Indra melepaskan pagutan bibirnya. “Masa sekarang harus beli dulu gitu? Yang bener aja? Si adik udah bangun, nih. Besok-besok lagi aja, ya, Sayang!” Indra kembali melumat bibir istrinya. “Sudah siap dihukum?” Indra menatap Marisa dengan tajam. Marisa tersenyum balik menatap mata indah suaminya, lalu menganggukkan kepala dan berbisik, “Sudah siap! Tapi pelan aja, ya. Please … keluarkan di luar, jangan di dalam!” pintanya. Indra mengangguk dan menancapkan adik kecil miliknya yang sudah menegang. Sudah lama mereka tidak melakukannya karena Indra harus berpuasa. Kenakalannya di Spanyol membuat Marisa terluka. “Milikmu selalu saja sempit, Sayang.” Indra mengayun secara perlahan agar istrinya tidak kesakitan. “Agh … pelan-pelan, Sayang. Kenapa masih saja sakit, ya? Apa karena milik A’a terl

