Jantung Indra berdegup kencang. Ia sembunyikan lengannya yang gemetar. Bulir-bulir keringat dingin berjatuhan dari dahi. Pandangannya tak luput memperhatikan sang istri. Bersama perawat, kali ini ia mendorong brankar, bukan pasien di rumah sakit seperti biasanya, melainkan mendorong brankar istrinya sendiri menuju kamar operasi. Marisa menggenggam lengan Indra dengan erat. Pertama kali dalam hidupnya. Ia masuk ke dalam ruangan operasi bukan sebagai petugas kesehatan, melainkan sebagai pasien. "Jangan takut, ya, Sayang!" Indra mengusap lembut puncak kepala Marisa. "Iya, Sayang!" Marisa mengangguk. "A’a ada di sini tunggu kamu!" "Anda bisa tunggu di sini, Pak," kata perawat itu kepada Indra untuk menunggu proses operasi selesai. Indra mengangguk. Sang perawat membawa brankar Marisa mas

