Hak Milik

1294 Kata
Berurusan dengan Vaga sama saja menyerahkan diri untuk masuk ke kandang macan secara sukarela, Savaga Adinandra mahasiswa fakultas teknik yang terkenal dengan sifat arogannya, bertindak sesuka hati, tak taat pada aturan serta playboy cap kadal. Ckck, siapa pun yang terlibat dengannya tak akan pernah bisa lagi hidup dengan damai di kampus ini. Setiap satu minggu sekali Vaga akan memacari satu cewek random yang menurutnya menarik, setelah itu dia akan memutuskannya begitu saja bak barang yang sudah tak terpakai lagi. Begitulah Vaga tak punya rasa belas kasih pada mainannya dan anehnya tak ada satu pun yang bisa melarangnya berbuat sesuka hati. Sebagian para cewek-cewek malah ingin menjadi target Vaga untuk dipacari, karena kapan lagi bisa menjadi pacar seorang Savaga walau hanya satu minggu dan yang menariknya jika Vaga merasa sangat tertarik pada satu cewek, ia mungkin akan berhubungan dengannya lebih dari satu minggu. Sejauh ini tidak ada yang bisa menaklukan hati Vaga, bahkan kurang dari dua puluh empat jam jika Vaga tidak suka maka cewek itu akan dihempas jauh-jauh. Dan kali ini tawaran yang diberikan oleh si pencuri membuat Vaga sedikit tertantang, dia rela menukar pacarnya sendiri untuk diberikan pada Vaga. "Semenarik apa cewek lo itu," desis Vaga, "Cabut," sambungnya pada Asher dan Ganta. Ah iya, Asher, ia cukup kalem dari tiga sekawan itu. Dibandingkan dengan Ganta, Asher lebih berwibawa dan dibandingkan dengan Vaga, Asher lebih memiliki hati nurani. Lupakan tentang jati diri Vaga di kampus ini yang dicap sebagai playboy. Asher memijit keningnya sendiri, mana mungkin ia bisa mencegah Vaga. Kemudian ia berjalan mengikuti di belakang Vaga begitu pula dengan Ganta. Ke tiganya keluar dari ruangan yang merupakan gudang kampus, mereka berjalan dengan angkuh untuk kembali ke kelas ... Tidak-tidak. "Mau ke mana kita, Ga?" tanya Ganta. "Ke mana lagi? Ke tempat cewek baru gue," jawab Vaga sambil tersenyum smrik. Ganta dan Asher hanya mengikuti langkah kaki Vaga. Fakultas yang menjadi tujuan mereka adalah di gedung dua alhasil Vaga harus berjalan sedikit jauh. Sepanjang perjalanan, mereka tak luput dari banyak pasang mata yang menatap dengan takut-takut sekaligus terkesima, Vaga yang banyak diguncingkan kini hadir di tengah-tengah mereka. Pesona ke tiganya seperti saling melengkapi, Vaga yang terlihat dingin, kejam, ketus serta angkuh menjadi ciri khas yang sangat ikonik. Lalu Asher si cowok yang terkenal dengan kemaskulinannya dan kalem seolah menyeimbangi sikap Vaga, serta jangan lupakan Ganta dengan sikap tengilnya yang mampu menjadi penengah antara Vaga dan Asher yang kerap kali membuat keributan. Ke tiganya menjadi tokoh dengan nama yang sangat di warning sekaligus menjadi nama yang tersohor di Universitas Bima Nusa. Brak Pintu kelas dibuka dengan cara sedikit di banting oleh Asher, rupanya mereka telah sampai di tempat tujuan. Sontak saja aura dingin menyelimuti kelas itu beruntung belum ada Dosen yang masuk, semua orang menatap risau saat melihat mata Vaga yang bergerak-gerak seolah sedang mencari sesuatu. Satu detik Dua detik Sampai detik ke tiga seolah ruang kelas itu kedatangan Dosen killer tak ada satu orang pun yang bersuara, hingga akhirnya tangan Vaga menghentikan langkah kaki seorang cowok yang baru saja melintas di depannya dengan memegang kuat pundak cowok itu. Entah cowok itu melihat Vaga atau tidak di ambang pintu kelas, tetapi kehadirannya berhasil menambah kecaman suasana sekitar. Cowok yang tengah asik menscroll sosial media di ponselnya itu ternyata tidak menyadari kehadiran Vaga, ketika ia menolah betapa terkejutnya dirinya ketika melihat sosok Vaga dengan mata elangnya sedang menatapnya. "Va-Vaga." Satu kata yang terucap dengan menyebut namanya berhasil membuat semua orang yang ada di kelas itu menelan saliva. "So-sorry gue gak liat lo," sambungnya sedikit terbata. "Mampus si Dito." "Tamat riwayat si Dito." "Ngapain pake lewat sih, Dit." Bisik-bisik itu terdengar samar ke telinga Vaga, ia tidak peduli sama sekali. Fokusnya saat ini adalah pada cowok di depannya. "Siapa nama lo?" tanya Vaga dengan datar, yang ditanya tidak menjawab. "Siapa nama lo?!" Kali ini pertanyaan Vaga mengintimidasi, menuntut jawaban. "Dito Praharja," ucap Dito seketika karena gugup. "Oke, Dito Praharja." Vaga mengulang menyebut nama lengkap Dito yang berhasil membuat keringat dingin bercucuran turun dari pelipis cowok itu. "Ga, so-sorry gu—" "Lo belum gue suruh ngomong." Dingin, perkataan Vaga berhasil menembus relung hati Dito yang reflek langsung melipat bibirnya. "Ga, langsung aja lo udah buat gak nyaman di sini," sela Asher yang ternyata memperhatikan sekitarnya merasa tegang dengan kehadiran mereka. Vaga berdecak, ia melepaskan tangannya dari bahu Dito kemudian memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celana. "Steviona Azalea yang mana orangnya?" tanya Vaga tanpa basa-basi. Namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Dito. Cowok itu masih mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Ngomong woy!" Kali ini Ganta yang sedikit menaikkan intonasi suaranya, sementara Vaga mulai merasa kesal. "Eh iya-iya." Karena merasa terkejut akhirnya Dito menyahut. "Kenapa lo gak jawab?" "Ta-tadi katanya di suruh jangan ngomong," ucap Dito menjawab pertanyaan Ganta. Ganta menahan tawa mendengar jawaban itu, sedangkan Vaga menggaruk pelipisnya ia merasa semakin kesal. "Steviona Azalea yang mana orangnya?" tanya Vaga untuk ke dua kalinya dengan sedikit menekan kata-katanya. "Itu di sana iya di sana," kata Dito yang langsung menjawab pertanyaan Vaga sebelum habis riwayatnya saat ini juga. Vaga, Asher dan Ganta menoleh ke arah telunjuk Dito. Mereka terdiam sesaat sebelum akhirnya ... "Bwahahaha." Suara tawa Ganta menggelegar, Asher yang tak bisa berekspresi hanya menjawil hidungnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, sementara raut wajah Vaga sudah memerah ia pun sudah mengepalkan tangan di bawah sana. "Sial, rupanya lo mau main-main sama gue," gumam Vaga menahan amarah, mengingat kembali perkataan cowok di gudang tadi. "Syut, Ta diem." Asher yang mengerti situasi saat ini sedang tidak baik bagi Vaga mencoba untuk memberitahu Ganta. "Sher, cantik katanya. Itu ikan buntal, liat aja makanannya banyak banget, pake kacamata kuda pula, mana gak glow up lagi. Itu cantik katanya, Sher," kata Ganta sambil memegangi perutnya yang merasa sakit karena tertawa. Plak "Lo bisa diem enggak. Lo udah body shaming ke orang." Mau tak mau demi membuat Ganta diam, Asher menggeplak kepalanya. Ganta memang sudah diam, tetapi nyatanya tidak benar-benar diam. Ganta masih berusaha menahan tawanya, Vaga yang merasa dipermainkan oleh cowok tadi hendak pergi berlalu dari kelas itu. "Eh bukan dia, kalo itu namanya Nunik yang kayak ikan buntal mah. Vio ada di belakangnya," celetuk Dito berhasil membuat Vaga tak jadi beranjak. Seketika itu pula Ganta terdiam dari tawanya dan Asher kembali melihat ulang sosok di balik Nunik, begitu pula dengan Vaga yang kini membalikkan badannya untuk melihat kembali arah yang Dito tunjuk tadi. Dito mengisyaratkan dengan tangan pada Nunik untuk bergeser dan tepat ketika Nunik berpindah tempat duduk, cewek dengan rambut panjang sedang menopang dagu dan menulis di buku menjadi pusat perhatian ke tiganya. Asher dan Ganta melihat pada Viona tanpa berkedip apa lagi ketika rambutnya berterbangan karena angin sepoi-sepoi dari luar jendela membuat kesan cantik yang sangat alami terpancar dari gadis itu. "Vio!" Dito berseru memanggil Viona. Tepat ketika Viona mengangkat kepala, netranya bertemu pandang dengan Vaga. Beberapa detik mereka saling berpandangan, sebelum akhirnya celetukan Ganta membuat Vaga mengerjap. "Bidadari turun dari kayangan." Sementara itu Viona melepaskan tangannya dari dagu, seketika matanya membola saat melihat sosok Vaga berdiri di sana. Dengan cepat Viona mengalihkan pandangan, lalu menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya. "Aduh, ngapain itu cowok ke sini, sih," gumam Viona sambil meringis. "Vio! Lo dicari Vaga," teriak Dito sambil mengedikkan kepala ke arah Vaga lalu berlari menjauh sebelum menjadi targetnya Vaga nanti. Viona berdiri, dengan langkah ragu ia menghampiri Vaga sambil masih berusaha menyembunyikan wajahnya. "L-lo siapa cari gue?" tanya Viona. Vaga masih terdiam, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Tetapi yang jelas tatap matanya tak berhenti menatap Viona. Merasa pandangan Vaga aneh, Viona sudah gelisah. Gadis itu semakin merasakan perasaan tak enak. "Aduh, jangan sampe dia masih Inget gue," kata Viona dalam hati. Dan perkataan Vaga berikutnya berhasil membuat Viona melongo sekaligus mematung di tempatnya. "Mulai detik ini, lo milik gue." Vaga resmi mengklaim Viona sebagai miliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN