Faza W. Hayes, pria 29 tahun, terlahir dengan ketampanan maksimal. Iris biru laut yang terkurung dalam garis mata indah. Alis tebal, hidung lancip, dan bibir sensual. Dia ternama dengan sorot mata tajam yang selalu berhasil menenggelamkan keangkuhan kaum wanita. Tak sedikit pula yang bilang kalau senyum Faza bagai sinar mentari pagi. Indah, hangat, dan mengagumkan.
Tak hanya itu saja. Karisma Faza juga terpancar dari bentuk tubuhnya. Rutinitas olahraga pagi membuat otot-otot Faza terbentuk sempurna. Dia juga memperhatikan kalori pada menu yang hendak masuk ke perut. Termasuk minuman beralkohol maupun soda. Faza tidak pernah meminum mereka secara berlebihan.
Dengan demikian, pantas jika banyak makhluk cantik yang berebut menjadi kekasihnya, atau bagian dari daftar panjang cinta satu malam Faza.
Setelah menempuh pendidikan magister di Universitas Oxford, Faza dinobatkan sebagai CEO Hayes Group. Posisi mentereng yang sebenarnya tak pernah diinginkan pria itu. Akan tetapi, sebagai satu-satunya ahli waris, Faza tidak bisa mengelak. Takdir telah membawanya pada kehidupan baru yang cukup memuakkan baginya.
Tak jarang dia mendengar selentingan dari karyawan maupun dewan direksi. Persentase orang-orang yang meragukan kemampuan Faza dalam mengelola perusahaan lebih besar dari mereka yang percaya. Faza tak pernah ambil pusing. Sebab penilaian negatif mereka ialah imbas dari tingkah laku Faza sebelum menduduki kursi CEO.
Sejak kecil, kekayaan dan kemewahan bagaikan makanan sehari-hari bagi Faza. Dengan uang tanpa batas, Faza mendapatkan apa pun yang dia suka. Termasuk para wanita cantik. Ya, begitulah kenakalan yang dilakoni selama ini. Bukan mabuk-mabukan atau mengkonsumsi narkoba, Faza cenderung suka mempermainkan para wanita yang hanya mengincar kekayaannya.
Ketampanan dan pesona Faza bagai jaring yang menjerat ribuan kaum hawa. Harta keluarga pun jadi umpan sempurna untuk bermain-main dengan mereka. Faza tak membutuhkan banyak gaya. Hanya dengan kedipan mata, siapa pun wanita itu dipastikan akan jatuh ke dalam peluknya.
Sehingga, terasa aneh ketika dia menjumpai wanita di dalam lift tadi. Dia merasa seperti bangkai busuk yang layak untuk dijauhi. Padahal, Faza telah mengerahkan sebagian pesonanya. Parfum Bvlgari Pour Homme tak pernah gagal memikat wanita. Dia sempat terpuaskan saat wanita itu mengendus tubuhnya. Namun, saat wanita itu beringsut mundur dan melarangnya menyentuh--padahal hanya untuk memeriksa name tag yang mengalung di lehernya--kepuasan Faza terpatahkan.
"Sial! Siapa dia? Kenapa dengan mudahnya dia menghinaku seperti itu?" Faza memukul pintu mobil.
Dentuman keras menarik perhatian Mola. Pria lajang berusia 35 tahun yang telah lama menjadi asisten pribadi Faza itu mengernyit. Dia penasaran dengan seseorang yang telah membuat Faza kesal. Namun, Mola tidak ingin bertanya secara langsung. Biasanya, dia akan menunggu hingga Faza buka suara.
"Mola, tunda jadwalku pagi ini!" perintah Faza, masih dengan nada beraroma murka.
"Maaf, Bos. Jadwal pagi ini tidak bisa dibatalkan atau diundur. Jam 7.30, Anda akan menghadiri rapat dengan para dewan direksi untuk membahas perencanaan pembukaan cabang di Rio. Selanjutnya, Anda akan sarapan dengan Tuan Hayes. Pertemuan dengan ….."
"Sudah-sudah-sudah. Kamu membuat level badmood-ku makin bertambah." Faza menyandarkan punggung seraya membuka kancing paling atas kemejanya. Dia beri sedikit kelonggaran di leher.
"Ibu Anda menelepon beberapa kali semalam. Dia menanyakan keberadaan Anda dan kenapa ponsel Anda tidak bisa dihubungi. Apa Anda tidak pulang lagi?"
"Bukan urusanmu," jawab Faza dengan mata tertutup.
"Bos, demi kebaikan Anda, berhentilah bermain-main dengan wanita! Sudah saatnya Anda mencari pendamping hidup dan menemukan tempat pulang saat Anda lelah."
Nasihat Mola mendapat respon tidak menyenangkan. Mata Faza berkilat. Seakan-akan terdapat aliran listrik beribu-ribu volt yang siap diluncurkan ke arah pria di sampingnya. Dia bersumpah akan menghanguskan Mola jika kalimat serupa terucap lagi.
"Apa ibu yang menyuruhmu berkata seperti itu?"
Mola mengulum bibirnya. Dia ubah sikap tubuh menjadi tegak sempurna dengan pandangan lurus ke depan dan kedua tangan bertumpuk di atas paha. Jika sudah seperti itu, pertanda dia akan menurut layaknya anjing rumahan.
"Apa ada karyawan baru di kantor kita?"
Mola melengak. Faza bukan termasuk atasan yang peduli dengan hal-hal sepele perusahaan. Dia terlampau fokus pada urusan serius dan berambisi menampar orang-orang yang meremehkannya dengan prestasi.
Pertanyaan itu seperti bingkisan menarik yang harus dibuka cepat-cepat. "Kenapa tiba-tiba Anda menanyakan hal seperti itu?"
Faza mengangkat kelopak mata. Dia tegakkan sedikit punggung, lalu menatap barisan gedung di tepi jalan. Ketika mobil tiba di depan kantor Hayes Group, Faza berkata, "Aku ingin data semua karyawan ada di mejaku pagi ini."
"Baik, Bos."
Percakapan berakhir ketika seorang pengawal membukakan pintu mobil untuk Faza. Dia keluar, kemudian merapikan busana dan memastikan waktu kedatangannya. Tidak terlambat meski dia sempatkan waktu untuk pulang, mandi, dan berganti pakaian setelah pertarungan semalam.
Di depan kantor, barisan direktur menantikan sapanya. Kemudian, mereka mengikuti Faza di belakang. Direktur perencanaan berjalan di samping Faza sambil memberikan berkas yang harus dipresentasikan pagi ini, berikut penjelasannya.
Faza terlihat tak nyaman dengan keterangan yang diberikan pria tua bangka itu. Telinganya seakan-akan dijejali bara api yang membuat kepalanya mendidih. Memasuki lift pribadi, Faza melarang siapa pun masuk, kecuali Mola. Dengan santainya dia menyuruh mereka menggunakan lift lain.
Senyum sempat terbit di wajah Faza usai melihat rupa-rupa penuh kekecewaan itu. Dua detik kemudian, tepat ketika pintu lift nyaris tertutup, dia melihat gadis yang ditemuinya subuh tadi. Kacamata tebal dengan bingkai bulat, rambut hitam berpadu pirang yang diikat kuncir kuda, serta postur tubuhnya serupa. Faza yakin itu gadis yang sama. Sayang, pintu lift lebih dulu tertutup sebelum Faza sempat memastikan dugaannya.
"Apa kamu melihatnya?" tanya Faza.
"Melihat apa?" Mola membalas pertanyaan dengan pertanyaan. Dia, yang sedang asyik melakukan chating panas dengan sang kekasih, seketika linglung. Apa atau siapa, Mola benar-benar tidak tahu.
"Ck, lupakan!" Faza kembali memandang ke depan, sementara pikirannya masih terusik wanita itu. Dia memasukkan kedua tangan saku celana, lalu bergumam, "Entah bagaimana ibu bisa memilihmu menjadi asistenku."
"Apa Anda baru saja mempertanyakan kredibilitas saya?" Suara Mola tiba-tiba bernada menusuk. "Harus berapa kali saya memberi tahu Anda? Saya ialah salah satu lulusan terbaik di fakultas bisnis dan manajemen Universitas Oxford, tujuh tahun sebelum Anda. Saya juga mempunyai banyak prestasi di perusahaan ini: menjadi karyawan teladan di setiap bulan hingga tiga tahun berturut-turut. Presiden bahkan mengakui keunggulan saya dengan memberikan posisi sebagai asisten putranya yang sedikit super."
Mola menekuk sebelah tangan ke atas, seperti sedang mengangkat barbel. Penjelasan panjang lebar yang tidak penting itu seperti diucapkan dalam satu tarikan napas. Dan ya, Faza sedikit tersindir dengan gerakan Mola di akhir omong kosongnya.
Dia jelas tahu apa yang Mola maksud dengan 'super'. Menjadi pengikut setianya selama tiga tahun tentu Faza bak diary terbuka bagi Mola. Sengaja Faza tidak menutupi tingkah polahnya. Dia malah ingin Mola melaporkan apa pun tentang itu kepada sang ayah, Liam Hayes, agar Faza dibebastugaskan.
Namun, rencana Faza gagal. Mola tidak pernah menyampaikan kenakalannya. Dia malah menutup-nutupi kelakuan buruk Faza dari presiden dan nyonya besar.
Ketika lift berdenting dan terbuka, direktur keuangan menyambut Faza di depan. Dia menunduk hormat, lalu bergerak seiring langkah Faza menuju ruang rapat.
"Apa laporan keuangan bulan ini sudah siap?" tanya Faza.
"Saya akan memberikannya kepada Anda setelah rapat usai," jawab direktur keuangan
Faza menghentikan langkahnya. "Setelah rapat usai? Aku pikir, laporan itu sudah mendarat di mejaku pagi ini."
"Maafkan atas keterlambatan ini, Pak. Saya masih menunggu data dari salah satu manajer." Direktur keuangan menunduk dalam hingga kepala plontosnya terlihat bak lapangan sepak bola yang berkilau.
"Masih ada juga karyawan seperti itu di kantor ini. Siapa dia?"
"Louis Montecarlo."
Faza terdiam sesaat, lalu berkata, "Pecat dia!"
Faza melanjutkan langkah menuju ruang rapat.
"Ta-tapi, Pak …." Direktur keuangan mengejarnya.
"Apa kau juga ingin dipecat?"
Pertanyaan itu membungkam mulut si kepala plontos rapat-rapat. Dia bergeming hingga Faza melewati pintu dan menyapa para dewan direksi. "Selamat pagi."
"Selamat pagi," sahut para dewan direksi serentak.
Faza mendengar beberapa di antara sahutan itu yang tak bersemangat. Dia memaklumi. Ini bukan pertama kali dan sepertinya, Faza mulai membiasakan diri. Faza meletakkan berkas di meja, sementara beberapa karyawan menyiapkan piranti untuk memulai presentasi.
Lampu ruang dipadamkan. Proyektor dinyalakan. Lembar pertama dari rangkaian proposal telah tampil di layar. Saatnya Faza beradu nyali, memamerkan apa yang telah dia pelajari dan dapati.
Selama presentasi berlangsung, Faza mencoba tidak memedulikan tanggapan yang lebih tepat dibilang diskusi sarkastis. Dia terus saja menjelaskan apa yang seharusnya dijelaskan, dan berhenti ketika semua telah tersampaikan.
Kini, dia berdiri seraya menanti kalimat protes apa lagi yang akan terlempar ke mukanya.
*** to be continue ***
Note : Presiden di sini bukan berarto pimpinan sebuah negara ya, Genks. Dia adalah pimpinan tertinggi perusahaan, alias buapaknya si Faza. Wkwkwkwk...
Oke, chapter 2 sudah beres. Gimana menurut kalian tentang karakter si Faza?
Jangan lupa tap love untuk menerima notif ketika chapter baru aku unggah.