“Lorong di sana menuju ke mana?” Lucia tersentak dari pikirannya dan mengikuti arah pandang Ian. “Tangga ke lantai atas ... menuju kamarku.” Milda meletakkan nampan dengan dua cangkir teh, wadah gula, dan makanan ringan di atas meja bundar yang membelakangi balkon panjang. Di sana adalah sebuah ruangan kedua yang menyatu dengan kamar Lucia, ruangan untuk Lucia bersantai dengan kursi panjang yang nyaman mengarah ke balkon dan sebuah grand piano di tengah ruangan. Dia diam-diam melihat Ian yang sedari tadi memperhatikan lukisan-lukisan tua di sana. Ini pertama kalinya Milda melihat sosok Ian. Dan ekspresi pertama yang ia tunjukkan adalah kengerian. Apakah tuannya akan baik-baik saja dengan pria berbadan besar sekaligus menyeramkan ini? Lucia tiba-tiba berdeham di sampingnya membuat Mild

