Keesokan harinya Bagus dan Cantika sudaj berada di Bandara menunggu kedatangan Raka. Bagus dan Cantika duduk di kursi tunggu. Rencananya ketiganya akan berangakt ke negara yang terkenal dengan ilmi kedokterannya dimana tidak pernah gagal menyembuhkan pasiennya asal pasien tersebut memang niat untuk berobat dan berkeinginan kuat untuk sembuh. Raka berjalan gontai ke arah Bagus dan Cantika. Wajahnya pucat dan terlihat lemas. Bagus langsung berdiri dan menghampiri Raka. "Kamu tak apa, Raka?" tanya Bagsu berbisik pelan. "Im oke Gus. Loe santai aja," jawab Raka lirih dan tersenyum pada Cantika yang sudah memberikan senyum manisnya pada Raka. Senyuman yang sama saat Raka lihat pertama kali Cantika di kampus. "Raka ... Kamu sakit apa?" tanya Cantika lembut. Raka menoleh ke arah Bagus dan

