baya itu berdecak sebal. Kalau diingat-ingat lagi fitnah mereka sungguh kejam. Umi harus mengajak Renjuna diskusi tentang ini. Sementara itu Abah seperti hendak membicarakan sesuatu dengan Umi, namun dia menanti kemarahan Umi mereda dulu. Baru Abah mau bicara, Umi lebih dulu mengambil alih dan bertanya kepada Abah. "Bah, itu beneran Papanya Maira yang beli sawah di samping sawah kita?" "Iya." "Atas nama Renjuna." "Hah?" Umi mengernyitkan dahinya pelan, kenapa bisa atas nama Renjuna. Maira tidak dibelikan atau memang sebagai hadiah? "Abah juga gak tau, coba nanti tanya Renjuna lebih lanjut. Maira juga punya, tapi itu kebun teh yang ada du atas." "Masya Allah, Papanya Maira baik banget bah." "Alhamdulillah, Allah memberikan rejeki yang berlimpah. Papanya Maira juga gak pernah lupa berbagi." Namun Umi masih tetap penasaran kenapa Papanya Maira mau memberikan Renjuna tanah seluas itu. Abah hendak menjawab namun orang yang tengah mereka bicarakan baru saja pulang. Renjuna lebih dulu saliman kepada kedua orangtuanya, sebelum ke dalam mencari keberadaan Maira. Begitu sadar tidak menemukan Maira, Renjuna mengernyitkan dahinya. Dia tidak terlihat khawatir, hanya terlihat keheranan. "Umi, Abah, Maira kemana?" "Maira gak ada di dalam?" Tanya Umi keheranan. Masalahnya dia juga baru tau, dan Umi takut bukan main kalau Maira tau sekarang dia menjadi bahan pergibahan. "Iya, dia izin sama Abah ke rumah keluarganya. Dia pergi sama Titin kok, soalnya Maira juga udah bilang kalau Papanya itu menyuruh Maira sesekali datang ke rumah keluarganya untuk sekedar mengecek keadaan rumah." "Kok dia tidak ada bilang pada Renjuna ya, Abah?" Pria tua baya itu menggeleng, tadi juga Maira terlihat terburu. Mendengar penjelasan Abah, Umi akhirnya bisa bernafas dengan lega. Dia kemudian menarik Renjuna untuk duduk bersama. Karena ada yang ingin dia sampaikan tentang sesuatu yang di dengar tadi. "Renjuna, duduk dulu." *** Maira pulang cukup larut, lebih tepatnya sebelum salat Maghrib, beruntung saat itu Renjuna belum pergi ke masjid dan bisa membantu Maira membawa peralatan lukisnya ke dalam. Hanya saja sekarang Maira mendapat kultum singkat dan juga teguran dari Renjuna. Karena pergi tanpa izin dari suami, mana ancamannya sekali lagi gak main-main. Renjuna dengan tatapan yang sedikit galak, menatap Maira yang kini hanya berdiri dengan ekspresi santainya. "Udah ngomelinnya?" "Maira saya gak ngomel, saya hanya memberi tahu apa yang benar." "Iya, iya, udah ya Pak Suami. Aku capek banget, tadi habis nyari anak-anak kesayangan aku disana. Ternyata orang yang aku suruh gak bisa. Sekalian aja pergi sambang rumah." Mendengar penjelasan Maira, Renjuna hanya mengangguk dan kembali berjalan menuju mobil istrinya dan mengambil beberapa kanvas besar. Sementara Maira membawa cat serta paletnya masuk. Umi sempat kaget melihat banyak lukisan masuk, mana lukisannya benar-benar bagus. Tidak lama setelah itu pelaku yang melukis lukisan tersebut datang dengan senyum ramah, dan hendak mencium punggung tangan mertuanya. "Masya Allah, cantik sekali lukisannya?" "Hehehe, buat umi kalau suka." "Kalau buat umi, ujung-ujungnya juga dipajang di sana," tunjuk Umi pada tembok kosong di dekat ruang tamu. "Yaudah, Pak su, minta tolong itu lukisannya pajang di sana ya," pinta Maira dengan senyum yang mengisyaratkan Renjuna harus mau. Padahal tanpa Maira suruhpun Renjuna akan melakukan hal itu lantaran umi sudah bilang. Tampaknya umi begitu terkejut mendengar panggilan Maira untuk Renjuna, dia segera bertanya pada Maira, kenapa panggilan untuk Renjuna seperti itu. "Oh itu umi, Pak Su artinya Pak Suami. Soalnya Titin bilang kalau Maira gak sopan cuma manggil nama." "Oalah, tapi gak mau dicoba ubah panggilannya? Sayang gitu, atau baby, atau honey?" Maira menahan untuk tidak tertawa, panggilan aneh macam apa itu? Maira menggeleng dengan cepat. Sebelum Renjuna datang dan mendengar usulan umi. "Lho kenapa, bagus kan? Padahal orang-orang yang menjalin hubungan harampun panggilannya seperti itu." "Hubungan haram itu apa umi?" "Pacaran." Setelah mengangkut barang-barangnya, barulah Maira merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menikmati perasaan yang tidak bisa dijelaskan ketika dia sudah bertemu dengan kasur. Tak lama setelah itu Renjuna masuk ke dalam dan mengingatkan Maira kalau waktu sudah masuk Maghrib dan Renjuna akan salat berjamaah di Masjid sekalian nanti isya, mengingat dia akan mengajarkan anak-anak mengaji. "Mau ikut ke masjid?" Tanya Renjuna. Maira segera menggeleng, bukannya dia malas ke sana. Hanya saja seluruh tubuh rasanya pegal semua, ini Maira mau bangun pasti krek krek bunyi pinggangnya. "Gak dulu, aku capek banget. Semoga habis maghrib gak ketiduran." "Kamu belum makan, nanti habis maghrib kamu makan dulu." "Dih darimana kamu tau aku belum makan? Aku udah makan kok sebelum kesini, tau warung sate di dekat gapura?" Renjuna menganggukkan kepalanya, "tau, ya udah kalau memang kamu sudah makan. Nanti habis isya kamu tidur." Maira menarik kedua sudut bibirnya tipis, "siap Pak su! Perhatian banget sih daritadi." Renjuna segera menggeleng, "saya cuma memberi tahu." Maira cuma cengengesan aja ngelihatin Renjuna yang berubah salah tingkah ketika Maira tersenyum lebar ke arahnya. "Ingat itu, istirahat habis maghrib." "Eh kok Maghrib?" Tanya Maira. "Maksud saya Isya," koreksinya lagi. "Cie, salah tingkah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN