Epilog

921 Kata

Bulan terkikik geli melihat Gerhananya sengsara. Bagaimana mungkin laki-laki berusia enam tahun di atasnya tersebut meringis karena terkena jarum?! Padahal bodi Gerhana kan umpamanya seperti sapi, sementara dia hanya ayam. Bulan saja kalau terkena jarum ketika sedang menjahit nggak menangis tuh? "Jangan ketawa! Kamu nggak tahu sakitnya ini. Lebih sakit dari ketusuk jarum biasa, Bulan," ujar Gerhana saat Bulan masih tertawa di sampingnya, seolah bisa membaca pikiran gadis itu. "Sakitan mana sama kehilangan aku waktu itu?" goda Bulan dengan kedua alis naik-turun. Gerhana tersenyum. "Jangan tanya." Bulan kembali terkikik geli. Akhir-akhir ini, kenapa ia senang sekali menggoda Gerhana ya? Gadis itu sedang menemani Gerhana "menyempurnakan" tatto laki-laki itu. Meski purnama sudah tampak in

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN