Mengambil Hati

1802 Kata
Happy Reading ~ Hope you like it ^^ - Aku mengeliat saat ada sinar yang berusaha masuk menembus retinaku. Perlahan aku membuka mata, dan terkejut saat ada wajah dingin yang tidak pernah perduli padaku kini berada dihadapanku.             Sorot matanya yang tajam, kini tidak menakutkan kala ia menutup matanya. Bulu matanya yang lentik, dan alisnya yang tebal serta hidung dan bibir yang proporsinya sangat pas dengan wajahnya, menjadikannya sangat tampan. Ditambah lagi aku bisa melihatnya sedekat ini, seolah bagaikan mimpi untuk ku.             Tapi bagaimana bisa aku bisa berakhir tidur satu ranjang dengannya? Bukankah semalam aku tidur di Sofa?             Aku segera menutup mata kembali saat melihat pergerakan tubuh dari Adira. Aku tidak mau ia merasa malu saat ku pandangi dari dekat. “Na bangun,” ucap Adira dengan suara seraknya.             Dalam hati ku rasanya ratusan kupu-kupu telah terbang tinggi, senang sekali mendengarnya membangunkan ku untuk pertama kalinya dengan suaranya yang serak.             Aku berakting seolah baru terbangun dengan mengeliat dan perlahan membuka mata. Darah ku berdesir kuat saat Adira mengunci mataku untuk ia pandang. “Kamu gapapa?” tanyanya dengan wajah khawatir.             Ya aku tahu persis itu adalah wajah yang sedang mengkhawatirkan seseorang.             Aku mengangguk ragu, pasalnya aku tidak mengingat kejadian apapun selain tidur di Sofa. “Kamu nyctophobia?” tanya Adira.             Aku mengangguk, bagaimana bisa Adira tahu tentang phobia ku?             Aku mencoba menginat kembali kejadian semalam, apa yang membuat Adira tahu tentang phobia ku.             Aku membelalakkan kedua mataku saat ingat apa yang Adira lakukan semalam untuk ku. Memang saat aku terkena nyctophobia aku cenderung lupa dengan kejadian semalam karena rasa takut dan cemas yang aku rasakan ingin membuatku melupakan hal yang menakutkan untuk ku. “Maaf semalam saya merepotkan Bapak,” ucap ku sembari menunduk karena merasa bersalah.             Adira memegang kedua pundak ku, ia kembali menegakkan tubuhku dan duduk menatapnya. “Sejak kapan?” tanya Adira lagi dengan sorot mata yang terus tertuju pada Ayana.             Ayana mencoba kembali mengingat kapan ia memiliki phobia pada kegelapan. “Saya dulu pernah di kunciin sama Mama tiri saya di dalam gudang yang sangat gelap di umur Saya yang baru masuk sepuluh tahun, alasannya karena Saya sudah membuat Tiara menangis.” lirih ku kembali mengingat awal mula aku memiliki phobia di kegelapan. “Saya teriak minta tolong saat itu, tapi ngga ada satu pun yang datang untuk membantu saya. Papa juga posisinya lagi ke luar kota untuk perjalanan bisnis, jadi ngga ada yang bisa mengeluarkan saya dari sana,” lanjutku dengan suara yang terdengar bergetar. “Saya sangat takut waktu itu. Saya Cuma bisa nangis sambil peluk kedua kaki dan panggil nama Papa, berharap Papa bisa pulang cepat supaya Saya bisa keluar dari gudang,” lanjutku.             Adira terus mendengarkan ceritaku dengan saksama. Tangannya terus mengusap lembut kedua lengan ku. “Mama kamu Elvina?” tanya Adira.             Aku mengangguk, “Mama Saya hanya Renia Adi Wangsa,” jawab ku.             Adira menghela napas berat. Ia seolah tidak percaya dengan hal baru dari hidupku. “Pantas saja kalian terlihat sangat tidak akur,” gumam Adira yang masih terdengar olehku. “Awalnya Saya berniat membuka hati untuk menerimanya sebagai mama tiri, tapi sepertinya dia sangat membenci Saya karena sudah menjadi pewaris keluarga Wangsa,” ucapku dengan tersenyum kearah Adira. “Kamu bahkan sudah dibenci sejak kecil,” ucap  Adira yang berganti mengusap lembut kepala ku.             Aku tersenyum tulus. “Bapak tahu kenapa Saya mau menikah dengan anda? Alasannya adalah supaya Saya tidak pulang ke rumah. Bahkan jika Papa tidak di rumah Saya tidak akan pulang, karena Saya memiliki rumah pohon di belakang rumah,” sahutku dengan senyum yang terus ku berikan untuknya dipagi ini. “Jadi aku mohon, jangan lagi menjauh dariku. Setidaknya anggap aku sebagai adikmu, yang bisa kamu jaga,” lirihku dengan menatap kedua matanya lekat. “Karena aku ngga punya siapapun kecuali kamu dan keluargamu saat ini.” lanjutku.     -                 Aku berjalan menuju dapur dimana hanya ada pembantu yang sedang menyiapkan masakan untuk keluarga Rajendra. Aku pun mendekati Bibi tersebut dan membantunya sebisa ku. “Noona tidak perlu turun ke dapur seperti ini,” ucap Bibi bernama Yanti tersebut.             Aku tersenyum sembari menggeleng, “Tidak apa-apa Bi, aku ingin membantu Bibi memasak,” jawab ku.             Terdengar helaan napas berat disana. “Tolong ajari aku memasak ya Bi. Mama tidak akan marah padamu,” ucapku menenangkannya karena aku tahu jika ia takut dimarahi oleh Sarah Ibu Adira.             Yanti pun mengangguk, ia berjalan menuju lemari untuk mengambil Apron untuk ku kenakan. Ia tersenyum kearah ku sembari memberikan Apronnya untuk ku. Aku pun menerimanya dan memakainya dengan bantuan Yanti. Sungguh dia sangat baik. “Noona beruntung bisa bergabung di dalam keluarga Rajendra,” ucap Yanti di sela-sela ia mengikatkan tali Apronnya di leherku. “Kenapa memangnya Bi?” tanyaku karena aku belum tahu sepenuhnya tentang keluarga ini. “Semua orang yang ada di keluarga ini sangat baik, bahkan keluarga besarnya juga sama. Semuanya ramah, meskipun mereka berada diatas tapi mereka tidak menggunakan kewenangannya untuk menindas sesama manusia,” ucap Yanti mengeluarkan opininya.             Aku mengangguk mendengar Yanti bercerita padaku tentang keluarga ini. “Walaupun Bibi ini pembantu yang jadi juru masak di rumah ini, tapi Bapak dan Ibu tidak pernah memperlakukan kami layaknya pembantu. Kami hanya harus bekerja sesuai tugas dan jam masing-masing, kami pun juga mempunyai kamar yang cukup nyaman dan juga ruang makan untuk kami makan bersama,” lanjut Yanti.             Apa sebaik itu mertuanya saat memperlakukan semua pembantu dirumahnya? Tapi mengapa berbanding terbalik dengan sifat Adira yang dingin dan tidak perduli pada siapapun? “Semua pembantu disini sudah bekerja sejak Aden Adira masih kecil,” ucap Yanti yang membuatku terkejut. “Jadi Bibi tahu bagaimana sifat Adira?” tanyaku padanya.             Yanti tampak melihatku sebelum akhirnya ia melakukan beberapa tugasnya karena waktu terus berlalu. “Waktu kecil Aden Adira sangat dekat dengan kami, dia orang yang ceria dan penuh ambisi. Mungkin karena Bapak sudah mendidiknya dengan memasukkannya di berbagai sekolah saat itu,” ucap Yanti di sela-sela fokusnya memotong sayur.             Aku yang berada disampingnya membantunya untuk mencuci sayur-sayur tersebut agar bersih. “Sampai di umurnya yang masuk tujuh tahun, Aden Nata lahir dan itu membuat Aden Adira merasa bahwa kasih sayang orangtuanya sudah hilang sejak kehadiran adiknya. Dia berubah menjadi anak kecil yang memiliki pemikiran dewasa, dia mandiri sebelum waktunya.” Lirih Yanti.             Seketika terbayang dibenakku betapa besar beban yang Adira pikul selama ini? Apakah ia pernah merasakan bahagia selama hidupnya? Bahkan mantannya juga pernah memberitahuku bahwa Adira tidak pernah benar-benar menerima cinta tulus untuknya, melainkan hanya untuk hartanya. “Loh sayang kamu kenapa di dapur?”             Lamunan ku buyar saat mendengar suara tak asing menembus gendang telingaku. Aku pun segera membalikkan badan dan melihat sosok Sarah yang sudah berdiri tidak jauh dariku.             Yanti di sebelah ku sudah menunduk takut karena membiarkan ku masuk di dapur. Aku pun meraih pundaknya dan kembali menegakkan tubuhnya. “Bibi Yanti ngga salah Mah, aku aja yang ingin bantu Bibi memasak,” ucapku menjelaskan pada Sarah. “Tapi itu ngga perlu sayang, nanti kamu bisa terluka,” sahut Sarah dengan suaranya yang terdengar sangat mengkhawatirkanku.             Aku menggeleng seraya tersenyum untuk menenangkannya. “Di rumah aku dan Mas Adira ngga ada pembantu Mah, dan aku juga sudah biasa memasak sendiri sejak kecil. Kalau aku ngga belajar masak sama Bibi tentang makanan kesukaannya Mas, nanti Mas akan pesan makanan cepat saji terus. Kan Mama tahu itu ngga baik buat kesehatannya Mas,” ucapku pelan sembari menjelaskan pada Sarah secara lembut.             Sarah pun menghela napas beratnya. “Yaudah hati-hati ya kalau masak, jangan sampai terluka.” Ucap Sarah pasrah yang mendapatkan anggukanku.   -               Kini keluarga Rajendra sudah berkumpul di ruang makan untuk makan bersama. Sudah lama aku tidak merasakan makan bersama keluarga seperti ini.             Aku mengambil piring milik Adira saat ia hendak mengambil nasi sendiri. Setidaknya disini aku bisa melakukan tugas sebagai istri walau hanya satu hari.             Aku mengambilkan nasi dengan porsi sedang, begitu juga dengan ikan yang sudah ku masak bersama Bibi Yanti tadi. “Selamat makan,” ucap Jayantaka pada semua orang yang ada di ruang makan.             Kami pun makan dalam diam, menikmati setiap makanan dengan rasa syukur karena bisa menyantapnya bersama orang tercinta.             Aku tersenyum saat melihat Adira makan dengan lahap, seolah ia tidak ingin ada makanan yang tersisa di piringnya. “Masakan Bibi tetap enak ya,” ucap Adira pada Bibi Yanti yang sedang menuangkan minuman di gelasnya.             Yanti tersenyum melihat Adira seraya menggelengkan kepala, “Bibi ngga masak ayam kari den, itu yang masak Noona Ayana,” jawab Yanti yang membuat Adira membelalakkan matanya.             Aku tahu jika Adira terlihat terkejut, namun itu semua ia kendalikan dibalik wajahnya yang tampak dingin. “Iya loh Mama lihat Ayana di dapur pintar banget masaknya, Mama aja kalah karena ngga pernah masak,” tambah Sarah yang sangat kagum dengan menantu satu-satunya itu. “Kalau kak Ayana kesini lagi, masakin Nata ayam kari lagi ya,” ucap Nata dengan mulutnya yang penuh dengan nasi.             Aku tersenyum sembari mengangguk, mengiyakan permintaannya. Sejauh ini semuanya memberikan ku penilaian bagus atas masakan ku, kecuali Adira. Aku tidak berharap lebih, tapi setidaknya aku lega bisa melihatnya makan dengan lahap seperti ini.   -                 Aku menatap lurus jalanan yang kami lewati. Setelah menghabiskan makan pagi, Adira mengajakku untuk segera pulang kerumahnya, ia tidak ingin berlama-lama disana. Padahal aku sangat menyukai keluarganya yang hangat padaku.             Adira tetap bungkam dan tidak bicara padaku sejak ia tahu bahwa makanan yang ia makan adalah masakanku. Aku tidak tahu kenapa ia sangat berubah secara drastis seperti ini, padahal pagi-pagi sekali dia baru saja khawatir dengan keadaan ku.             Aku terlonjak saat mendengar suara deringan ponsel milik Adira memenuhi ruang mobil. Ia pun segera mengangkatnya. “Ada apa Sen?” tanya Adira. “Laporan untuk rapat bulan ini udah gue kirim ke email lo,” “Kok lo yang kirim? Rissa ngapain?” “Ya lo pikir aja sendiri. Dan pastinya Rissa ngga mungkin santai-santai kayak sekretaris kesayangan lo itu,” “Nanti gue cek.” Putus Adira sepihak.               Aku tersenyum tipis mendengar suara samar yang mengatakan bahwa ada sekretaris yang Adira sayangi. Apa itu wanita yang jalan bersama Adira saat di pusat perbelanjaan saat itu?             Aku pun mengalihkan pandanganku dengan membuka ponsel. Aku terkejut saat mendapat email diterima untuk masuk kedalam kampus yang sudah ku pilih. “Bapak malam nanti senggang?” tanya Ayana pada Adira.             Adira menggeleng, “Saya keluar malam nanti.” jawabnya dengan nada dingin.             Aku menghela napas berat, “Kalau begitu saya izin keluar ya,” tanyaku sopan dan hanya mendapatkan anggukan dari Adira.   -                 Aku berjalan mendekat kearah dimana aku melihat Tasya dan Bara yang sudah menungguku. Aku tersenyum saat Tasya melambaikan tangannya kearahku. “Lo apa kabar?” tanya Bara dengan memeluk ku untuk melepas rindu.             Aku tertawa sembari menepuk pelan punggungnya, “Gue baik-baik aja,” jawab ku. “Mama tiri lo masih suka nyusahin lo Na?”             Aku melihat kearah Tasya yang hendak membuka mulut. Aku menggeleng kearahnya, menyuruhnya untuk tetap diam. “Udah engga kok Bar.” jawab ku tersenyum kearah Bara.             Bara Kartawijaya teman ku sejak SMA yang selalu ada untuk menghiburku. Dia teman laki-laki yang sangat peduli dengan hidupku. Setiap malam ia selalu menelepon ku untuk sekedar menanyai bagaimana kabar ku.             Apa aku sudah makan atau belum?             Wajahnya yang tampan, dan hatinya yang lembut membuat gadis-gadis banyak yang menyukainya. Tapi ia selalu menolaknya dan memintaku untuk menemaninya kemana pun ia pergi. “Congratulations Na, udah masuk di Universitas impian lo,” ucap Bara padaku yang sedang melihat buku menu.             Aku mendongak dan tersenyum kearahnya, “Kita satu Universitas,” ucapku yang kini membuatnya merasa malu. “Lebay banget sih lo Bar,” sahut Tasya memberikan olokan padanya.             Bara tampak menggaruk tengkuknya yang ku yakini tidak gatal sama sekali. “Gue Cuma mau kasih selamat aja kali.” Jawab Bara lirih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN