Setelah pintu terbuka, ternyata orang itu adalah Andra, suaminya.
"Syukurlah, ternyata itu Bang Andra," lirihnya mengelus d**a berusaha menetralisir detak jantung yang sempat berdetak kencang.
"Tunggu, tapi dari mana dia? Bukankah tadi tidur di kamar?" Belum sempat ia berpikir terlalu jauh, tiba-tiba Andra menyodorkan sebuah paperbag ke arah wanita berparas ayu itu.
"A–apa ini, Bang?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Itu s**u penyubur rahim. Tadi waktu aku keluar, kebetulan liat itu. Yaudah, deh, aku beli sekalian." Andra memalingkan wajahnya ketika mengatakan itu.
'Ada apa? Kenapa Bang Andra memalingkan wajahnya? Apa ada yang salah denganku?' gumam Rania menelisik penampilannya.
"Tapi ... Kamu dari mana, Bang?" tanyanya setelah beberapa saat saling diam.
"Aku dari apotek," jawabnya pelan.
"Ngapain? Kamu sakit? Sakit apa? Kenapa nggak bilang sama aku?" tanya Rania begitu khawatir dengan keadaan suaminya.
"Eh, eng–enggak, kok, cuma sakit magh-ku lagi kumat," jawabnya lagi.
"Kenapa nggak bilang aku? Kan, bisa aku beliin, dan kamu nggak perlu keluar dengan keadaan sakit," ucap Rania, wajahnya begitu menyesal.
"Maaf," lirih Andra dan berlalu dari hadapan Rania menuju kamar tidur mereka.
Lagi-lagi Rania ditinggalkan begitu saja. Sakit tidak? Oh, tentu saja sakit. Bahkan, rasanya tak sanggup untuk tetap berdiri dengan tegap, tapi Rania menepis perasaan itu dan memilih berjalan ke dapur, membuat wedang jahe agar sang suami sedikit lebih baik.
Setelah selesai, Rania menuangkan air jahe itu ke dalam gelas dan membawanya masuk ke kamar. Ketika sampai, diletakkannya minuman yang berbahan dasar jahe itu ke atas meja yang berada di sebelah tempat tidur mereka. Terlihat beberapa jenis obat sudah berkurang jumlahnya.
'Mungkin udah di minum sama Bang Andra,' gumamnya dalam hati.
Rania duduk di pinggiran ranjang, memandang sang suami dengan air mata yang berlinang. Hatinya sakit diperlakukan seperti ini, tapi ia tetap tak bisa mengabaikannya sedikitpun.
"Bang, Abang. Tadi aku buatin kamu wedang jahe. Minum dulu, yuk, selagi hangat, biar perutnya lebih enakan," ucapnya mengambil gelas yang berisi wedang jahe yang tadi ia letakkan di atas meja dan mengguncang tubuh suaminya pelan.
Andra membuka matanya perlahan dan bangkit dari tidurnya. Duduk bersandar pada sandaran tempat tidur dan meraih gelas yang disodorkan Rania padanya.
Diteguknya beberapa tegukan dan mengembalikannya pada sang istri.
"Terima kasih," ucapnya dengan suara bergetar. Wajahnya terlihat pucat dan tak bersemangat. Sepertinya ia sedang demam.
"Yasudah, kamu tidur lagi aja, Bang. Wajahmu keliatan pucat banget." Rania menyambut gelas dan mengambilnya dari tangan sang suami.
Andra mengangguk mendengar ucapan sang istri dan kembali merebahkan dirinya di atas ranjang. Sedangkan Rania meletakkan gelas itu kembali ke atas meja dan menutupnya dengan tutupan khusus untuk gelas agar bisa diminum oleh sang suami ketika nanti terjaga.
Diselimutinya tubuh Andra dengan penuh rasa kasih dan sayang. Bagaimanapun sikapnya belakangan ini, ia tetap suami yang baik dan tak pernah bersikap kasar padanya.
Rania berjalan ke arah sisi ranjang yang lain dan merebahkan dirinya di samping sang suami. Memejamkan mata dan melanjutkan tidurnya yang sempat terhenti tadi.
___
Keesokan harinya, Rania memutuskan untuk mengambil langkah yang berbeda. Ia mengunjungi seorang konselor pernikahan tanpa sepengetahuan Andra. Sedangkan pria itu langsung kembali bekerja karena keadaanya sudah lebih baik setelah meminum wedang jahe buatan sang istri.
Rania menceritakan semua yang terjadi, dari perubahan sikap Andra hingga rasa tidak berdaya yang ia rasakan. Konselor itu mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberikan beberapa saran untuk memperbaiki hubungan mereka.
"Rania, terkadang dalam pernikahan, salah satu pihak merasa terlalu terbebani hingga melupakan esensi dari hubungan itu sendiri. Yang bisa kamu lakukan adalah memberi ruang untuk suamimu, sambil menunjukkan bahwa kamu tetap peduli tanpa memaksa," kata konselor tersebut.
Malamnya, Rania mencoba pendekatan baru. Ia berhenti memaksa Andra untuk berbicara dan mulai fokus pada dirinya sendiri. Ia mulai membaca buku, mengikuti kelas memasak, dan bahkan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Andra, yang awalnya tidak peduli, mulai memperhatikan perubahan itu.
"Kenapa kamu sering pergi akhir-akhir ini?" tanyanya suatu malam.
Rania tersenyum tipis.
"Aku butuh waktu untuk diriku sendiri, Bang. Sama seperti kamu yang selalu meluangkan waktu untuk menyenangkan diri bersama teman-temanmu," jawabnya lembut, dan tersirat kekecewaan di dalam suaranya yang sedikit parau.
Jawaban itu membuat Andra terdiam. Ia tidak menyangka Rania akan berkata seperti itu. Perlahan, Andra mulai merasa kehilangan perhatian yang biasa ia dapatkan dari istrinya.
Setelah hari itu, Rania berusaha menahan diri untuk tidak menanyakan kemana suaminya akan pergi ketika sedang bersiap, ia juga tak lagi melarang ataupun merengek agar suaminya mengajaknya pergi keluar sekedar membeli makanan. Ia pun tak pernah menangis ataupun menunjukkan kesedihannya di depan sang suami. Bahkan, biasanya ia akan pergi ke luar dan tidur di sofa ketika sang suami tak mau memeluknya, kini tak lagi ia lakukan.
Rania mulai bersikap berbanding terbalik dengan yang ia lakukan selama ini. Bersikap dingin selayaknya yang dilakukan Andra padanya belakangan ini. Hal itu membuat Andra begitu bertanya-tanya.
'Apa yang terjadi? Kenapa sekarang Rania nggak pernah merengek lagi kalau nggak aku ajak jalan-jalan? Kenapa sekarang dia nggak pernah nangis lagi kalau aku nggak peluk dia waktu tidur? Apa yang terjadi?' gumamnya kala melihat sang istri tidur dengan nyenyak setelah pertengkaran kecil yang terjadi sore itu.
Di mana Andra memarahi Rania saat wanita itu sedikit terlambat menyiapkan wedang jahe untuknya karena sedikit tidak enak badan. Andra yang kebetulan sedang ingin minum itu, begitu tak sabar menunggu sang istri membuatkannya.
---
Minggu demi minggu berlalu, dan perubahan kecil mulai terlihat. Andra mulai lebih sering mengajak bicara, bahkan menawarkan diri untuk membantu di rumah. Meskipun sikapnya belum sepenuhnya hangat, ada tanda-tanda bahwa hatinya mulai melunak.
Suatu malam, saat mereka sedang duduk bersama di ruang tamu, Andra tiba-tiba berkata, "Rania, aku minta maaf."
Rania menoleh, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Pasalnya, selama pernikahan, Andra tak pernah mengucapkan maaf dn terima kasih selain malam saat maagnya kambuh beberapa malam yang lalu.
"Aku sadar, selama ini aku terlalu egois. Aku terlalu fokus pada diriku sendiri dan melupakanmu. Aku nggak tahu apa aku masih bisa memperbaiki semuanya, tapi aku ingin mencoba," lanjut Andra, suaranya penuh penyesalan.
Air mata Rania jatuh, tetapi kali ini bukan karena kesedihan. Ia tersenyum, merasa perjuangannya tidak sia-sia.
"Kita bisa mulai lagi, Bang. Pelan-pelan," jawabnya sambil menggenggam tangan suaminya.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka berbicara dari hati ke hati. Rania tahu, perjalanan ini masih panjang, tetapi ia percaya bahwa cinta mereka cukup kuat untuk menghadapi segala rintangan.