BAB 10 Setelah pulang dari kantor, seperti biasa rutinitas Afifah adalah menemani Elvano mengaji, tidak lupa juga untuk sholat ashar berjamaah. Mungkin karena pada dasarnya Elvano itu terlahir cerdas, dan dulu memang dia bisa mengaji saat kecil, karena lupa saja makanya kesulitan. Kini Elvano dengan cepat bisa mempelajari apa yang Kyai ajarkan. “Masya Allah, Bapak pinter banget, harus rajin belajar ngaji terus loh. Tuan Darius pasti senang sekali mengetahui perkembangan pesat putranya.” Afifah memuji Elvano dengan tulus. “Jelas, siapa dulu, Elvano Rafardhan Effendi.” Elvano nampak senang mendapatkan pujian dari Afifah, karena selama ini gadis itu selalu menilai Elvano dengan buruk. “Gak boleh sombong. Oh iya, nanti jam setengah delapan kita berangkat ke pestanya Tuan Aldric ‘kan? Duh

