Bab 2

1023 Kata
Jasmin dengan cepat keluar dari ruangan Pandu ketika ia sudah mendapatkan uang. Pandu tersenyum licik dan tertawa puas. Ia yakin sekali dengan tubuh gendut milik sang sekretaris nya itu, pasti ia tak akan bisa menyiapkan seluruh makanan dan juga minuman tersebut. Pandu pun bersiap untuk rapat. Lalu tidak lama kemudian, salah satu saudara nya datang untuk melihat keadaan Pandu. Laki-laki itu adalah cucu dari saudara tiri nenek nya. Kebetulan, kakek buyut nya memiliki dua istri di masa lalu. Nenek nya Pandu merupakan anak pertama dari istri pertama nya. Kepada nenek nya lah perusahaan itu di turunkan. "Pandu, kemana pergi nya gadis-gadis cantik mu ini? Aku sudah tidak sabar mau bertemu dan bermain dengan mereka. Benda milik ku ini sudah gatal dan karatan karena lama tak di pakai." Salah satu saudara dari pihak nenek nya datang. Mereka akan datang ke sana untuk bermain dengan wanita-wanita itu. Namun, belum lagi Pandu selesai bicara, pintu kantor nya di buka oleh Jasmin dengan kaki nya. Di tangan nya, penuh dengan makanan dan juga minuman pesanan Pandu. Brak. "Pak, ini pesanan Bapak. Ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanya Jasmin. "Ba.. Bagaimana kamu bisa membeli semua ini dalam waktu singkat? Bukan kah jarak nya sangat jauh?" "Rahasia." "Kamu ini!" Pandu hampir saja memu-kul Jasmin. Namun saudara nya menghentikan Pandu saat itu juga. "Tunggu dulu. Siapa badut ini? Kemana pergi nya semua wanita sek-si yang ada di ruangan mu, Pandu?" "Dia sekretaris pilihan nenek. Mulai hari ini akan bekerja dengan ku." "Apa? Apa mata mu sudah buta? Atau kah kamu rabun? Kamu tidak salah, Pandu?" Saudara nya Pandu ingin mele-cehkan Jasmin dengan cara ingin memeluk nya. Namun, dengan tubuh gesit nya itu, Jasmin bisa menghindar dengan cepat. Jasmin juga sempat menarik tangan saudara nya Pandu dan meme-lintir nya dengan kuat. krek. Suara tulang yang pa-tah terdengar. Mata Pandu terbelalak dan ia begitu terkejut. Jasmin berani sekali melakukan hal itu. "Aaaaahh,, tangan ku. Ku-rang ajar kau badut sia-lan. Berani sekali kau mema-tahkan tangan ku." "Bang Indra, Abang tidak apa-apa kan?" "Pala mu yang tidak apa-apa. Tidak kau dengar ini tangan ku sudah seperti ini?" Pandu pun mendekati Jasmin dan ingin memberi pelajaran pada nya. Namun, Jasmin malah mengambil makanan yang ada di atas meja dan langsung memasukkan nya ke dalam mulut Pandu. "Pak, kita akan rapat sebentar lagi. Bapak makan dan minum dulu." Jasmin memasukkan makanan-makanan itu dengan cepat. Wajah nya sampai memerah karena hampir tersedak. aaaahhhhh aaaahhhhh Pandu meraih minuman dan langsung meminum nya dengan cepat. "Apa kau mau membu-nuh ku? Kau gi-la!" "Ini sudah kewajiban saya, Pak." "Pandu. Cepat lapor polisi. Dia sudah membuat ku seperti ini." "Silahkan lapor polisi. Aku juga punya video kalian yang sedang bersenang-senang. Jika polisi sampai datang ke sini, maka seluruh foto dan video bu-gil kalian akan ku sebarkan." Pandu kehabisan kata-kata menghadapi Jasmin yang datang nya entah dari mana. Entah dimana nenek nya itu memungut Jasmin. Pandu melihat satu persatu video dan juga foto-foto yang sangat memalukan itu. Dan akhirnya, ia mengalah dan menyuruh seseorang untuk membawa Indra pulang. "Ayo kita rapat." Ucap Pandu lesu. Ia berjalan perlahan dan di samping nya, Jasmin pun mengikuti kemana Pandu membawa nya. Semua mata memandang ke arah Jasmin dan juga Pandu. Bisik-bisik terdengar. Mereka begitu heran. Pandu, seorang playboy sejati malah membawa Jasmin untuk berjalan di sisi nya. Selama ini, belum pernah terjadi sama sekali. Sekretaris ataupun wanita yang ada di sisi Pandu harus lah yang cantik, sek-si dan bo-hay. Tak ada celah untuk si buruk rupa. "Apa lihat-lihat. Kerja sana! Apa kalian mau aku pecat?" Teriak Pandu kesal. Ia sungguh malu karena kali ini membawa ikan dugong berjalan di sisi nya. Mereka pun tiba di ruang rapat tidak lama kemudian. Lalu satu persatu, beberapa pria dan wanita masuk ke dalam sana untuk mengadakan rapat dengan investor. Mereka sangat terkejut saat melihat Pandu yang datang tepat waktu. Biasa nya, ia sering telat dalam mengikuti rapat. Semua urusan nya, akan di urus oleh para sekretaris nya. Jasmin pun langsung menyiapkan bahan presentasi nya. Ia tidak duduk melainkan hanya berdiri saja di samping Pandu. "Maaf, wanita ini siapa, ya?" "Dia Jasmin. Sekretaris baru saya." "Lalu, yang lama kemana, Pak Pandu?" "Sudah di pecat. " "Wah, tidak asyik lagi dong. Padahal bos kami mau investasi ke perusahaan anda karena banyak nya wanita cantik yang ada di sini. Tapi, kalau bentuk nya kayak gini, nggak jadi deh." Ucap salah satu laki-laki yang ada di sana. "Itu bukan urusan ku. Katakan pada nenek ku supaya mengembalikan mereka. Aku juga tidak mau punya sekretaris seperti ini. Bisa-bisa, pas dia lapar, aku yang nanti nya akan di makan." Hahahhahahaha Sontak semua yang mengikuti rapat hari itu, menertawakan Jasmin. Namun, Jasmin sama sekali tidak gentar. Ia tatap satu persatu wajah mereka yang menertawakan nya. Brak . Krak... Jasmin memu-kul meja yang ada di ruang rapat sehingga semua nya terdiam karena terkejut. Tak terkecuali Pandu yang berada di samping nya. Pandu bahkan memegang da-da nya karena takut jantung nya tak kuat. "Apa kalian sudah puas tertawa? Jika belum, silahkan lanjutkan lagi di luar." "Hey Dugong! Berani sekali kau memukul meja di depan kami. Kau sungguh tidak sopan." salah satu dari antara mereka berbicara. "Aku atau kalian yang tidak sopan? Kalian bahkan membuat keributan di ruang rapat. Nyonya Rima sudah berpesan padaku. Jika aku bebas melakukan semua nya di perusahaan ini termasuk memecat kalian semua." "Apa? Itu tidak mungkin. Mana mungkin nenek ku mau memberikan mu kuasa. Aku tidak percaya." Ucap Pandu. "Betul, itu. Kami juga tidak percaya." "Anda, dan Anda. Apa istri pertama kalian tahu kalau istri muda kalian baru saja melahirkan?" Dua laki-laki yang ada di sana terdiam. Bagaimana Jasmin bisa tahu hal yang begitu pribadi seperti itu. "Jangan asal bicara kamu!" Jasmin pun mengeluarkan satu persatu bukti yang melibatkan seluruh petinggi yang ada di perusahaan itu. Mereka semua begitu terkejut dengan semua bukti kejahatan mereka. Satu persatu kejahatan mereka di bongkar di depan umum. Mereka sungguh benar-benar malu sekali dengan rekan nya yang lain. Apalagi rahasia itu hanya mereka saja yang tahu. "Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau mencari tahu tentang hal pribadi kami?" "Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Aku hanya ingin kalian bekerja dengan baik. Itu saja." "Kalau kami tidak mau?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN