Selama tiga tahun ia memiliki hubungan dengan Jovian. Tidak pernah sekalipun mereka terlibat pertengkaran atau perdebatan hebat. meski masalah sebesar apapun. Mereka berusaha untuk menyelesaikan masalahnya agar tidak melebar kemana-mana. Tidak seperti pasangan kekasih pada umumnya. Yang suka mengumbar masalah ke sosial media, hingga pada akhirnya masalahnya tidak ditemukan solusi malah pertengkaran berjilid-jilid yang terjadi.
Ryn merasa senang dapat mengenal Jovian. Karena ia adalah laki-laki yang gentleman, ia tidak mengedepankan ego dan tidak gengsi untuk duluan meminta maaf duluan , dan Jovian juga lelaki yang begitu sabar menghadapi segala sikap baik atau buruknya Ryn. dia selalu mengalah untuk wanita yang ia cintai.
Begitu pula sebaliknya dengan Ryn,
Mereka saling menghargai dan melengkapi, itu yang membuat hubungan mereka langgeng selama tiga tahun. Hanya saja, sayang hubungan mereka terhalang oleh restu karena hubungan LDR 'long distance Religionship' atau perbedaan keyakinan yang ada di antara mereka. Membuat ayah dan ibu, serta kedua orang tua Jovian menentang hubungan tersebut.
Semula Ryn dan Jovian berusaha untuk menutupi hubungan mereka dari kedua orang tua nya. Namun seiring berjalan nya waktu, hubungan tersebut semakin dalam semakin dalam mereka rasakan, mereka menganggap sudah tepat waktunya untuk mengakhiri masa lajang dan memilih untuk melanjutkannya ke jenjang pernikahan.
Hingga akhirnya mereka mengungkapkan hubungan mereka kepada orang kedua orang tua merek masing masing. Dan meminta restu untuk menikah.
Namun sayang, impian mereka telah sirna. Orang tua Ryn dan orang tua Jovian sama sama menentang hubungan mereka.
Ryn pun merasa tidak mampuh menentang kedua orang tuanya, begitu juga dengan Jovian yang tak mampu melawan restu dari kedua orang tua. Sehingga pada akhirnya, mereka memutuskan untuk merelakan hubungan percintaan yang semula baik baik saja. Harus kandas.
Penentangan yang ditunjukkan dari sikap ayah Wusnu terbilang kasar, sehingga membuat Ryn sangat tertekan.
Amarah ayah Wisnu memanglah sulit untuk dihindarkan. Dirinya akan menentang habis-habisan jika ia melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan semestinya.
Wisnu lelaki yang sangat tegas dan berprinsip, ketika ia berkata "tidak" maka dia tidak akan merubah pendiriannya. Tanpa terkecuali.
Ryn merasa sangat tertekan, karena selain dari hubungannya bersama jovian kandas, dia juga harus menerima perjodohannya dari orang tuanya, dengan orang yang tidak ia cintai.
Namun keputusan kedua orangtuanya tidak lantas membuat ia menerima perjodohan ini sepenuhnya, meski ia sudah menjadi istri dari Andrian. Hati dan pikirannya masih selalu tertuju kepada Jovian.
>
Sebenarnya Ryn ingin mengungkapkan perasaan yang ia rasakan saat ini kepada Andrian. Namun ia tidak mampu untuk mengungkapkanya. Ia takut suaminya pasti akan kecewa bila tahu ia masih merindukan Jovian. Karena, meskipun Ryn belum bisa mencintai Andrian, namun apa yang telah diberikan oleh Andrian kepadanya membuatnya menjadi luluh. Andrian terlalu baik kepadanya. Cinta Andrian kepada Ryn sangat besar sampai ia rela melakukan apapun demi Ryn.
Untuk mengurangi rasa rindunya kepada orang yang tidak mampu ia lihat, akhirnya Ryn memutuskan untuk tidur, rasa rindu yang mendalam membuat Ryn sangat tertekan sehingga ia merasakan kepalanya semakin sakit.
#PoV Andrian
" cklek..." Aku membuka kamar Ryn perlahan, agar suara nya tidak membangunkan Ryn yang sudah tertidur, karena aku yakin pasti Ryn sudah terlelap. Semenjak Ryn sakit aku tidak pernah merasakaan tidur yang pulas. Diriku sangat khawatir dengan keadaan Ryn. kekhawatiran berlebih membuatku takut akan kehilangan dirinya. Aku tidak mau kehilangan Ryn untuk kedua kalinya.
" Ryn...." Aku berusaha membangunkannya, ku sebut namanya, namun nampakknya tidak ada respon darinya. Aku menepuk pelan pundaknya, dan mengubah posisi tidurnya dengan membuatnya menghadapku. tangan ku menyrntuh kening Ryn, untuk mengecek suhu panas ditubuhnya.
kupandangi wajahnya, meskipun ia tidur dalam keadaan sakit, namun kecantikkannya tidak berkurang sama sekali. Wajah Ryn terlihat teduh, dan mempesona, membuatku ingin sekali mendekap hangat dirrinya, dan menciumnya berkali - kali.
" Ryn, abang sayang sama kamu. Cepat sembuh ya sayang, jangan membuat abang khawatir kaya gini. Tolong cepatlah sembuh sayang." Aku membisik pekan kata kata ini ditelinganya.
"hmmm..." Ryn menghela napas panjang. Tanganya dengan refleks memeluk tubuhku. Akupun akhirnya berlabuh ditubuhnya, sangat dekat kurasakan wajahnya dengan wajahku. Sudah lama aku menantikan ini. menantikan pelukan dari gadis pujaanku. ' gadis' ucapku dalam hati.
Seketika kata - kata itu muncul dalam benakku. Aku merasa bahwa Ryn memanglas terbilang masih gadis, karena selepas menikahinya, sedikitpun aku belum menyentuhnya. Apalagi menidurinya. ' akkhhh... rasanya aku ingin sekali memelukmu lebih dari ini Ryn. Aku mencintaimu..'
" sayaaang.... hmmm..." ucapan Ryn sontak membuai diriku, meskipun aku sedikit terkejut. Namun mendengar Ryn memanggil sayang, membuat ku sangat bahagia mendengar nya.
" katakanlah sekali lagi sayang, aku ingin mendengarnya, sekali lagi.. ucapkan lagi seperti itu kepadaku. saa.. yaang. Ayo ucapkanlah lagi seperti itu babe " titah ku agar masuk kedalam telinga Ryn.
" Joviaannn.. saaayaang.. hmmm...aku merindukanmu." Ryn pun mengatakan nya sekali lagi, namun Aku sungguh terkejut karena, yang kudengar kali ini berbeda dengan apa yang ku harapkan.
Alam bawah sadar Ryn, membuat Ryn akhirnya mengungkapkan sesuatu yang mungkin ia tak terbendung lagi . Namun Ryn tidak menyadari bahwa akhirnya kata - kata itu, terdengar sampai ke telingaku. Dan membuat hatiku seperti tercabik - cabik. Mulutku terasa kaku, aku tak mampu mengatakan apa - apa lagi.
" Apakah sesulit itu untuk melupakkan nya Ryn, sampai pada sakitmu, yang kau ucap hanya namanya, Apakah tidak ada sisa - sisa kengangan yang ada dihatimu tentangku. Bukan kah kita dahulu juga pernah memadu kasih. Ryn, Abang mencintai kamu, apakah kamu tidak rasakan cinta abang yang begitu besar?" ucapku berbisik pelan ditelinganya yang masih sangat dekat dengan bibir ini.
Perlahan kulepaskan ikatan tangannya dileherku, aku menajuhkan tubuhku kepadanya. Bukan karena aku membenci Ryn setelah mendengarkan perkataan itu, akan tetapi aku takut suara isak tangisku terdengar di telinga Ryn dan membuatnya bangun. Akun tidak mau mengganggu tidurnya yang sedang pulas - pulasnya.
Perlahan ku buka gagang pintu kamar Ryn dan berlari menuju kamarku sendiri, kubiarkan ia sendirian dikamarnya, karena aku ingin menjernihkan pikiranku.
***
Didalam kamar yang sepi, tanpa ada orang yang menemani, status ku memanglah sudah menikah, namun aku tidak merasakan seutuhnya pernikahan ini, nikah atau tidak menikah sama saja. Aku masih sama, tidur dikamar sendiri tanpa sosok seorang istri. Istri yang kunikahi tak semata - mata menerima diriku dan mencintaiku, karena ia mencintai orang lain. Dan masih memikirkan mantan nya itu.
Kata - kata Ryn barusan masih terngiang di telingaku, Aku terus memikirkan cara supaya Ryn dapat mengingat, separuh ingatan nya yang hilang itu, agar dia menyadari bahwa aku dan dirinya saling mencinta. Aku terus memikirkan nya hingga pagi menjelang.
Aku menatap wajahku di depan cermin, mataku sembab, mungkin karena aku menangis semalam, atau aku tidak bisa tidur semalaman, entahlah aku tidak mengerti. Yang aku mengerti adalah. Aku benar - benar hancur, hatiku remuk namun aku hanya bisa pasrah dan mengalah, agar diriku masih bisa terus disamping wanitaku ini. Karena hanya bersama nya lah hidupku jadi berwarna.