06 | Warna Semu

2203 Kata
Terkadang, tempat di mana kau merasa sangat nyaman, di sanalah kau akan terluka lebih banyak. Nico mengeringkan rambutnya dengan selembar handuk kecil. Diliriknya ponsel yang tak kunjung berhenti menjerit dari kejauhan. Siapa sih yang pagi-pagi begini berani mengganggunya?! Nico mengerang seraya menghampiri benda mungil itu. Diraihnya dengan malas dan tanpa melihat nama yang tertera, ia lantas menjawabnya.., “Halo?” Ketus Nico membuat sang penelepon mengernyit. Terdengar ringisan kecil dari seberang. “Ng.., Co? Gue ganggu ya? Hmm, sori deh.” Kesadaran Nico langsung menyentak begitu suara Bulan yang terdengar. Ia melirik layar ponselnya, memastikan siapa yang saat ini menghubunginya. Dan benar saja, Bulanlah yang memang tengah berbicara dengannya. Sialan! Umpat Nico dalam hati. Terlebih memaki dirinya sendiri. Nico buru-buru menjawab, “Eh, nggak kok Lan. Gue pikir tadi lo siapa gitu...” Nico terkekeh. Memang gue mikir dulu tadi? Decaknya dalam hati. “Ada apa Lan?” “Oh ini, gue ada kelas jam 8, tapi sejak jam setengah 7 gue di sini nggak ada juga bus dan angkutan lain yang lewat...” Bulan berdeham, “Gue boleh minta tolong nggak? Gue mau nebeng kalau lo juga ada kelas, Co.” Bulan tertawa kecil. Tawa yang membuat darah Nico berdesir hebat. “Ah, Lan. Lo kayak sama siapa aja!” Nico tersenyum lembut, tatapannya begitu teduh seolah sosok Bulan ada di depannya. Dan gadis itu tidak akan pernah mengetahuinya. “Lo tenang aja, posisi lo di mana sekarang? Chat lokasinya. Gue jemput sekarang ya.” Ya, apa pun untuk gadisnya. Meskipun ia sedang libur karena dosen tidak masuk hari ini. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu pada Bulan! Bisa-bisa gadis itu tidak mau menerima tebengannya karena tidak enak hati. Nico bergegas merapikan diri. Ia melirik jam dindingnya lantas mengembuskan napas. Hmm, sepertinya tidak apa-apa jika sekali-kali ia batalkan rencananya. Ya, semoga saja adiknya tidak merajuk. Nico menuruni tangga dengan senyum tertahankan. Didapatinya-adik perempuan yang paling ia sayangi-tengah mengernyit memandangi penampilannya. “Lho, Kak Nico mau kemana? Kampus? Katanya libur?” tanya Rika, bingung. Nico meringis. “Gue mau jemput Bulan nih, sori banget ya? Besok deh kita perginya, gue bolos demi lo nanti.” Nico terkekeh, “Nggak apa-apa kan?” Rika tersenyum manis. “Nggak apa-apa kali, Kak. Rika bisa menunggu kok, kapan aja yang Kak Nico bisa.” Nico mengusap puncak kepala Rika dengan sayang. Meskipun bukan adik kandungnya, Nico teramat menyayangi gadis ini. “Sori ya. Kasihan Bulan soalnya, angkutan umum lagi nggak ada yang lewat dan dia ada kelas sebentar lagi. Gue cabut ya...” Nico menepuk-nepuk puncak kepala Rika, lantas berlalu dengan bersiul kecil. Nico tampak begitu senang ketika nama Bulan tersebut oleh bibir manisnya. Terdengar deru motor Nico berlalu. Rika tahu, Nico tidak pernah ingin menunjukkan bahwa laki-laki itu adalah anak dari keluarga “berada” di depan semua orang. Terutama di depan gadis bernama Bulan. Entah apa alasannya, Nico selalu membalas hanya dengan senyum saat Rika bertanya hal itu. Rika menatap pintu yang beberapa saat lalu menelan sosok Nico di baliknya dengan hati miris. Ia mengembuskan napasnya kasar seraya menyugar rambut pendeknya. Sampai kapan ia harus menahannya? Berpura-pura senang saat orang yang dicintai bahagia bersama orang lain itu sama dengan menyiram cuka pada luka yang menganga. Rika memang masih ingusan untuk soal cinta. Namun, tidak ada lagi yang berharga baginya selain Nico. Rika merasa nelangsa. Ia seperti jiwa penderita yang nyaris tidak dibiarkan bernapas oleh sang takdir. Rasa sesak yang begitu menghimpit bahkan tidak mempersilahkan dirinya menghirup sedikit oksigen untuk bertahan hidup. Ia bahkan tidak sadar bila napasnya memburu... *** “Mulai dari sekarang, panggil gue Bulan aja oke?” Biru manggut-manggut, patuh. Wajah laki-laki itu tampak bingung, namun Biru senang dengan ucapan Bulan. Bukankah itu artinya Bulan tidak lagi berjarak jauh dengannya? Biru mengulum senyum. Kalau dipikir-pikir, waktu bukankah terasa cepat berlalu? Dulu, ia akui, ia sedikit merasa risi dengan kehadiran gadis ini. Karena Bulanlah tatapan-tatapan merendahkan dari orang lain padanya semakin terasa menusuk. Tapi tidak dapat dipungkiri, karena gadis ini jugalah Biru mendapat kedamaian. Bulan seolah telah bertanggung jawab atas kehadirannya dalam hidup Biru. Bulan memperbaiki seluruhnya, bahkan lebih baik. Di awal-awal OSPEK saat itu, Biru tidak akan pernah menyangka, pertemuan tidak sengajanya dengan Bulan membuat takdir gemar menghapus sedikit demi sedikit jarak di antara keduanya. Juteknya Bulan saat OSPEK yang sempat membuatnya tak jarang membatin sendiri, tiba-tiba berubah di hari saat ia telah resmi menjadi mahasiswa di sini. “Eh, ngapain lo senyum-senyum?!” Bulan mendelik, membuat Biru meringis malu. “Jangan mikir macam-macam! Gue menyuruh lo untuk panggil nama doang karena gue malas dengar lo plin-plan. Terkadang sok hormat, terkadang sok dekat.” Bulan mendengus, “Lagian gue nggak suka lo panggil “kakak”, bodi lo aja dua kali lebih besar dari gue.” Biru tersenyum kecil mendengarnya. Bulan tidak semungil Bintang, tapi Biru lebih besar dari Langit. Yah, adil memang. Lagi-lagi, batin Bulan mengeluh kecil, seandainya Biru cakep. Mau tidak mau, sosok tampan bermata kelabu yang tidak sengaja menabraknya di mall waktu itu, terlintas di benaknya. “Jadi, Bulan mau kemana sekarang?” Bulan mengerjap kemudian berpikir. Gadis itu mengetuk lembut dagunya dengan telunjuk. “Hmm, sebenarnya gue juga bingung mau kemana. Gue panggil lo ke sini karena gue bosan, dosen hari ini pada janjian nggak masuk kali ya?” tanyanya terlebih pada dirinya sendiri. Ya, keduanya kini berada di kantin kampus. Bulan menghubungi Biru untuk menemaninya karena dosen hari ini tidak masuk. Hmm, tahu begitu, Bulan tidak akan meminta Nico mengantarnya dan membuat laki-laki itu repot pagi tadi. Nico sudah pulang. Begitu Bulan menyadari bahwa laki-laki itu tidak ada kelas, Bulan langsung menyuruhnya kembali ke rumah karena tidak enak hati. Nico awalnya menolak karena ingin menemani Bulan sampai kelas gadis itu dibuka. Namun, Bulan memaksanya. Dan akhirnya, gadis itu sendiri yang menyesal karena menyuruh Nico pulang sementara dirinya menunggu seperti orang bodoh di depan kelas. Lalu, ketua angkatan yang berjadwal sama dengannya, memberitahu di chat bahwa dosen hari ini berhalangan masuk. Mendadak. t*i memang! Bulan yang bingung harus ke mana dan mau apa, akhirnya menghubungi Biru. Agak malas juga menghubungi laki-laki itu sebenarnya. Nanti Biru kepedean! Dipikir, Bulan sudi meneleponnya kalau tidak butuh banget seperti ini? Eh? Secara tidak langsung, bukankah Bulan mengatakan ia membutuhkan Biru? Ah, sudahlah! “Bulan suka ke festival gitu nggak?” tanya Biru. Bulan mengangguk, ragu. Mungkin lebih tepat jika Bintang yang menyukainya, bukan Bulan. Namun, pada akhirnya ia menyetujui usulan Biru. “Ayuk kita ke sana. Naik sepeda Biru aja ya? Dekat kok.” Biru lantas meraih tangan mungil Bulan. Jemari gadis itu sampai tenggelam dalam kuasa genggamnya. Bulan ingin melepasnya, namun senyum tulus sang Biru membuat hatinya merasa hangat oleh cahaya asing. Ya, cahaya baru yang tanpa disadari telah mengisi sedikit ruang di dasar rasa. Keduanya berjalan ke arah pelataran sambil bersenda gurau. Bulan sibuk tertawa dan tidak menyadari kehadiran mobil sedan merah yang berhenti di kejauhan karena sang pemilik tengah mengamati mangsanya. Lalu... Semuanya terjadi begitu saja. Bunyi kekejaman sang s*****a api, memekakan telinga. Semua orang di sana berhamburan, menjerit ketakutan. Pelatuk telah mempersilahkan pelurunya untuk melukai. Memuntahkan benda kecil berkekuatan itu untuk menghabisi. Dalam rengkuhan Biru, Bulan tidak sadarkan diri. *** Biru memeluk dirinya sendiri. Memandangi lantai rumah sakit yang pucat dalam diam. Terdengar derap langkah seseorang yang semakin dekat. Didapatinya seorang wanita berparas cantik tengah panik dengan wajah berlinang air mata. Darahnya berdesir. Wanita ini begitu mirip dengan Bulan dan sekaligus mengingatkannya pada sang bunda... “Bagaimana Bulan, Nak?” tanyanya seraya mengguncang-guncang lengan Biru. Wanita itu lantas menarik napas dan mengembuskannya. “Maaf, saya benar-benar panik. Saya tidak mau kehilangan lagi...” Lagi? Tanya Biru dalam hati. Namun, alih-alih bertanya akan rasa penasarannya, Biru justru berucap, “Nggak apa-apa, Bundanya Bulan. Bulannya nggak apa-apa. Barusan dokter bilang sama Biru, Bulan hanya shock,” jelasnya dengan senyum. Ya, memang. Peluru itu meleset. Benda mengerikan itu hanya menyerempet kulit mulus Bulan. Meskipun gadis itu memang terluka dan berdarah, tapi tetap tidak ada luka serius. Siapa yang berani-beraninya melukai Bulan?! Biru tidak habis pikir. “Boleh saya masuk? Saya ingin melihat anak saya,” tanya Belinda, terlebih pada dokter yang datang menghampirinya. Dokter itu tersenyum dan mengangguk. “Silahkan, Bu. Semuanya baik-baik saja, percayalah.” Begitu sosok Belinda menghilang di balik pintu, senyum dan tatapan teduh sang dokter menghilang. Ditatapnya laki-laki yang tengah menunduk itu dengan tatapan tajam. “Aku tidak akan lagi menolongnya jika ini semua benar perbuatanmu,” desisnya. Laki-laki itu mendongak. Menatap sosok berjas putih tersebut dengan kilat terluka. Ia ingin mengatakan bahwa bukan dirinya. Namun, pada akhirnya ia hanya berucap, “Terima kasih.” Ia terkejut, hingga kedua matanya sedikit terbelalak. Biasanya, laki-laki tersebut hanya bersandiwara. Dengan mimik kesedihan yang dibuat-buat lantas kembali menunjukkan seringainya. Tapi tidak dengan kali ini. Mungkin memang benar, bukan karena ulahnya kali ini. Dokter itu mengembuskan napasnya, kemudian tersenyum seolah tidak terjadi apa pun. “Gadis itu memanggil-manggil nama Biru sejak tadi. Temuilah.” *** “Bulan?” “Bintang,” lirih Bulan seraya tersenyum. “Sini, sini.” Gadis itu menepuk-nepuk sisi ranjangnya. Biru menghampirinya. Belinda, bunda Bulan yang baru saja pamit, mempersilahkannya untuk masuk dan menemui Bulan. “Bulan udah lebih baik?” tanya Biru saat laki-laki itu telah duduk di bangku samping ranjang. Bulan tersenyum seraya melirik lengan atas kanannya yang diselimuti perban. “Seperti biasa kok. Tapi agak perih sedikit sih, tapi nggak apa-apa.” Senyumnya hilang begitu Biru menunduk dalam, “Hey, lo kenapa?” “Maafin Biru, Bulan. Karena Biru, Bulan terluka...” lirih Biru. “Iya iya, nggak apa-apa. Memang sih seharusnya lo yang kena kan, ya?” Bulan terkekeh saat Biru mendelik padanya. Gadis itu menggedikkan bahu, “Gue juga nggak ngerti kenapa ada penembakan. Itu kampus lho, tempatnya para pelajar mau menuntut ilmu. Bukankah tujuan kita adalah baik-baik? Tapi kenapa ada orang jahat yang mau melukai? Kasihan deh...” Biru paham. Bulan salah mengerti. Gadis itu pasti mengira bahwa peluru yang diterimanya adalah peluru yang tersasar. Yang seharusnya memang tidak melukai gadis itu karena Bulan merasa tidak melakukan kesalahan apa pun. “Makasih ya.” Ucapan lembut itu membuat d**a Biru berdebar. Bulan tampak begitu cantik dengan senyuman tulusnya. Diamnya Biru membuat Bulan salah tingkah sendiri. Gadis itu menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. “Hmm, kalau lo temani gue di sini sampai Bunda balik lagi, mau nggak?” *** Brengsek! Ia memang tidak mahir dalam hal ini, tapi setidaknya gadis itu harusnya terluka parah! Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan banyaknya klakson yang menjerit, memprotes aksinya di jalan besar. Sesekali, dipukulnya roda kemudi dengan kesal. Tidak dapat dipungkiri, hatinya sedikit cemas karena kebodohannya sendiri. Bagaimana kalau tadi ada yang melihatnya? Meskipun ia melakukan aksinya di dalam mobil, namun tetap saja ia cemas. Ia takut ada yang mengabadikan gambar mobilnya dan melanjutkannya ke jalur hukum. Sialan! s****n! Ini semua karena “pembunuh bayarannya” tidak kunjung menghabisi gadis itu. Ia sudah muak. Ia marah ketika mendapati laki-laki yang dicintainya membatalkan rencana mereka demi gadis lain. Dan dengan kurang ajarnya, gadis lain itu malah bersenang-senang dengan laki-laki yang tidak sebanding! Apakah gadis t***l itu tidak menyadari? Karenanya, semua berantakan dan hancur! Sampai saat ini, ia bahkan tidak tahu apa yang direncanakan oleh sang pembunuh untuk membuatnya menang. Namun, satu hal yang pasti. Bila memang laki-laki itu tidak berguna, ia akan turun tangan. Menghabisi waktu hidup sang target dengan tangannya sendiri... Mobilnya memasuki halaman depan rumah kosong itu. Rumah ini adalah rumah cadangan milik kedua orang tuanya. Perumahan di sini masih sepi, bahkan kedua rumah di sebelahnya belum ada yang menempati. Itulah kenapa menurutnya di sini sangat aman. Baru saja ia ingin keluar dari mobilnya, seseorang masuk tanpa izin. Duduk di samping bangku kemudi. Ia ingin mengumpat. Memaki laki-laki itu agar segera keluar dari mobilnya. Namun, tatapan tajam itu tanpa sadar membuatnya gemetar. Dan hal itu membuat laki-laki tersebut menampilkan seringai bengisnya. “Ternyata benar. Lo yang melakukannya.” Laki-laki itu terkekeh seraya bertepuk tangan kecil. “Lo nggak juga menghabisi dia. Gue menderita lagi hari ini karena dia...” “Apa pun.” Tatapan tajamnya menghentikan bibir gadis itu. “Apa pun alasannya. Perlu lo ingat, gue nggak suka ada yang ikut campur urusan gue...” “Ini urusan gue!” Laki-laki itu membukul dashboard mobil dengan keras hingga gadis itu berhenti bicara. Gadis itu sibuk menyembunyikan rasa takutnya agar laki-laki itu tidak dapat mempermainkannya. Laki-laki itu menampilkan seringai menakutkan. “Sekarang menjadi urusan gue.” Ia membuka pintu mobil dan berucap, “Lo nggak perlu takut gue akan gagal. Kalau sudah waktunya, dia akan hancur seperti yang lo harapkan.” Pintu tertutup dengan keras. Laki-laki itu telah menghilang dengan cepat. Ia menyandarkan punggungnya seraya mengembuskan napas kasar. Bagaimana bisa tenang bila ia sendiri tidak tahu apa yang direncanakan laki-laki itu?! Ia bahkan tidak melihat laki-laki itu di lokasi yang sama dengannya padahal target mereka sedang berpeluang untuk terluka. Brengsek! Siapa yang tengah bermain-main di sini? Di tempat lain, laki-laki itu memperlambat langkahnya. Pikirannya berkecamuk untuk sesuatu yang tidak ia sukai. Sejak kapan ia meragu? Tidak! Ia tidak boleh selemah perannya. Ia tidak boleh kalah oleh sesuatu yang asing baginya lantas merasa bodoh seperti peran dalam permainannya sendiri. Ia berbeda. Keduanya berbeda. Namun, kalau boleh ia jujur. Menjadi warna baru dalam permainannya merupakan hal menantang yang diam-diam membuatnya terlena...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN