Di ruang rawat VIP itu, ketegangan terjadi. Hawa panas terasa meski AC berembus kencang. Daniel menatap Agnes dengan tatapan tidak percaya, lalu ia berpindah pada Harry yang sedang memandang Agnes dengan tatapan yang sulit ditebak.
“Tunggu! Kenapa ... tiba-tiba kalian bekerja sama? Harry ... bukankah kau ingin bekerja sama dengan perusahaanku?” tanya Daniel heran.
Harry membalikkan badannya dan menatap Daniel. Senyum tipis mengembang di wajahnya.
“Maaf Daniel, tapi sepertinya aku belum bisa bekerja sama dengan perusahaanmu. Kau baru menjalankannya selama dua tahun, dan aku butuh kepastian dengan keuntungan yang besar. Jadi, aku lebih memilih bekerja sama dengan A.C Company,” jelasnya dengan tegas.
Daniel menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan. Ia memejamkan mata sebentar lalu membukanya lagi. “Aku ... masih tidak paham. Bukankah kau ingin bekerja sama denganku karena peluangnya yang sangat besar meski baru rilis?” tanyanya masih tidak percaya.
Tapi Harry tidak ingin menjelaskannya lebih jauh. “Aku akan mengirimkan uang kompensasi padamu atas kerugian yang mungkin akan dialami Diamond Real Estate,” ucapnya dan berbalik pergi.
Tapi sebelum sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti lalu berbalik menatap Agnes sekali lagi. “Aku akan menghubungimu setelah kau keluar dari rumah sakit melalui sekretarisku,” ucapnya lalu keluar dari sana.
Pintu perlahan tertutup, Agnes menatapnya dengan senyum tertahan di wajahnya. Akhirnya Harry mempercayai semua ucapannya. Ia menatap Daniel yang tampak frustasi karena kerja samanya dengan Harry gagal.
“Daniel ... lihatlah, akan sejatuh apa kau di masa depan?” batin Agnes dengan senyum samar yang masih bertahan di bibirnya.
Daniel mencoba untuk meredakan emosinya. Ia duduk di sofa, tangan kirinya memegang ponsel yang baru saja bergetar.
“Aku harus ke kantor,” ucapnya setelah melihat siapa yang menelepon.
Agnes menoleh pelan, sorot matanya menyapu wajah Daniel mencoba mencari kejujuran di sana. Tapi hati Agnes sudah beku, meskipun jujur, Agnes akan sulit percaya.
Hingga ia hanya mengangguk pelan, “Pergilah,” jawabnya lirih. “Perusahaan butuh kamu sekarang.”
Daniel diam sejenak, lalu berjalan mendekat ke sisi ranjang. Jemarinya mengetuk pelan tiang infus, seperti mencari kata-kata yang tepat. “Aku tidak tahu apa maksud Harry datang barusan, tapi … jangan terlalu dekat sama dia, Agnes.”
Agnes menatap Daniel, bibirnya sedikit melengkung, “Kenapa?” tanyanya datar.
“Aku cuma tidak yakin dengan proposal yang dia bawa,” jawab Daniel.“Bagaimana pun, sangat aneh karena tiba-tiba dia berubah pikiran di tengah pembicaraan.”
Agnes menarik napas dalam, “Aku akan bicara dengan pegawai-pegawaiku. Biar aku yang urus semua. Kamu … tidak perlu memikirkan perusahaan aku.”
Daniel menoleh cepat, menatapnya lama.
“Fokus saja di perusahaan kamu sendiri,” lanjut Agnes, “Kita masing-masing punya urusan. Jangan biarkan yang satu merusak yang lain.”
Daniel hanya mengangguk. “Istirahatlah. Aku pergi sekarang.”
Daniel berbalik, mengambil jas yang tergantung di kursi, lalu melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi. Pintu VIP menutup pelan, meninggalkan Agnes sendiri di ruangan yang hening.
Setelah Daniel pergi, Agnes meraih ponselnya di atas nakas. Ia menekan nomor pengacaranya.
“Halo Markus, datanglah ke rumah sakit sekarang. Ada hal yang harus kita bicarakan,” ucap Agnes lalu menutup panggilan telepon setelah Markus memberi jawaban. Ia mendesah pelan, memikirkan langkah pertama sebelum semuanya terungkap dengan jelas.
***
Daniel baru saja keluar dari pintu rumah sakit, kunci mobil sudah di tangannya. Saat ia membuka pintu mobil, tiba-tiba sepasang tangan melingkar dari belakang, memeluk pinggangnya erat.
“Daniel.” Suara manja itu mengejutkan Daniel yang langsung berbalik.
“Emma? Apa yang kamu lakukan?” tanyanya sedikit marah.
“Kenapa respon kamu begitu? Kamu tidak rindu padaku?” tanya Emma cemberut. Tapi Daniel buru-buru menarik tangan Emma, mendorongnya masuk ke dalam mobil. Sementara matanya sesekali melirik kanan-kiri memastikan tidak ada yang melihat.
Daniel menyusul masuk lalu menyalakan mesinnya, tak lama, mobil pun langsung melaju meninggalkan halaman rumah sakit yang ramai. Daniel memegang setir erat, wajahnya tegang, sedangkan di sebelahnya, Emma duduk menyandarkan tubuh, menyilangkan tangan di d**a, wajahnya cemberut kesal.
“Daniel, sebenarnya kau itu kenapa sih? Dari kemarin aku telepon, tidak kau angkat satu pun, sekarang kau malah dingin sama aku!” protes Emma kesal.
Daniel menghela napas berat. “Aku minta maaf, Emma. Semua mata lagi tertuju ke Agnes sekarang. Aku tidak bisa gegabah, satu kesalahan saja yang aku lakukan, riwayatku bisa tamat. Kau tahu itu, kan?”
Emma menoleh, matanya mendelik kesal. “Kau pikir aku tidak tahu? Tapi tetap saja, apa tidak bisa balas chatku sekali saja? Aku sangat merindukanmu.”
Daniel meliriknya sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. “Aku tahu, aku juga sangat merindukanmu,” ucapnya melembut. Ia meraih tangan Emma dan menggenggamnya erat.
Senyum kecil pun muncul di wajah Emma yang langsung menyendarkan kepalanya di bahu Daniel.
“Tapi, Emma ... apa kau kemarin sempat bicara sama Harry?”
Pertanyaan itu membuat Emma spontan duduk tegak. “Kenapa kau tiba-tiba tanya Harry?”
“Tadi pagi dia datang ke rumah sakit,” jawab Daniel pelan, “Dia menemui Agnes. Dan tiba-tiba, batalin kerja sama dengan perusahaanku, lalu malah berpaling ke perusahaan Agnes.”
Emma mengangkat alisnya setengah, ia berpikir sejenak, lalu tiba-tiba tertawa kecil, “Daniel … jangan khawatirkan itu. Harry itu terlalu obsesi sama urusan perusahaan. Dia tidak pernah bisa lepas dari angka dan aset. Bahkan dia tidak pernah tahu kalau aku udah selingkuh berkali-kali. Justru dia makin sayang, makin nurutin semua yang aku mau. Beliin apa pun, yang aku inginkan.”
“Jadi, menurutmu dia pindah ke perusahaan Agnes karena berpikir bisa lebih untung dan membuat perusahaannya lebih maju?” tanya Daniel menyimpulkan.
Emma mengangguk kecil, “Ya. Itu yang selalu Harry lakukan selama ini. Kau tahu sendiri bagaimana dunia mengenalnya. Seorang pria yang tidak punya waktu luang jika tidak mendapatkan keuntungan. Mungkin, dia menerima tawaran Agnes untuk balapan karena tahu akan berpindah haluan.”
“Hmm ... Aku berharap, itu yang memang terjadi.”
Emma lalu meraih ponselnya dan melihat-lihat restoran yang mewah tak jauh dari lokasi mereka saat ini. “Aku lapar sekali, apa kita bisa mampir sebentar ke restoran?” tanyanya dengan suara manja.
Daniel menoleh dan tidak bisa tidak memberikan senyuman saat melihat wajah Emma yang menggemaskan baginya. “Baiklah, apa ada restoran yang bagus di sekitar sini?” jawab Daniel dengan membelokkan mobilnya ke pusat kota.
Emma masih-masih mencari dari dalam ponselnya, lalu ia terhenti dan menoleh pada Daniel.
“Tapi Daniel, apa kau tahu apa yang terjadi sampai-sampai Harry menabrakkan mobilnya kemarin?” tanya Emma penasaran tiba-tiba.
Daniel menggeleng. “Aku tidak yakin, mungkin sebuah tawaran kerja sama dari Agnes atau sebaliknya. Aku benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran keduanya,” jawabnya.
“Benarkah? Aku juga baru kali itu melihat Harry semarah itu,” ucap Emma, tapi ia tidak mau memikirkannya lebih jauh.
“Oh! Ada restoran Italy dekat sini, kita makan di sana saja yaa,” seru Emma antusias. Ia bahkan mengeluarkan jurus manjanya dan Daniel benar-benar tidak bisa lepas dari sihir wanita itu.