Bab 4

1014 Kata
"I-ini terlalu tiba-tiba." Hanya itu yang bisa Maira sampaikan sekarang. Tentu saja, dia bahkan ingin kabur sekarang. Bagaimana bisa pria yang baru dia temui kemarin mengajaknya menikah. Gak ada waras-warasnya Maira rasa. Belum lagi pria yang dijuluki sebagai Gus Renjuna itu main tarik dan mereka belum saling mengenal satu sama lain. Yang duduk di sampingnya kini mengangguk, seakan paham dengan apa yang dirasakan oleh Maira. Bahkan Maira sekarang bingung harus berbuat apa? "Saya paham, saya akan menyerahkan keputusannya padamu." Ditemani oleh Titin, yang awalnya mereka bertiga bersama Umi. Kini hanya bertiga bersama Titin karena ada yang ingin disampaikan oleh Maira. "Maaf kalau saya melamar kamu tiba-tiba. Tapi saya serius dengan apa yang saya katakan kepada umi saya." Maira tampak ragu dan tidak enak, kemudian dia melirik Titin, meminta bantuan pada wanita itu namun wanita itu juga menggeleng, tidak tau harus membantu Maira dengan apa? Seakan mengerti pria itu kembali menganggukan kepalanya dengan pandangan menunduk. Sengaja menghindari pandangan Maira agar tidak terkena zina. "Saya tau kamu butuh waktu untuk memahami dan memberikan jawaban. Saya akan mengatakan pada umi dan abah nanti, kamu tenang saja." "Cukup tau kalau saya serius ingin meminang kamu menjadi pendamping hidup saya." Maira sebenarnya ingin memberikan bantahan, namun dia tidak yakin akan mengungkapkan hal itu sekarang. Posisinya sedang ada di rumah Gus Renjuna, dan Maira tidak ingin macam-macam. Maira mengangguk sebagai jawaban, setelah itu dia bangkit dan menarik Titin untuk keluar. Sempat juga dia bertemu dengan Umi, alias ibu dari Gus Renjuna. Karena Maira masih ingat sopan santun dia pamit setelah mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. "Eh kok buru-buru?" Maira hanya tersenyum, tidak tau harus membalas apa. Kemudian Gus Renjuna ikut mendekat dan membantu Maira lepas sebentar. Ketika keluar dari rumah tersebut, Maira langsung tancap gas keluar dari wilayah rumah itu. Maira masih menganggap apa yang baru saja dia dengar itu tidak akan terjadi. "Ini cuma mimpi kan?" "Bu-bukan Non." "Astaga! Titin, kamu juga kok bisa tiba-tiba ada tadi?" "Kan saya lari ke sini non, tadi juga disuruh Gus Renjuna buat pergi lebih dulu ke rumah." Titin juga menyampaikan ucapannya dengan serius. Dimana dia sama sekali tidak prepare ataupun diberikan pernyataan tentang Gus Renjuna yang melamar Maira. "Anjir! Ini gila banget, serius deh. Aku baru ketemu dia kemarin lho, itupun kesan pertamanya jelek." Titin mengendikan bahunya bingung, "sama non, Titin juga tadi sebenarnya kaget. Ternyata Gus Renjuna begitu serius ingin meminang Nona Maira." "Dia kesambet apa gimana?" "Kok bisa main ngajak nikah anak orang." Titin mengangguk setuju, namun kalau dipikir lagi Gus Renjuna adalah pribadi yang serius dan akan selalu menepati ucapannya. Sebenarnya Titin juga agak heran, kenapa Nona Maira yang notabenenya tomboi dipilih oleh Gus Renjuna. We never know? Bukan. "Tapi non, menyetujui lamaran Gus Renjuna bukan sesuatu yang salah. Apalagi Gus Renjuna memang terkenal akan kecerdasan dan keramahannya. Kemarin saya dengar dari teman di kampung sebelah, Gus Renjuna datang untuk memberikan tausiyah, tapi beliau tidak ingin dibayar." Maira mendadak terdiam namun setelahnya dia kembali bergidik ngeri, "masalahnya ya, aku gak suka yang model-model ustadz kamu tau sendiri kan, aku aja orangnya masih dijalan setan." "Astagfirullah non," ujar Titin yang langsung mengucap ketika mendengar apa kata majikannya. "Nah maka dari itu Allah ingin Nona kembali ke jalan yang benar, dengan Gus Renjuna misalnya?" "Jangan ngawur!" "Seperti kata kamu tadi, dia kan cerdas dan bahkan baru pulang dari mesir kan? Tapi kenapa mau sama orang modelan aku, harusnya dia menikah sama anak kiyai lainnya." "Tapi kalau memang Gus Renjuna maunya Nona, bukankah tidak ada alasan lagi dia buat memilih yang lain?" Maira tampak jengah dan terus membawa mobilnya sampai di rumah dengan kecepatan tinggi. Titin juga ikut, karena sekarang sepertinya dia harus kembali berkerja. "Saya permisi dulu non, mungkin Nona bisa mempertimbangkan lagi lamaran Gus Renjuna." Maira hanya diam. *** Maira berusaha memejamkan matanya, namun terasa begitu sulit. Dia segera berbalik atau mengubah posisi tidurnya sedaritadi, namun tetap tidak bisa. Pikiran dan hatinya masih jauh memikirkan lamaran tiba-tiba dari Gus Renjuna. "Tu orang juga edan banget, masa ngajak nikah orang yang baru dia kenal?" Maira masih tidak habis pikir, dan lagi sekarang Moodnya benar-benar hancur karena Gus Renjuna. Hal ini benar-benar membuatnya tidak habis pikir. "Karena lamaran kamu, aku jadi gak bisa tidur," gumamnya kesal. Namun setelah dia bangkit dan duduk bersandar pada kepala ranjang, hal yang pertama dia lihat adalah foto keluarga yang terpajang di atas televisi. Maira kembali memikirkan keluarganya. Rasanya gak guna punya rumah besar kalau yang tinggal sendiri di sini hanya Maira saja. Ketika Maira memikirkan lagi, ternyata hidupnya selalu dirundung kesepian. Maira tidak tau harus berbuat apa sebenarnya, namun memikirkan tentang keluarganya membuat Maira ada rasa menerima pinangan itu. "Kalau Maira nikah, pasti kalian akan dateng kan?" "Gak mungkin kalian gak dateng," tambah Maira seraya bergumam. "Ck, memang ya kayanya harus ada acara besar dulu baru kalian dateng!" Gerutu Maira. "Papa sibuk kerja, sementara Kakak-kakak kayanya udah gak ada yang peduli sama aku." Maira hanya tinggal sendiri, dia anak bungsu dari tiga bersaudara. Namun saudaranya juga tidak pernah datang untuk menemui Maira, mungkin hanya datang di hari besar seperti lebaran. "Coba waktu itu Mama masih hidup, mungkin kita gak akan terpecah belah begini." Mendadak hati Maira berubah emosional. Dia kesal, kenapa dia harus terus sendiri. Punya keluarga tidak berguna, mereka malah hidup masing-masing. Sepertinya Maira bisa memikirkan kembali tawaran Gus Renjuna. Mungkin dia bisa menikah agar tidak kesepian lagi di sini. Sementara itu disisi lain, ada Gus Renjuna yang baru selesai melaksanakan salat isya berjamaah di masjid dekat pesantren, dimana masjid itu juga digunakan para santri dan warga sekitar. "Assalamu'alaikum gus, saya jupri marbot masjid dari kampung sebelah, dengan segala hormat mengundang Gus Renjuna untuk mengisi tausiyah jelang bulan Ramadhan." Renjuna menarik kedua sudut bibirnya ke atas, "Maaf sekali ya pak, saya ada kegiatan sebelum puasa." Pak Jupri terlihat kecewa, "tidak masalah Gus, tapi kalau boleh tau gus Renjuna ada kegiatan dimana?" Suara kekehan kecil terdengar dari bibir Gus Renjuna, "Alhamdulillah, sebentar lagi, sebelum puasa saya akan menikah." Percayalah Gus Renjuna begitu yakin tentang lamarannya pada Maira. Baru malam itu Gus Renjuna memberikan spoiler, esok paginya satu kampung ribut membahas tentang calon Gus Renjuna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN