Bagian 17

1652 Kata
"Raja, apa sebaiknya kita tidak diskusi di tempat yang lebih aman? Menghindari Ratu dan Vale untuk mendengar obrolan kita," usul Jake. Kedua pria itu sedang berada di ruangan Easter. Lebih tepatnya adalah Jake ingin berdiskusi mengenai Vale. Vale? Ada apa dengan gadis itu? "Tidak perlu. Aku sudah memasang penghalang agar tak ada satu pun orang yang masuk dan mendengar kita," jawab Easter. Jake pun mengangguk paham. Easter memang melakukan itu ketika Jake mengatakan jika ada hal penting yang ingin dia bicarakan. Apalagi ketika Jake mengatakan jika ini mengenai Vale. Easter memang menempatkan Jake didekat Vale untuk menyelidiki gadis itu. Hasil pernikahan silang terkadang ada kegagalan. Kegagalannya pun beragam. "Saya rasa menemukan kejanggalan pada gadis itu, Raja," tutur Jake dengan wajah penuh keseriusan di sana. Beberapa hari berdekatan untuk melatih kekuatan werewolf Vale membuat Jake sadar ada yang tidak beres dengan gadis itu. "Saya menduga jika dia adalah pencuri," sambung Jake. Pencuri? Itu kasus yang sangat langka di dunia immortal. "Saya mengatakan ini karena beberapa kali menemukan hal aneh, Raja. Ketika awal saya melihatnya, saya tidak merasakan apa pun selain dia adalah seorang werewolf. Namun, kejanggalan itu terjadi ketika saya melakukan pelatihan dengannya. Beberapa kali, perasaan saya goyah dan mencium aroma wangi dari dirinya. Tentu ini mengarah kepada pasangan mate." Easter tentu tak terkejut dengan fakta itu, karena pencuri bisa saja membuat jebakan pada seseorang yang sedang tak memilik mate ataupun sudah memiliki mate. "Aroma itu datang beberapa kali, tetapi saya sudah meyakinkan pada diri saya sendiri jika ini tidaklah benar. Seperti yang kita tahu, saya sudah menemukan mate saya, meskipun dia sudah tiada di dunia ini. Kalaupun dia adalah mate pengganti saya, kenapa saya tidak merasakannya sejak awal?" Easter mengangguk paham. Jadi, dugaannya adalah benar. Vale adalah hasil keturunan silang yang tidak sempurna. Selain wolf nya tidak beregenerasi dengan cepat, dirinya juga masuk ke dalam jajaran pencuri. Untungnya Easter tidak merasakan itu. Tentu dia tak akan pengaruh dengan adanya Vale karena baginya Vele adalah mate sejati miliknya. "Dan juga, ada beberapa waktu tertentu saya mencium aroma wizard di tubuhnya," lanjut Jake. Ini sedikit bahaya. Mengingat Vale dan Vele adalah pasangan kembar. Bisa saja suatu hari nanti Vale mengecoh Easter dengan berpura-pura menjadi Vele. "Menurutmu seberapa bahaya dia, Jake?" tanya Easter. Tentu ia sudah memiliki jawaban untuk itu. "Sangat bahaya, Raja. Saya takut jika dia bisa saja merusakk masa depan kerajaan ini terutama Ratu," jawab Jake. Easter tahu, kekhawatiran Jake juga sama dengannya. Vele sangat menyayangi keluarganya, terutama Vale. Tentu ini akan sangat menjadi masalah besar. "Lantas, apa yang harus kita lakukan, Raja?" tanya Jake kemudian. "Jake. Tugasmu mungkin semakin berat. Aku memerintahkanmu untuk tak meninggalkan gadis itu sendirian. Seperti katamu, dia sangatlah berbahaya. Untuk sekarang, kita tahu jika Vale bukanlah gadis yang mencoba memanfaatkan keadaan, tetapi kita tidak pernah tahu masa depan nanti. Jadi, bisakah kau menyanggupi perintahku ini? Anggap saja kau berjuang untuk menyelamatkan kerajaan dan dunia ini," papar Easter. "Tapi, Raja. Bagaimana jika dia menemukan mate nya?" tanya Jake. "Dia tidak akan menemukannya, Jake. Kita tidak akan membiarkan Vale keluar dari kerajaan ini. Ingatlah, dia keturunan yang mengalami kegagalan. Keberadaannya sangatlah berbahaya. Aku minta kau jangan membicarakan ini dengan siapa pun. Laporkan segalanya padaku, hanya padaku seorang," kata Easter. Jake mengangguk paham. Pekerjaannya semakin berat dan dia harus menahan diri ketika mencium aroma kuat dari tubuh Vale. Tapi, melihat gadis itu yang tidak diijinkan keluar dari kerajaan membuat Jake prihatin. Tentu Vale tak bisa menemukan mate sejatinya. Kasus ini benar-benar sulit untuk dipecahkan. Vele menelusuri lorong kerajaan. Gadis itu memakai baju lengan panjang dengan bagian leher yang ia tutupi dengan kain panjang. Vele memasuki ruang makan yang mana sudah ada Easter, Jake, dan Vale. Ketiganya menatap gadis yang baru masuk itu. Jake dan Vale mengernyit dengan penampilan baru Vele. Namun, tidak dengan Easter yang tahu jika mate nya mencoba menyembunyikan karya yang ia buat di leher Vele. "Vele ... apakah kamu sedang sakit?" tanya Vale. Seingatnya tadi sore kembarannya ini baik-baik saja. "Ya, hanya sedikit tidak enak badan," jawab gadis itu. Vele pun segera mengambil makanannya. Semua makan dengan keadaan diam dengan sesekali Vele melirik Easter yang makan dengan tenang. Pria itu nampak tenang, Vele lah yang tak tenang. Besok pasti tanda itu tidak akan hilang. Dan dia menjadi tak memiliki alasan lagi jika ditanya oleh Vale. "Raja, maaf mengganggu makan malam ini. Tapi, bolehkah saya meminta sesuatu?" kata Vale membuka pembicaraan di meja makan. "Silakan." "Bolehkah saya dan Vele mengunjungi Ibu dan Ayah?" Atensi Vele penuh kepada kembarannya itu. Vale benar, mereka harus bertemu dengan kedua orang tua mereka. Ini sudah lama sekali terakhir kali mereka bertemu. Atensi Easter beralih kepada Jake. "Jake, besok bawalah mereka ke sini," titahnya. Jake mengangguk paham. "Aku memberi kalian waktu bertemu hanya satu jam," jelasnya. "Itu terlalu sebentar," protes Vele. Mereka sudah lama tak bertemu, dan kenapa sekarang bertemunya hanya sebentar? Easter tersenyum tipis. "Apakah kamu keberatan?" tanya pria tersebut. "Tentu. Aku ingin lebih lama menghabiskan waktu bersama Ibu dan Ayah," jawab Vele. "Vele. Sudahlah. Satu jam lebih baik dari pada tidak sama sekali," sela Vale. "Belajarlah dari Vale. Dia tidak melakukan protes tentang ini," ucap Easter. "Vale berbeda denganku. Pokoknya besok aku mau bertemu Ayah dan Ibu lebih lama. Beri kami waktu sehari saja." "Lamanya kalian bertemu tergantung dengan sikapmu nanti," jawab Easter dengan senyum arti. Vele tidak bodoh kali ini, dia paham maksud pria ini. Seketika di merasa tak berdaya ketika pria itu selalu memiliki cara kotor untuk mendesaknya. Selepas makan malam, Vele ikut menemani Vale ke kamarnya. Andai saja dia bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan kembarannya ini. "Vale, maafkan aku. Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu. Raja selalu memaksaku tunduk dengan perintahnya," ujar Vele. Saudara kembarnya tersenyum hangat. "Tidak apa-apa, Vele. Aku tau keadaan kalian. Aku senang melihatmu dan Raja baik-baik saja. Aku berharap kalian agar cepat menikah. Sehingga aku bisa segera bermain dengan dengan keponakanku." "Hei! Aku belum setuju menikah dengannya, dan aku juga tak yakin akan menikah dengan Raja," sahut Vele. "Kamu seharusnya bersyukur, Vele memiliki mate yang setia dan perhatian seperti Raja. Aku berharap di masa depan nanti aku bisa memiliki mate yang bisa menyayangi dan mencintaiku dengan tulus." Vele memeluk Vale dengan hangat. "Aku yakin cepat atau lambat kamu pasti akan bertemu dengannya, Vale. Ingatlah, ikatan mate itu sangat kuat. Tentu dan pasti dia akan menyayangi dan mencintaimu sepenuh hati. Aku akan berdoa untukmu." Vale mengangguk dan membalas pelukan suadaranya ini. "Oh iya, apakah kamu tidak akan kembali ke kamar? Raja pasti sedang mencarimu sekarang," kata Vale yang melepaskan pelukannya kemudian. Vele sebenarnya malas untuk kembali ke kamar karena tingkat kemesuman Easter semakin menjadi-jadi, dan bisa saja bibirnya kembali mendapat p*********n. "Vele sebentar. Ada yang berbeda di wajahmu," seloroh Vale tiba-tiba. Gadis itu meneliti wajah saudaranya. "Bibirmu. Kenapa bibirmu?" tanyanya. Bola mata Vele membulat sempurna. Dia menutupi bibirnya dengan telapak tangan. Melihat tindakan aneh sang kembaran membuat Vale mengernyit bingung. "Ini ... bibirku tidak kenapa-kenapa, Vale. Oh iya aku lupa. Aku sedang ada janji dengan Raja. Kalau begitu aku pamit ya. Selamat malam, dah," ujar Vele dengan cepat. Gadis itu berlari kecil menuju ke pintu keluar. Vale mengernyit melihat tingkah aneh sang kembaran. Ini semua gara-gara Easter. Kalau saja pria itu tak menyerang bibirnya terus menerus, maka dia tak akan semalu ini jika berhadapan dengan Vale. Vele pun menjadi bimbang untuk bertemu dengan kedua orang tuanya besok. "Eh. Eh. Eh." Vele terkejut ketika pinggangnya tiba-tiba ada yang menarik di mana dirinya berakhir membentur d**a bidang yang menurutnya keras. Dia mendongak, wajah Easter yang tampan terpampang jelas di sana. Untuk apa pria itu menariknya tiba-tiba dan bersembunyi di balik pilar? Seperti sedang bersembunyi saja. "Ap--" "Ssttt, diamlah," potong Easter meletakkan jari telunjuknya di bibir sang mate. Vele menutup bibirnya. Dia mengikuti pandangan Easter di mana mata pria itu bergerak ke sana ke mari. Ada apa sebenarnya? Setelah beberapa saat dalam diam, barulah pria itu melepaskan pegangannya di pinggang Vele. "Ke mana kamu pergi?" tanyanya langsung. "Aku hanya ke kamar Vale. Mengobrol dengannya sebentar," jawab gadis ini. "Mulai sekarang jangan pergi selain denganku. Ingat. Keadaan istana sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak ingin Gerry menemukanmu dan mencoba menyakitimu," balasnya. Oh, jadi ini alasan Easter bersikap waspada sejak tadi. "Aku hanya sebentar. Ini saja mau kembali ke kamar," alasan Vele. "Ayo, sudah malam. Sebaiknya kita istirahat," putus Easter yang menggandeng tangan Vele menuju ke lorong yang mengarah ke kamar mereka. Rasa hangat melingkupi tangan dan hati Vele. Ya, entah kenapa dia selalu merasa aman jika berada di dekat pria ini. "Tidak ... tidak ... jangan lakukan itu!" Vale terus melangkahkan kakinya mencoba mencari asal suara tersebut. Gadis ini terus menelusuri lorong istana. "Kau sejak lama memang harus mati. Kau adalah ancaman bagi dunia ini." Vale menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu besar. Seingatnya ini adalah kamar Easter dan Vele. Tunggu, kenapa suara tadi mirip dengan raja? Atau jangan-jangan kedua orang itu sedang bertengkar hebat? Vale harus berjaga-jaga agar tak terjadi hal buruk. "Tidak. Aku sama sekali bukanlah ancaman," suara yang Vale anggap adalah milik saudaranya itu terdengar. "Kau baru saja membuktikannya. Kau sudah membunuh saudaramu sendiri!" teriak Easter keras. Vale mundur beberapa langkah. Membunuh? Vele membunuh dirinya? Tidak. Keadaan Vale baik-baik saja sekarang. "Tidak. Tidak. Tidak. Aku tidak membunuh Vele." Ha? Vele? Vale yang berada di depan pintu pun tak mengerti. Dia harus memastikan apa yang terjadi. Dengan pelan, gadis ini mendorong pintu itu agar tidak ketahuan. Untungnya Easter tak menguncinya. Bola mata Vale membulat tatkala melihat banyak darah bercecer di lantai, ditambah lagi seseorang tergeletak di sana dengan darah yang terus mengucur. "Kau benar-benar egois, Vale. Tidakkah kau tau jika Vele sangat menyayangimu? Kenapa kau mengkhianatinya, hah? Karenamu. Ini semua karenamu. Aku kehilangan mate ku adalah karenamu. Maka, bersiaplah untuk mati." Easter mengangkat pedang tajam miliknya dan siap untuk mengayunkan benda itu pada Vale yang diam terduduk di lantai. Vale yang berada di pintu pun bergerak maju hendak menolong dirinya sendiri yang akan dieksekusi oleh Easter. Namun, dia terhalang kaca yang tiba-tiba ada di depannya. "Tidaaakkkkk!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN