22

1126 Kata

Tepat tengah malam, Eric datang. Udara terasa menggigit hingga aku merapatkan jubah demi mempertahankan kehangatan. Stela dan Claude berdiri di belakang Caden; mereka tampaknya tidak terpengaruh dengan hawa dingin yang bagiku terasa menyiksa. Sejenak aku memperhatikan bangunan istana untuk terakhir kali; lampu-lampu kristal berpendar lembut, rumput diselimuti embun, dan hanya ada keheningan. Kereta kuda terpakir tepat di depan gerbang, menanti perintah keberangkatan dari sais. “Lewat pintu belakang?” Eric mencibir Caden. Sama seperti aku, dia mengenakan jubah hitam. Kereta yang dipakai pun tidak memiliki simbol keluarga, seperti kereta biasa yang digunakan sebagai persewaan. “Cerdik.” “Aku tidak suka mengundang perhatian,” Caden menjawab, tangannya merapikan simpul di tudungku. “Moira, j

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN