Saron menempelkan pipi di meja. Dia pandangi jari telunjuk yang bergerak naik-turun di depannya, menciptakan bunyi tuk-tuk-tuk yang sesekali membuat telinga berdengung. Dia mulai bosan. Seharian, Faza tak melakukan apa-apa pada brankasnya. Pria itu hanya mondar-mandir dan mendekam di dalam ruang kerja. Kabar pembunuhan Queen pasti telah sampai kepadanya. Mungkin lelaki itu khawatir polisi mencium skandalnya dengan Queen, lalu menciduknya sebagai saksi atau terdakwa. Mungkin juga dia sibuk menyumpal mulut media untuk melindungi nama perusahaan. Ah, pikiran Saron mulai rancu. Tidak seharusnya dia mengurusi pria itu. Saron hanya perlu fokus pada brankas, mengambil microchip, lalu perannya akan berakhir. Tidak ada lagi seragam cleaning service. Tidak ada lagi acara mengepel lantai dan menge

