Bagian 10

1750 Kata
"Ada apa? Awas saja hal yang akan kamu katakan tidak penting," peringat gadis ini dengan raut wajah jengah. Easter telah membuat dirinya kehilangan momen bersama Cale dan Vale. "Duduk," titah Easter. Kemudian pria itu menyibukkan diri dengan kertas-kertas yang tak Vele ketahui. Cukup lama keduanya hanya diam, dan ini membuat Vele sendiri kesal. Hingga, pintu terbuka menampilkan visual Jake. Pria itu langsung memberi hormat kepada Easter. "Langsung saja, Jake," kata sang raja. "Baik, Raja. Saya sudah membawa ayah dari Ratu Vele ke kerajaan." Bola mata gadis itu membulat sempurna. Tentu ia tak mengira jika Jake bisa menemukan Albus dengan cepat. Easter melirik ekspresi wajah Vele yang terkejut sekaligus khawatir juga. "Dan beliau sudah ada di ruang perawatan untuk melihat Vale," lanjut Jake. Easter mengangguk paham. "Di sini sudah ada Vele sekaligus dirimu, Jake. Mari kita membicarakan hukuman apa yang pas untuk keduanya, kecuali mati tentunya," ujar Easter dengan enteng. "Yak! Kenapa kamu keras kepala sekali? Dasar pria tak berperasaan," sindir Vele. "Sejak dulu aku memang tak memiliki perasaan," sahut Easter. Jake yang melihat keduanya selalu berdebat pun menjadi lelah sendiri. Entah kenapa pasangan ini tak pernah kompak dalam setiap hal. "Raja ... Ratu," panggil Jake menyela keduanya. "Jangan panggil aku ratu, Jake. Aku bukanlah ratumu," tolak Vele yang merasa aneh ketika ada yang memanggilnya begitu. "Aku yang menyuruhnya. Cepat atau lambat, kamu juga akan menjadi ratu di sini," terang Easter. "Kata siapa? Sudah aku katakan jika aku tidak ingin hidup bersamamu," kata Vele. Keduanya kembali berdebat satu sama lain, membuat telinga Jake menjadi panas karena harus berada di tengah-tengah keduanya. "Raja ... Ratu. Maaf menyela. Bisakah kita fokus untuk membicarakan hukumannya?" potong Jake. Vele menutup mulutnya karena melihat wajah Jake yang tak mengenakkan. Sedangkan Easter terlihat biasa saja sejak tadi. "Begini, saya selain ide hukuman untuk hidup berpisah selamanya itu, saya memiliki usul lain. Mereka sudah berpisah selama dua puluh tahun, dan itu sudah lebih dari cukup menurut saya, Raja. Bagaimana jika kita teruskan hukuman itu dengan membiarkan mereka hidup berpisah hanya sampai Vele dan Vale menemukan pasangannya?" "Itu artinya ibu dan ayahku akan bisa bersatu jika aku dan Vale sudah menikah?" tanya Vele. Jake mengangguk setuju. Gadis itu kesal dengan ide gila Jake, namun Easter menganggap jika ide bawahannya itu menguntungkan dirinya. Ini akan membuat Vele dengan cepat menerima pernikahan mereka. "Aku setuju dengan usulmu," sahut Easter dengan penuh keyakinan. "Aku yang tidak setuju!" papar Vele. "Kenapa kamu tidak setuju? Bukankah kamu sendiri yang ingin mereka hidup bersama? Dari pada hukuman mati, ide dari Jake lebih baik," kata Easter. "Dan itu artinya aku harus hidup bersama pria sepertimu? Tidak mau," tolak Vele mentah-mentah. "Ratu ... begini. Saya mengatakan jika mereka bisa kembali bersama jika Anda dan Vale menemukan pasangan. Bahkan kita sendiri belum tahu di mana mate dari Vale dan berasal dari bangsa apa. Itu artinya Anda memiliki kesempatan banyak di sini." "Jake! Apa yang kau katakan!" tegur Easter kesal karena kebodohan bawahannya itu. Sedangkan Vele nampak senang dengan perkataan Jake. Itu artinya dia harus memastikan Vale belum menemukan mate nya maka dia tak perlu menikah dengan Easter. Tapi, itu berita buruk di mana Cale dan Albus tak bisa hidup bersama. Ini benar-benar tidak ada yang menguntungkan bagi Vele sendiri. "Maaf Raja, Ratu. Saya harus kembali bekerja untuk menemukan dalang dibalik vampir brutal," kata Jake yang tak ingin mendapat amukan dari sang raja. "Ya, kau benar. Pergilah dan segera bawa kabar baik untukku," balas Easter. Jake mengangguk dan langsung undur diri. Setelah kepergian Jake, barulah pasangan ini kembali meneruskan perdebatan mereka yang tak pernah usai. "Setelah Vale bangun, aku ingin segera pergi dari tempat ini," tutur Vele. "Pergilah jika kamu ingin, tapi tanggung akibatnya," jawab Easter tanpa beban, bahkan pria ini memilih melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. "Apa maksudmu?" "Jika kamu terus memaksa pergi, maka aku tidak akan tinggal diam. Aku tak pernah pandang bulu untuk melukai seseorang, Vele, meskipun itu adalah keluargamu," jelasnya. "Hei! Kenapa kamu selalu melibatkan mereka? Ini hanya permasalahan kita berdua, ingat!" seru Vele yang selalu terpancing emosi ketika berada di dekat pria ini. "Karena kamu mate yang keras kepala dan susah diatur, maka aku tidak memiliki pilihan lain," lanjut Easter. Vele geram, gadis ini pun berdiri dan langsung menghampiri tempat Easter duduk. Dan secepat kilat Vele menghujami sang raja dengan pukulan di punggunngnya. Tentu itu tak berpengaruh apa pun pada diri Easter. "Aku benar-benar membencimu!" teriak Vele tepat di samping pria ini. "Iya aku tau, aku juga mencintaimu," jawab Easter yang malah berlawanan dengan perkataan Vele. Karena terlalu kesal, Vele pun memilih pergi dari sana dari pada terus emosi. Sekali lagi Easter senang dengan perdebatan keduaya, di mana itu lebih baik dari pada tak ada satu pun komunikasi di sini. Easter berharap semua masalah cepat selesai agar dia dan Vele cepat menikah dan membangun keluarga bahagia mereka sendiri. Vele menuju ke ruang perawatan dengan perasaan dongkol. Namun perasaan kesalnya seketika menguap ketika melihat tatapan sedih yang ditunjukkan Albus dan Cale kepada sosok saudara kembarnya, Vale. "Ayah," panggil Vele yang langsung menuju ke samping pria paruh baya itu. Albus berdiri dan langsung memeluk putrinya ini. Vele merasa tenang sekarang. "Syukurlah kamu baik-baik saja, Nak," kata Albus yang sama-sama mengkhawatirkan Vele juga. "Iya, Ayah. Tapi Vale belum juga bangun," sahut Vele menatap sang kembaran dengan sendu. Lagi-lagi Vale menolongnya dan berakhir dengan dirinya yang terluka parah. "Ayah akan mencari cara agar Vale cepat bangun," kata Albus. Vele mengangguk. Dia menatap kedua orang tuanya secara bergantian. Kasihan juga melihat Albus dan Cale hidup terpisah ditambah lagi Vale dalam keadaan seperti ini. Kalau saja Easter setuju untuk mencabut peraturan itu, maka keluarganya pasti bahagia sekarang. "Ayah, Ibu. Kalian istirahatlah dulu. Malam ini biar aku yang menjaga Vale," ucap gadis ini. "Tidak apa-apa, Sayang. Biar Ayah yang menjaga Vale." "Tidak, Ayah. Ayah perlu istirahat, Ibu juga. Nanti aku akan bangunkan kalian jika Vale sudah bangun," lanjutnya. "Baiklah, kita berjaga bergantian. Ayah akan tidur di sofa, Ibumu akan tidur di ranjang satunya," putus Albus. Vele mengangguk, menyetujui ide ayahnya ini. Hari semakin larut, semua orang bersiap untuk tidur, namun Easter gelisah karena Vele tak kunjung kembali ke kamar setelah kepergian gadis itu tadi. Easter ingin menyusul dan membawanya ke kamar, tetapi itu tak mungkin ia lakukan karena pasti kedua orang tua gadis itu bertanya-tanya. Dan Easter sudah janji sebelumnya untuk tak buru-buru memberitahu jika mereka adalah pasangan mate. Vele terus menatap Vale yang setia menutup matanya. Albus dan Cale sudah tidur tak jauh dari tempat mereka. Mereka akan bergantian berjaga setiap lima jam sekali.  Vele menggenggam tangan kembarannya, dia benar-benar membutuhkan Vale untuk membuat keputusan mengenai keluarga mereka. Vele tak bisa mengambil semuanya sendirian. "Bagaimana bisa aku membantumu agar cepat bangun, Vale? Bangunlah, kasihan Ibu dan Ayah. Kami membutuhkanmu, aku sangat membutuhkanmu," bisik Vele kepada Vale yang masih tertidur. Diam dan terus menatap, pikiran Vele terhenti pada ingatan di mana ia pernah membaca sebuah buku di perpustakaan sang ibu. Buku mantra tua yang sering ibunya suruh baca. Namun, memang dasarnya Vele yang pemalas, jadi ia tak sempat membaca semuanya. Tetapi, Vele ingat dengan satu mantra yakni mentransfer energi kepada seseorang yang kekurangan energi dalam tubuhnya. Vele berpikir jika mungkin mantra itu akan berhasil, tetapi ia juga tak yakin karena belum pernah mencobanya. Tetapi, apa salahnya mencobanya? Jika itu berhasil maka ini bagus bagi keluarga saudaranya. Vele melihat Albus dan Cale sekali lagi. Keduanya terlihat pulas sekali. Vele memutuskan untuk melakukan sendiri tanpa meminta persetujuan kedua orang tuanya. Gadis ini memposisikan dirinya dengan baik. Dia menggenggam satu tangan Vale dan menutup kedua matanya juga. Vele mengucapkan beberapa mantra yang ia ingat. Ingatan Vele cukup kuat dalam hal mantra. Beberapa saat setelah mengucapkan mantranya, tubuh gadis ini merasa aneh. Ia merasa ada yang tersedot dalam dirinya. Vele mengira jika mantranya berhasil di mana Vale dan Cesse mulai menerima transfer energi itu. Sekitar setengah jam lamanya, pegangan di antara keduanya tak terlepas. Vele merasa sudah lemas, dia ingin berhenti tetapi Cesse dan Vale seperti tak membiarkannya berhenti. "Vale, aku lelah," ucapnya dalam hati. Vele berharap sang kembaran dapat mendengar dirinya. Namun, sepertinya Vale tak mendengar itu. Gadis werewolf itu terus menyedot energi yang Vele punya. Vele merasa dia harus menyudahi ini, tetapi Vale tak kunjung bangun hingga sekarang. "Akhh!" lirih Vele yang memaksa melepas pegangan tangannya di mana Vale tak menyedot energinya lagi. Vele memegang kepalanya yang terasa pusing. Sepertinya ini efek dari apa yang ia lakukan. Dan rasa pusing serta kantuk pun menjadi satu hingga Vele sudah tak bisa menahan berat tubuhnya, dia pun tumbang bersamaan dengan pintu yang baru saja terbuka. "VELE!" Teriakan Easter membangunkan Albus dan Cale. Kedua orang tua itu segera menghampiri putri mereka. Dan betapa terkejutnya keduanya ketika melihat Vele yang tak sadarkan diri dalam pelukan Easter. Tanpa menunggu lama, pria ini langsung membawa Vele pergi. "Albus," panggil Cale yang mencegah suaminya pergi. Albus menoleh, dan betapa terkejutnya pria ini yang melihat Vale telah membuka kedua matanya. Cale langsung memeluk putrinya itu, Albus menghampiri keduanya. "Vale. Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Albus berulang kali. Vale yang masih setengah sadar pun mencoba menyesuaikan penglihatannya. Dia menatap Albus dan Cale bergantian. Ada satu sosok yang tak ia temukan di sini. Vele. "Ayah ... di mana Vele? Apakah dia baik-baik saja?" Pertanyaan yang Vale tanyakan adalah perihal sang kembaran. "Dia ... dia baru saja pingsan," ungkap Cale jujur. "Ayah ... Ibu. Ini semua gara-gara aku. Vele pingsan karena dia memberikan energinya padaku. Aku mendengar suara Vele yang memintaku berhenti, tetapi entah kenapa aku tidak bisa berhenti dan terus mengambil energi miliknya," jelas Vale. Gadis ini benar-benar sudah sadar dan bahkan lebih sehat. Mungkin karena dia sudah mendapat energi yang begitu banyak. "Albus. Kita harus menemui raja. Kita harus memberikan obat untuk Vele. Terlalu banyak mentransfer energi tak baik untuk tubuhnya," papar Cale. Dia senang Vale sudah sadar, tetapi dia kembali khawatir mengingat tindakan Vele yang tak pernah ia ketahui itu. Dia benar-benar kecolongan. "Ayah ... Ibu ... di mana Vele?" tanya Vale sekali lagi yang belum mendapat jawaban. "Dia dibawa oleh raja vampir," jawab Albus. "Tetapi, sepertinya mereka belum jauh. Ayah akan menyusulnya." "Ayah!" cegah Vale cepat. Albus mengurungkan kepergiannya. "Ada apa, Vale?" "Ayah ... Ibu. Aku harus memberitahu kalian sesuatu," ujar Vale dengan nada keseriusan di sini. Vale rasa ini waktu yang tepat bagi keduanya untuk tahu. "Vele dan raja vampir ... mereka adalah pasangan mate," ungkapnya yang mengundang raut wajah keterkejutan pada Albus dan Cale. Vale tahu mungkin saudaranya akan marah karena telah membocorkan fakta ini. Tetapi, Vale rasa keluarganya perlu tahu agar mereka bisa mengambil keputusan mengenai ini. Agar Vele tahu juga apa yang terbaik untuk dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN