Akina menganga tidak mengerti. Kemana bagian pembacaraan sang suami bermuara. Menuntut dengan tatapannya yang sudah tidak lagi mengantuk, Akina dengan lirih bertanya, "Gi-gimana, Mas?" Dia tidak paham, mengapa tiba-tiba saja ada kata cerai yang suaminya bawa. "Maksud, Mas... cerai? Kenapa?" Napas berat Darma menghembus kasar. Dia frustasi sendiri dengan rasa berat untuk menyatakan hal yang sejujurnya. "Aku minta maaf, Ki. Kita harus cerai-" "Jelasin dulu kenapa kita harus cerai, Mas!" tuntut Akina mulai tidak tenang lagi. "Apa aku ngelakuin kesalahan? Kenapa tiba-tiba... aku enggak ngerti mas ngomongin hal yang enggak jelas asalnya dari mana!" "Semuanya jelas, Ki. Hanya kamu memang yang enggak tahu asalnya pernikahan kita ada. Aku minta maaf, Ki, tapi kita memang harus cerai." Mata

