Sebuah Tekad

1144 Kata

"Vaga berhentiin aku di halte depan kampus nanti ya!" Viona berteriak dari belakang Vaga. Sang empu yang mendengar melambatkan laju motornya, ya kali ini Vaga memutuskan untuk memakai motor kembali untuk ke kampus selain lebih juga sekarang sudah ada yang ia bonceng, Vaga membuka visor helmnya melepaskan tangan kirinya dari stang motor dan menegakkan tubuhnya. "Kenapa?" "Aku gak mau buat kehebohan nanti," jawab Vaga. "Ya gak bisa." "Vaga ih." "Ya kali aku nurunin cewek aku pinggir jalan. Gak bisa gitu, sayang," ungkap Vaga, lagi-lagi membuat Viona tersipu malu. Entah kenapa setiap kali Vaga memanggilnya dengan panggilan itu, Viona akan selalu merasa salah tingkah dengan jantung yang dag-dig-dug ser, Viona belum terbiasa dengan panggilan tersebut, terlebih dengan hubungannya. Semua

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN