Seperti dihantam baru besar, d**a Zaky seketika sakit saat melihat tatou lar di pangkal lengan Nata. Napasnya sesak, sementara jantungnya berdetak tak seirama. “Ini tidak mungkin, bukankah Nata itu seorang dokter, bagaimana bisa ia memiliki tato seperti itu di lengannya. Mungkinkah dia itu ….” Zaky tak mau terjebak dengan asumsinya, ia takut salah. Namun, ketakutan membuatnya begitu gugup dan gelisah. Bagaimana jika yang dipikirkannya benar adanya? Bagaimana jika pemilik tato ular itu adalah salah satu pemain waktu itu. “Akan kuberitahukan salah satu pemain yang pernah kalah dan sempat bercinta denganku.” Masih teringat jelas di ingatan Zaky apa yang pernah dikatakan mucikari yang menghidupinya ketika ia kalah taruhan waktu itu. “Benarkah? Jadi sama sepertiku, kau pun tahu

