Benar-benar kacau. Gila. Tidak masuk akal. Aku tidak peduli penggambaran mana pun yang kini tertanam dalam kepala setiap orang. Andai Caden tidak ikut campur, pasti duyung m***m ini terancam botak. Bahkan meskipun sekarang Caden membopongku, tatapanku masih terarah kepada duyung berambut emas yang kini mencoba merapikan rambut. Tanganku menggenggam rambut pirang, bukti kemenangan dan balas dendam. Aku hanya ingat terseret dan jatuh ke laut. Setelah mengalami siraman rohani yang amat memedihkan, lantas ketika sadar justru melihat pria m***m. Tidak menyenangkan, Kawan. Seharusnya yang aku lihat pertama kali adalah Caden. Aku tidak keberatan melihat senyum cemerlang 1000 volt milik Caden. Bukan senyum kau-tahu-aku-tampan milik duyung sialan. “Ih,” decihku sembari memelototi duyung yan

