Kamar Rehan

958 Kata
"Ahhh" "Sshhh, cukup sayang, aku cap-- aahh" "Awh sayanghhh ssshh, faster sayaangghhh" "Erinaaaa kamu nikmati sekali mmhh" "Ssshh st-stop Rehhh" "Ahhhh Rehaaaan ahh ahh" "Reh--Rehaanhhh" "No sayaaang, aku belum selesai" Ucapnya sembari membalik tubuh istrinya menjadi menungging Tapi seperti ucapan Erina barusan, ia sudah tidak kuat mengimbangi tenaga Rehan, suaminya itu. Jika saja Reham Tidak menahan pinggulnya bisa dipastikan Erina sudah ambruk telungkup di kasur besar itu Desahan dan bunyi penyatuan sepasang suami istri itu terus memekakkan gendang telinga Ciara yang baru saja sampai pada puncak anak tangga mematung di tempat, saat suara wanita yang terus saja meminta ampun pada suaminya di dalam sana Seakan bulu kuduk Ciara berdiri dan meremang, bukan karena desahan wanita yang ia dengar tadi, melainkan suara laki-laki yang begitu berat. mendesah mengadu kenikmatan atas apa yang ia rasakan Ciara kenal suara itu, suara laki-laki yang sejak dulu ia kagumi dan ciara cintai secara diam-diam Berulang kali laki-laki itu mendesah kenikmatan, dan berulang kali juga suara wanita meminta untuk menyudahi permainan mereka, namun laki-laki itu belum juga menurutinya Ciara yang pura-pura tidak mendengar hal apapun berjalan melewati kamar yang ternyata hanya tertutup setengah, Lagi-lagi Ciara mematung melihat pemandangan di depan matanya Jantung Ciara berdebar kencang tak karuan, keringat dingin menerpa dahi dan juga tengkuknya. Bagaimana tidak, saat ini ia melihat benda pusaka milik Rehan yang begitu panjang dan berurut Ciara berbalik arah, menuruni anak tangga menuju dapur,menenggak air dingin yang ia isi di gelas panjang dengan penuh, rasa kembung di perutnya tak mampu meredakan jantung Ciara yang masih berdebar kencang Ciara memijit pelipisnya, ntah kenapa memori otaknya terus saja memutar apa yang ia lihat tadi, di dalam kamar Rehan Memang Ciara akui, sejak SMP ia begitu mengagumi Rehan yang tak lain adalah kakak sahabatnya, bukan karena wajah Rehan yang sangat-sangat tampan, tetapi laki-laki itu selalu tampil rapih, wangi, dan pastinya sangat pintar dalam hal apapun seperti cerita-cerita Jasmine sahabatnya pada Ciara Ciara kembali menuangkan air dingin pada gelasnya yang sudah kosong, saat ia meletakkan gelasnya di wastafel, ada bayangan seseorang yang berada di belakangnya Ciara berusaha sebisa mungkin menetralkan debaran jantungnya, tapi saat ia berbalik badan laki-laki yang ia lihat tadi sudah berada di hadapannya Dada telanjang sedikit berbulu, celana pendek yang tampak mengetat di b****g laki-laki tersebut, Rehan berjalan santai, meraih gelas dan mengisinya dengan air dingin, ibu jarinya mengusap dahi terdapat keringat, bukan hanya dahi, badan laki-laki itu juga tampak berkeringat, dapat Ciara simpulkan peluh keringat itu hasil dari percintaan Rehan dengan istrinya yang Ciara lihat tadi Rehan menatap Ciara dengan tajam, laki-laki itu mengenali gadis dihadapannya itu, meskipun ada perubahan dari badan Ciara Tidak ada komunikasi apapun antara Rehan ataupun Ciara, setelah meletakkan gelas ke wastafel Ciara meraih ponselnya yang ia letak di meja makan, ia berjalan menuju lantai dua, dimana kamar sahabatnya itu berada Ciara memang sengaja langsung menuju kamar Jasmine, ia takut ditodong pertanyaan yang tidak bisa ia jawb oleh Rehan, akibat apa yang sudah ia lihat tadi Demi menyelamatkan jantung dan hatinya ketika berhadapan dengan Rehan, Ciara memilih kabur dan tidur di samping Jasmine yang sudah terlelap sejak tadi ** "Ciara berubah banget ya sekarang, lebih cantik pasti, terus apa lagi ya, emmm lebih gemoy juga" Meja makan keluarga Berahim pagi ini tampak lebih ramai dari biasanya, kehadiran Ciara sahabat Jasmine itu membuat meja makan lebih banyak suara tawa dari kedua orang tua Jasmine "Masa si umi, padahal Ciara gak minum obat penggemuk lo ini" "Hahahaha, kamu ini bisa aja Ciara, itu namanya lagi masa subur" Berahim, papah Jasmine ikut mengiyakan ucapan istrinya tadi, kalau Ciara sekarang tampak lebih berisi dan tambah cantik tentunya "Tapi, Ciara jelek gak umi kalau badannya gini" Tanya Ciara yang kali ini mulai merasa insecure, sejak tadi topik percakapan di meja makan itu terus saja menuju padanya Manda, yang dipanggil umi itupun menggeleng, "malahan jauh lebih cantik dong Ciara, keliatan kalau sekarang udah lebih kakak-kakak, bukan anak SMA lagi" Lagi-lagi Jasmine dan kedua orang tuanya itu tertawa bersamaan, sebelum perhatian manda beralih pada anak laki-lakinya dan menantunya yang kini sudah bergabung di meja makan "Ciara ya" Tanya Erina yang baru saja mendaratkan bokongnya disalah satu kursi meja makan "Heem, tambah cantik kan dia rin" Bukannya yang di tanya menjawab, malah umi yang menjawab pertanyaan Erina, menantunya "Lima bulan di bali langsung berubah praktis dia, udah lebih kakak-kakak meskipun anak tunggal" Umi yang lagi-lagi menimpali di sela ia menyuapkan makanan ke mulutnya Erina yang mendengar jawaban dari ibu mertuanya hanya mengangguk, sebelum ia bergabung sarapan Setelah itu tidak ada pembicaraan apapun, semuanya fokus pada makanan masing-masing, Rehan yang terakhir ikut sarapan malah duluan selesai "Rehan berangkat duluan pah" Ucapnya berpamitan pada berahim "Sayang, aku ada pemotretan sampai malam, kemungkinan pulangnya agak larut" Erina yang beranjak dari kursi meja makannya, sedikit berlari menghampiri Rehan suaminya "Hmm, Hati-hati sayang" Rehan hanya mengusap puncak rambut Erina sekilas. Tapi itu hal yang biasa bagi Erina, terlebih ada Ciara di sini, Rehan selalu bersikap dingin dan biasa saja pada orang terkasih nya jika di hadapan banyak orang "Umi, kami berangkat dulu ya" Kali ini Jasmine yang berucap, Jasmine maupun Ciara berdiri meraih almamater kebesaran jurusannya yang berwarna putih tulang "Papah jemput kan pulangnya sayang" Berahim yang bertanya pada putri bungsunya itu "Gak usah pah, Kan udah ada Ciara yang antar jemput aku" Jasmine berucap sembari menatap ke arah sahabatnya dengan wajah yang penuh mengejek, sementara Ciara yang menjadi korban hanya menggeleng dan tersenyum rumah terlihat begitu sepih, setelah kepergian Jasmine dan Ciara, Erina juga berpamitan untuk berangkat ke tempat pemotretan yang stengah jam lagi akan dimulai, seterusnya juga berahim yang menyusul Rehan ke kantor milik mereka ***** Tinggalkan Jejak Kalian Di Bawah Inii ⬇️⬇️ Selamat malam kalian Semoga kalian suka dengan cerita yang satu ini Aku pengen baca komenan kalian soal part pertama ini Silahkan gunakan fitur komen yaaa??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN