Gadis itu mengusap nisan makam ayahnya. Menyingkirkan debu dan dedaunan kering yang menutupi ukiran nama di atasnya. Ia tersenyum lembut, kemudian memamerkan cengirannya.
"Hai ayah!" Sapa riang gadis itu. "Ayah apa kabar? Ayah baik-baik aja kan di sana? Bulan juga, di sini baik-baik aja. Tapi maaf ya Yah, Bulan sendirian ke sini. Bulan cuma pengin curhat sama Ayah, jadi nggak ngajak Bunda takutnya rusuh..." gadis itu terkikik geli.
"Umm..." Bibirnya terkulum. "Yah? Ayah ketemu Tuhan nggak di sana? Bilangin dong Yah, Bulan kangeeeeen banget sama Bintang. Entahlah, kepergian Bintang masih berbekas banget untuk Bulan. Gimana ya Yah cara untuk merelakan Bintang seperti Bulan mengikhlaskan kepergian Ayah?"
Gadis itu mencabuti rerumputan yang mencuat di makam ayahnya. "Bulan kangen banget sama kalian. Bunda juga kangen kalian lho, tapi Bunda bisa tegar banget. Kenapa nggak dengan Bulan ya?"
Ia mengembuskan napasnya. Raut kesedihan itu tiba-tiba berganti menjadi senyuman jahil. Kedua mata bundarnya menatap nisan sang ayah dengan berbinar. "Yah, Bulan mau minta sesuatu. Ayah bisa nggak bilang sama Tuhan? Bulan ingin pengganti Bintang..." Gadis itu meringis. "Duh, maaf Yah. Bukannya Bulan menuntut, tapi Bulan nggak tahan dengan kondisi Bulan sendiri. Bintang, cahaya kita. Bulan serasa mati tanpanya. Bulan merasa kosong, Yah. Bulan kehilangan cahaya Bulan..."
Tanpa disadari, air matanya berjatuhan. Berlinang di kedua pipi mulusnya. "Bulan ingin seseorang Yah. Seseorang yang bisa menghibur Bulan. Bulan ingin berhenti mencari, untuk sesuatu yang bahkan nggak Bulan mengerti buat apa saat Bulan berhasil menemukannya. Kalau perlu, namanya Bintang, Bulan suka cahaya Bintang. Biar Bulan dapat cahaya baru gitu..." Bulan terkekeh geli sendiri karena permintaan nggak masuk di akalnya.
"Yaudah deh Yah, Bulan udah cerita sama Ayah. Ayah cukup tahu aja sih, Bulan tadi bercanda kok. Tapi kalau Ayah anggap serius juga boleh..."
Gadis itu mengusap kembali nisan sang ayah dengan senyuman. "Dadah Ayah..." pamitnya seraya bangkit dan berlalu.
Setelah kepergian gadis itu, sosok tak dikenal pun keluar dari persembunyiannya. Tidak banyak yang bisa ditangkapnya. Selain karena jarak persembunyiannya yang cukup jauh dari tempat gadis itu bersimpuh, ia juga datang di saat yang kurang tepat hingga ia hanya mendengar kalimat-kalimat akhir. Itupun dengan samar-samar...
Gadis itu menginginkan seseorang. Seseorang yang dapat menghiburnya. Seseorang bernama Bintang.
Sosok misterius itu tersenyum miring. Mudah baginya mengerjakan tugas kali ini bila mangsanya tidak seberapa. Perempuan lemah. Tubuh rapuh itu bahkan tidak dapat melawannya. Terlalu mudah. Dan baginya, kemudahan itu sendiri membuatnya akan bosan dalam pekerjaan ini. Bermain-main terlebih dulu sepertinya menyenangkan.
Gadis itu tidak sadar, dimulai detik ini, ia dalam bahaya. Neraka berwujud surga. Gadis itu terancam. Terkurung dalam sangkar mengerikan bergelimpah berlian. Namun, ada satu hal yang takdir sembunyikan di baliknya. Bukan gadis itu yang lemah, melainkan sosok itu sendiri. Kerapuhan luar yang dimainkan ternyata menjadi kelemahan tersendiri bagi yang bermain. Dianggapnya terlalu mudah, hingga tidak cukup persiapan. Dipikirnya seringan jarum, tapi tergores tajamnya. Pada akhirnya, sang pemanah merasakan sendiri ketajaman senar busurnya.
***
Tidak terhitung berapa kali Bulan mendengus. Ia memutar bola matanya, gerah karena terlalu lama menunggu. Bayangkan saja, 10 menit saja Bulan sudah berkeringat, bagaimana dengan menunggu nyaris satu jam di depan halte kampus yang panasnya minta ampun!
Hari ini, Bulan berencana ziarah ke makam adiknya bersama Langit. Namun, mengingat buku cetak salah satu mata kuliah terpenting itu tertinggal di rumah Biru, membuat Bulan mau tidak mau menunggu Biru selesai kelas! Entah anak itu ada kelas atau tidak hari ini, Bulan lupa, yang pasti buku itu harus di tangannya hari ini karena besok mata kuliah penting itu berada di jam pagi.
Drrrrttt...
Sebuah pesan dari Langit pun muncul. Bulan membukanya...
Yaudah. Gue tunggu 15 menit lagi.
Cukup sabar juga si Langit, mengingat sudah dua kali Bulan bilang "Tunggu dulu, dia belum datang!". Huff, masa mau balas seperti itu lagi? Yang ada Langit kesal dan berziarah seorang diri ke tempat Bintang.
Bulan memutar-mutat ponsel di tangannya. Pikirannya kosong untuk beberapa saat, sampai akhirnya sepasang sepatu berwarna kelabu berdiri di hadapannya.
"Hai."
Bulan mendongak. Kedua matanya sampai menyipit karena tinggi laki-laki itu membuat penglihatannya silau oleh matahari. Bulan merasa kecil. Tubuh laki-laki ini tegap dan menjulang.
Dengan tubuh proporsional dan tampak atletis. Gayanya sangat santai, tapi tetap elegan. Hanya dengan kaus putih berlengan pendek yang tidak sanggup menyembunyikan otot-otot lengannya. Bulan yakin, di balik kaus itu pasti terdapat roti sobek di perut laki-laki ini. Belum lagi sepasang kaki jenjang yang diselimuti oleh jeans biru muda, serta aksesoris berupa kalung perak dengan bandul sampai ke dadanya, juga gelang-gelang hitam dan arloji silver. Aroma maskulin yang menguar, membuat Bulan yakin bahwa sosok ini nyata. Bulan sedang tidak berhalusinasi, kan?
"Kita pernah ketemu, ya? Waktu itu gue nggak sengaja nabrak lo di mall." Suara laki-laki itu mengenyahkan lamunan Bulan. Detik berikutnya ia kembali menyadari, laki-laki inilah pemilik sepasang mata kelabu itu.
Laki-laki ini benar-benar idaman Bulan!
"Eh? Oh, hmm, iya?"
Jawaban apa itu?!
Bulan meringis. "Duh, sori. Gue bingung sama orang baru." Gue gugup sama cogan semacam lo gini, ralat batinnya.
Laki-laki itu tersenyum. Lagi-lagi, senyuman itu mengingatkan Bulan pada seseorang. Tapi Bulan tidak tahu siapa seseorang itu.
"Lo lagi menunggu siapa?" tanya laki-laki itu dengan alis terangkat.
"Ng? Oh! Gue lagi menunggu..." Nggak! Jangan sebut nama Biru! Masa Bulan menunggu Biru? Mending Bulan menunggu cogan lain! Benar, kan? Dan pada akhirnya Bulan menjawab, "Menunggu Langit!"
Oh yeah! Gue pinjam dulu cowok lo, Bintang.
Laki-laki itu berdeham. "Langit?"
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sepertinya takdir sedang pro sekali dengan Bulan, sampai-sampai mengabulkan keinginannya yang bahkan belum sempat terucap.
Mobil sedan Langit berhenti tepat di depan halte. Halte sedang sepi, hanya Bulan dan laki-laki bermata kelabu ini. Terbukti dari tidak ada yang menjerit histeris ketika Langit membuka kaca mobilnya.
Langit mengangkat alisnya mendapati laki-laki asing di hadapan Bulan. Nyaris menutupi sosok gadis itu. Namun, detik berikutnya ia hanya menggedikkan dagu. "Masuk. Gue nggak bisa lama-lama menunggunya."
Bulan manggut-manggut antusias. Terlebih lagi ketika ia mendapati ekspresi tidak senang laki-laki di hadapannya ini saat melihat Langit. Yuhuuu! Menurut film roman sih, ekspresi seperti itu bisa dikatakan sebagai bentuk cemburu.
Tunggu! Sejak kapan ia jadi over pede dan genit seperti ini?!
"Gue duluan."
Bulan berpamitan dengan singkat. Ia merasa gugup dan berhasil menutupinya dengan mengeluarkan suara bernada santai. Tapi tidak menurut laki-laki bermata kelabu itu. Ia mengira, Bulan tiba-tiba cuek karena laki-laki bernama Biru.
"Hati-hati."
Entah Bulan yang terlalu senang atau apa, gadis itu menangkap suara maskulin bernada dingin.
Bulan masuk ke dalam mobil. Sedan Langit tersebut lantas berlalu, membelah jalanan luas.
Sepasang mata kelabunya tak luput dari sedan itu hingga kendaraan tersebut menghilang dari pandangannya. Pandangannya menajam. Senyuman miring perlahan terlukis di wajahnya.
"Langit..." gumamnya samar.
Menarik. Musuhnya ternyata bukan hanya dirinya sendiri, melainkan orang lain. Dua orang. Tidak. Tiga, terhitung dengan peran permainannya sendiri.
Laki-laki itu masuk ke dalam mobil sportnya yang terparkir di kejauhan. Diraihnya jaket hitam lusuh yang kini menjadi favoritnya lantas mengenakannya. Kini, jaket itu sanggup menutupi kedua lengannya. Menyembunyikan bodi atletisnya yang sanggup membuat gadis-gadis sulit menelan liur.
Laki-laki itu melajukan mobilnya, membelah jalanan luas. Ia tidak kembali ke istananya. Ia kembali ke dalam sangkarnya.
***
"Cowok itu siapa?"
Bulan mengangkat bahu. "Nggak tahu. Dia nggak nyebut namanya."
Langit manggut-manggut. Keduanya baru saja selesai berkunjung ke rumah abadi Bintang kecilnya. "Gue nggak bakal ngelarang lo buat dekat sama siapa aja. Gue menghormati lo sebagaimana Bintang. Tapi, tolong berhati-hati. Nggak semua cowok sebaik gue..."
Bulan langsung memukul kepala Langit dengan tangannya. "Ujung-ujungnya muji diri sendiri!"
Langit meringis seraya mengusap-usap kepalanya. "Serius. Meskipun Bintang udah pergi, gue tetap harus menjaga lo dan Bunda. Kalian udah seperti keluarga gue."
Bulan tersenyum. Raut kecemasan begitu tampak di wajah Langit. Entah apa yang membuat Langit cemas dengan kedatangan laki-laki bermata kelabu itu.
"Lo tenang aja, gue bakal jaga diri. Serius!"
Langit tersenyum kecil. "Bagus."
***
Hari ini, entah mengapa ia merasa kurang fit. Ia bahkan berniat tidak masuk tadi. Tapi di grup chat salah satu mata kuliah hari ini berbicara soal kuis! Mau tidak mau, Bulan harus ikut. Lumayan, bisa untuk memperbaiki nilainya yang kurang. Entah itu di tugas atau kuis-kuis sebelumnya.
"Bulan?"
Bulan memutar tubuh dan mendapati Biru yang tengah tersenyum padanya. "Bulan kemarin ke mana? Maaf kemarin Biru terlambat, dan Bulan udah nggak ada di halte kampus..."
Bulan memutar kedua matanya. "Lo kelamaan! Gue sampai busuk di sana."
Biru terkekeh geli. "Maaf Bulan. Ini bukunya." Diserahkannya buku cetak itu pada Bulan.
Bulan menerimanya dengan pandangan tak terbaca. Senyum itu. Gigi yang rapi itu. Kenapa begitu persis dengan laki-laki kemarin?
Bulan lantas menggeleng kuat, membuat Biru mengernyit. "Bulan? Bulan kenapa?"
"Ah, nggak. Gue duluan!"
Bulan berlalu dengan terburu-buru. Dalam langkahnya, tidak terhitung berapa kali ia menggeleng. Bulan pasti sudah gila! Bisa-bisanya memirip-miripkan Biru dengan laki-laki kemarin?! Oh astaga! Ini pasti karena ia terlalu sering memikirkan laki-laki itu kemarin!
Biru dan si mata kelabu itu jelas berbeda! Biru bermata gelap. Kulitnya kusam. Pakaiannya selalu lusuh. Dan yang jelas, wajah mereka berbeda! Meskipun tinggi mereka sama, tapi Biru kan tidak atletis! Hmm, Bulan sendiri tidak yakin. Biru selalu mengenakan jaket hitam yang menyembunyikan bentuk badannya.
Dan langkahnya terhenti. Bulan mengingat saat pertama kali ia mengetahui Biru di hari OSPEK. Bukankah laki-laki itu tidak mengenakan jaket?
Tiba-tiba Bulan merasa pusing. Ia limbung dan nyaris membentur lantai kalau saja sepasang lengan kokoh itu tidak menangkapnya.
"Bulan?"
Kedua mata Bulan terpejam, tapi ia masih bisa merasakannya. Ini Biru. Tapi tidak dengan suaranya.
Dan dengan ringan, tubuh gadis itu diangkatnya. Dalam kuasanya...
***
Apakah ia salah?
Ia memang tidak memperhitungkannya. Menurutnya, gadis itu hanya bersikap waspada namun tidak di dalamnya yang terlalu lugu menyikapi dunia. Ia tidak butuh perhitungan waktu untuk menemui. Gadis lugu itu tidak akan menyadari. Lagi pula, wujudnya benar-benar berbeda.
Namun, benarkah ia telah ceroboh? Gadis ini ternyata teliti. Tidak. Ia yang terlalu bodoh. Lebih tepatnya, terlalu menggampangi sehingga tidak terpikir risikonya. Ia terlalu asyik bergonta-ganti peran semaunya. Terlalu merasa hebat, hingga ketajaman pedang menghunus punggungnya tanpa ia ketahui.
Laki-laki itu memasuki sangkarnya. Melepas pakaiannya. Menghapus riasannya. Ia memandang datar namun tajam sosok dalam pantulan cermin di hadapannya.
"Kalah dalam permainan yang mudah, hmm? t***l," gumamnya dengan bibir menipis.
Ia selalu menganggap pekerjaan ini mudah. Saking mudahnya, ia sampai merekayasa cerita dan membuat tantangannya sendiri. Membentuk sosok baru berwujud menjijikan dalam dirinya, terlebih untuk mengaduk perasaan yang dimainkan.
PRANK!
Cermin itu retak. Tidak peduli dengan tangannya yang berdarah, jemari itu masih mengepal kuat.
Gadis itu tidak boleh tahu! Tidak sampai gadis itu benar menginginkannya.
Pertanyaannya adalah, siapa yang gadis itu inginkan?
Biru atau Kelabu?