Hilda Acosta, ibu kandung Moira. Salah satu selir kesayangan Tinuven Hoshana, ayah Caden. Penampilan yang digambarkan terkait Hilda; berambut pirang dan bermata biru. Seperti nasib semua bunga yang layu setelah dipersunting kumbang, Hilda meninggal pada usia 25 tahun.
25 tahun. Usia yang amat menjanjikan bagi seseorang untuk memulai kehidupan. Masa depan terbentang luas. Segalanya tampak baik-baik saja di permukaan. Tidak seorang pun mengira Hilda berani mengakhiri hidup. Keputusan ekstrem, mengingat dia memiliki seorang putri yang masih membutuhkan asuhannya. Namun, tidak ada yang bisa menghalangi tekad Hilda Acosta. Bahkan hubungan antara ibu dan anak sekalipun tidak cukup kuat mengikat Hilda; membuatnya bertahan demi sehari kebersamaan dengan anak, memberinya alasan tetap bertahan, dan hidup.
Mungkin sekadar mengada di dunia tidak cukup bagi sebagian orang.
Sebagai manusia yang berasal dari era lain, aku bisa sedikit mengerti kepedihan dalam diri Hilda. Hanya karena seseorang tidak memperlihatkan kesedihan dalam diri mereka, bukan berarti mereka baik-baik saja. Justru orang yang selalu tampil bahagia, seakan tidak ada masalah maupun beban hidup, sebenarnya amat mengkhawatirkan. Aku merasa mereka seperti sengaja menyimpan hal-hal tidak menyenangkan bagi dirinya sendiri.
Seorang diri.
Menahan segalanya, menerima lantas membiarkan sedikit demi sedikit terkikis oleh ketidakbahagiaan. Lantas bila tiba waktunya, saat tidak sanggup membendung luapan emosi, segalanya jadi terasa menyakitkan. Seperti terjepit dan tidak bisa melarikan diri. Dengan kata lain, tidak berdaya.
Andai ada seseorang yang bisa membaca tanda-tanda dalam diri Hilda maupun juataan orang sepertinya, mungkin hal buruk tersebut bisa dihindarkan.
Sayangnya kebanyakan manusia tidak terselamatkan.
Pada dasarnya semua makhluk hidup—entah binatang, tumbuhan, bahkan kuman sekalipun—memiliki naluri bertahan hidup. Dalam hati aku merasa sesungguhnya Hilda tidak ingin pergi, mungkin dia hanya ingin melarikan diri dari sesuatu yang membuatnya merasa tidak berdaya.
“Anda sepertinya sangat mengenal Ibu,” kataku menyimpulkan.
“Tidak sebaik itu,” Eric merespons, kedua matanya berbinar seolah ada kunang-kunang yang menari di sana. “Dia selalu tidak terduga.”
Dia selalu tidak terduga. Entah mengapa aku teringat salah satu novel favoritku. “‘Yang kita miliki ini seorang pemimpi,” kataku mengutip. “Seorang gadis yang tidak tersentuh realitas. Mungkin dia berpikir bisa terbang saat memutuskan untuk melompat.’ Anda tahu? Tampaknya ibuku seperti itu. Seorang pemimpi. Manusia yang tidak terikat pada apa pun selain pengharapan yang ia ciptakan di dalam dirinya.”
Bibir Eric terkatup rapat.
Seekor kunang-kunang hinggap di bahu Eric seakan menunggu diriku melanjutkan.
“Walau aku tidak mengenal ibuku secara langsung,” ucapku menjelaskan. “Anehnya aku merasa seperti mengenalnya dengan cara yang berbeda. Dia mungkin merasa sesak tinggal di istana. Seperti burung dalam sangkar emas. Sebagus apa pun sangkar yang dibuat, tetap saja tidak bisa mengalahkan keinginan alami pada burung tersebut; terbang bebas, merasakan embusan angin, dan bersatu dengan alam.”
Mungkin karena cara Hilda mati, maka tidak seorang pun di istana—termasuk Caden—berani mengungkit segala hal berkaitan Hilda di hadapan Moira. Namun, aku bukan Moira. “Tentu saja hatiku sakit,” kataku melanjutkan. Saat berbicara nada suaraku terdengar mantap. “Rasanya amat menyesakkan. Kadang aku berpikir Ibu tidak benar-benar mencintaiku. Namun, setelah aku renungkan, segalanya jadi jelas. Istana merupakan tempat yang dingin dan menyedihkan. Oleh karena itulah, satu per satu energi hidup dalam diri Ibu hilang. Tersedot. Lenyap.”
“Istana memang tempat yang keji,” Eric menyetujui pendapatku. “Bahkan raja dan ratu pun tidak sebebas dugaan orang luar.”
Aku mengangguk. “Ada banyak kepentingan.”
“Apa Anda ingin meninggalkan istana?”
Mataku mengerjap. Meninggalkan istana? Satu kali pun belum pernah terlintas dalam pikiranku mengenai kemungkinan Moira meninggalkan istana. Namun, andaipun dia pernah mempertimbangkan keluar dari istana, satu-satunya cara tercepat hanyalah dengan jalan pernikahan.
Per-ni-kah-an.
Tiba-tiba wajah Adrin terbayang jelas.
Muncul begitu saja.
Oh tidak, terima kasih. Lebih baik aku mempertimbangkan kandidat suami masa depan yang lain. Pokoknya jangan Adrin.
“Aku hanya akan menikah dengan lelaki yang disetujui Kakak,” kataku bersikukuh. “Dia harus bisa melunakkan hati kakakku. Aku ingin lelaki yang tidak membahayakan posisi kakakku.”
“Pernikahan bukan satu-satunya cara,” Eric menjelaskan. “Andaipun Anda ingin meninggalkan istana, Anda hanya perlu mengajukan permintaan kepada Paduka.”
Iya, ajukan permintaan.
Aku tidak bisa menahan dorongan untuk mendengus. “Kakak tidak akan mengizinkan. Dia bahkan tidak membiarkanku pergi jalan-jalan ke ibu kota.”
Sebenarnya aku ingin mencarikan jodoh untuk Caden. Pertama, wanita itu harus jinak. Kedua, wanita itu tidak boleh mata duitan. Ketiga, wanita itu bukan Ciara. Beres. Dengan begitu aku bisa bernapas dengan lega.
Memikirkan cara menyelamatkan diri membuat kepalaku pusing.
“Maaf, sepertinya udara malam membuatku tidak enak badan,” kataku memohon diri. “Selamat menikmati pemandangan yang indah ini.”
Setelahnya aku bergegas meninggalkan Eric.
Bergegas langsung menuju kamarku dan mengabaikan protes pelayan yang ingin membantuku berganti baju. Aku beralasan butuh waktu seorang diri dan akan memanggil mereka begitu merasa baikan.
Begitu pintu tertutup, aku langsung berderap menuju kasur—awalnya berencana untuk rebahan, tetapi terhenti begitu menemukan sekuntum mawar merah tergeletak di bantal.
Bersama dengan setangkai mawar, hadir secarik kertas bertuliskan satu kalimat singkat.
[Aku mengharapkan undangan minum teh darimu.]
Penguntit yang satu itu tidak tahu malu. Tanpa perlu ilmu terawangan pun aku tahu siapa gerangan pengirim setangkai mawar.
Adrin!
Cih! Aku yakin dia mendapatkan mawar tersebut dari salah satu taman di istana. Dasar tidak bermodal. Namun, yang lebih penting: Sepertinya aku harus mempertimbangkan pindah kamar!
“Aku ingin pulang!”
***
Tidak ada tanda-tanda lamaran pernikahan dari Caden untuk Ciara. Mungkin karena aku membatalkan acara pertunangan Moira dan Adrin, maka jalan cerita percintaan antara Caden dan Ciara pun berubah.
Betapa aneh perputaran kisah cinta bisa berganti tergantung pada pihak ketiga, yakni aku. Sebut saja diriku bersikap curang; mengubah takdir seseorang, memanipulasi perasaan, dan bersikap seakan tindakanku—mengganti jalan cerita—amat wajar. Meskipun segala perubahan dilakukan atas nama keselamatan, tetap saja rasanya janggal. Seperti ada cita rasa tidak enak yang tertinggal di lidah. Tetap saja, aku merasa perlu melakukan sesuatu.
Demi Moira, agar kelak bila dia kembali ke raganya, tidak menciptakan hal celaka bagi orang lain.
Demi, Caden. Karakter yang disalahpahami. Oleh penulis Caden tidak mendapat keadilan. Dia, Caden, ada karena penulis menganggap perlu menciptakan kejahatan agar sosok Adrin terlihat mencolok. Tokoh malang yang membuatku berpikir betapa mengenaskan posisi seorang manusia dalam sebuah cerita. “Mengada” demi menonjolkan manusia lain. Karena itulah, aku bermaksud menolong Caden agar setidaknya dia bisa mendapat akhir bahagia miliknya sendiri. Selama aku masih berada dalam raga Moira, melindungi Caden menjadi prioritas.
Lalu, yang terakhir, demi diriku sendiri. Ada rasa “keharusan”. Seolah bila tidak melakukan itu semua—menyelamatkan Caden, mengubah jalan cerita, dan bertindak kebalikan dari sikap Moira—maka aku akan menyesal seumur hidup.
Sebenarnya pernah terlintas kecemasan bila suatu saat Caden menyadari bahwa ada yang salah dalam diri adiknya. Takut ketahuan. Namun, lebih baik memikirkan keselamatan Caden daripada mengkhawatirkan kemungkinan terjebak dalam raga Moira.
Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.
♦ Membatalkan pertunangan dengan Adrin. √
♦ Mencarikan jodoh bagi Caden. √
Lantas terpikir olehku rencana menemui Adrin. Setangkai mawar beserta surat singkat yang ditinggalkan Adrin saat pesta malam itu membuatku waswas. Perubahan sikap Adrin kepada Moira bisa berdampak baik ataupun buruk. Andai novel menjelaskan pihak-pihak yang menyokong keberadaan Adrin, maka akan memudahkan diriku membuat peta perencanaan terkait, sekali lagi aku tegaskan, keselamatan Caden.
Tidak mungkin Adrin langsung diangkat menjadi penguasa Albastar hanya karena faktor keberuntungan;
1. Dia berhasil menyingkirkan Moira.
2. Dia berani melenyapkan Caden.
3. Di akhir cerita mempersunting Ciara.
Pasti ada faktor penentu lain. Variabel yang terlewat olehku. Ada sekelompok elite yang mendanai serta membantu mengokohkan keberadaan Adrin. Pihak yang menganggap keberadaan Caden sebagai pengganggu.
“Kepalaku rasanya akan pecah!”
Permainan takhta ini sungguh menjengkelkan. Kue dan aneka kudapan yang disajikan pelayan pun tidak cukup menolong mengurangi tekanan batin yang terakumulasi dalam diriku. Padahal biasanya aku pasti akan melahap hingga tandas setiap kue.
Ternyata sekadar membatalkan pertunangan saja belum cukup. Aku harus menemui Adrin.
Tapi, aku harus meminta izin Caden terlebih dahulu sebelum menemui Adrin. Secara Moira hanya putri tanpa kekuasaan. Terbukti dari ketiadaan tugas yang seharusnya diemban seorang anggota kerajaan. Setidaknya Moira, seharusnya, mengurusi rumah tangga istana.
Jangan-jangan begitu Caden kehilangan minat terhadap Moira, maka ia akan menikahkan Moira kepada seseorang yang menguntungkan dirinya?
Argh! Demi setiap proton dan elektron yang terkandung dalam unsur hantuku, jangan sampai! (Mungkin tubuh hantu memiliki kandungan listrik. Mungkin. Mungkin saja.)
Setelah memantapkan niat, aku meninggalkan acara menikmati sore dan langsung bergegas menemui Caden. Untungnya skedul milik Caden hari ini tidak terlalu padat. Setelah bertanya kepada penjaga (karena Caden tidak ada di ruang kerja), aku pun menuju perpustakaan.
“Kakak, kita harus bicara!”
Caden tengah duduk di dekat jendela. Dua kancing di kemejanya telah terbuka hingga aku sempat melihat tulang selangka Caden. Hormon dalam diriku langsung meledak-ledak. Bagaimana rasanya menyentuh bahu dan bersandar di lengannya? Kancing-kancing kurang ajar, kenapa kalian tidak enyah saja agar aku bisa menikmati pemandangan indah yang tersembunyi di balik kemeja sutra? Sedikit saja. Hanya sebentar pun tidak masalah. Oh aku ingin melompat ke pangkuan Caden SAAT INI JUGA!
“Ya?”
Suara Caden terdengar begitu menyejukkan.
Susah payah aku menahan pemikiran gila yang meletup-letup di kepala.
Tidak boleh. Apa kata masyarakat bila Moira bernafsu kepada kakaknya sendiri.
Oh ya, tidak boleh. Tapi, ‘kan, aku bukan Moira!
Sekali lagi, aku berusaha menelan ludah kemudian membasahi bibir, berharap bisa meredam gejolak tidak sopan dalam tubuh. (Caden, kenapa kau harus setampan ini? Aku tidak keberatan merasuki tubuh gadis mana pun asal itu bukan Moira! RUGI! Tidak bisa melegalkan hubungan cinta. Getir sekali hidupku! Bahkan sekarang menangis darah pun tidak cukup menghilangkan kepedihan.)
“Aku harus menemui Count Gundry!”
Bibir Caden merapat, kedua matanya terpejam sesaat kemudian kembali terbuka ketika berkata, “Kau tidak harus menemuinya, Moira.”
“Penting,” kataku mendebat. Setelah duduk di dekat Caden, barulah aku memberikan penjelasan. “Aku ingin menunjukkan bahwa ketertarikan dalam diriku terhadapnya telah hilang.”
Menggunakan telunjuk, Caden menggosok dagu. “Sepenting itu?” Nada suara Caden tampak meragukan alasanku. “Mengesankan.”
Kedua alisku bertaut. “Kakak, tolong biarkan aku menemuinya.”
Ayolah, kau harus membiarkanku membereskan penghalang kebahagianmu. Dengarkan aku, wahai Caden, dengarkan. Masa depanmu tergantung dari kesuksesanku merayu Adrin. Ini semua demi keselamatan kita berdua.
Setelah menghela napas, Caden berkata, “Aku akan mengirimkan surat pemberitahuan perihal kunjunganmu ke sana.”
YES! Saatnya menyelesaikan tugas.
“Apa kau masih berharap kepadanya?”
Seolah ada orang yang mengguyur diriku dengan seember air es. Kedua mata membulat dan mulutku pun menampilkan seraut senyum yang masamnya bukan main.
“Kakak, percayalah kau lebih tampan daripada Count Gundry.” Aku mengangkat tangan dan satu per satu menunjukkan jari sembari menghitung kelebihan Caden. “Satu, semua gadis di Albastar pasti memilihmu sebagai calon suami. Dua, dia itu lelaki berengsek tukang rayu. Tiga, andai ada sepuluh Adrin pun aku pasti akan memilihmu.” Sebab aku antifan Adrin. Hati, jiwa, dan segenap cintaku hanya untuk Caden!
Caden bersidekap, ujung bibirnya terangkat membentuk senyum. “Moira, katakan saja siapa yang ingin kaubunuh.”
“...”
“Aku akan langsung melenyapkan siapa pun yang membuatmu tidak bahagia.”
Sontak mulutku menganga, terkejut. Beberapa kali aku mengedip, berharap yang diucapkan Caden itu bualan belaka—bohong. Namun, prasangka pun runtuh begitu Caden melanjutkan:
“Kau ingin melenyapkan Gundry berengsek itu?”
Oh bahkan saat menyarankan tindakan kriminal pun pesona Caden membuatku terlena, tetapi....
“Kakak, kita tidak perlu membunuh siapa pun.”
“Moira, lebih baik menghabisi hama sebelum menjangkiti tanaman lain.” Tangan Caden terjulur, menyentuh tanganku. “Kau tidak bisa selamanya menoleransi keberadaan semua orang.”
Sensasi dingin menyengat bagian belakang leherku. Pertama kali aku merasa tidak nyaman ketika berhadapan dengan Caden. Bahkan setelah mengenal Caden melalui novel pun tetap tidak bisa mengenyahkan debar kekhawatiran yang berdegup dalam d**a.
“Istana merupakan tempat terdingin sekaligus terasing,” Caden melanjutkan. “Kita hanyalah pion-pion yang mencoba berebut peran. Hanya karena aku berhasil menjauhkanmu dari ayahku, bukan berarti lelaki lain tidak berbahaya. Moira, kau akan selalu menjadi yang utama bagiku. Itulah janjiku kepadamu.”
Tunggu sebentar.
TUNGGU SEBENTAR!
Caden, kau tidak bermaksud mengirim pembunuh bayaran ke kediaman Adrin, ‘kan?