Pagi ini Akina terbangun dalam pelukan Darma yang sangat hangat. Begitu pemandangan pertama yang dia dapati adalah d**a kokoh pria itu dengan sedikit bulu yang merambat teratur tanpa membuat Akina risih. Ini sudah bukan sekali atau dua kali lagi keduanya berhubungan, tapi Akina selalu merasakan panas diwajah karena begitu dekat dengan suaminya. Mungkin hanya Akina saja yang aneh. Darma adalah suaminya, tapi tidak benar-benar seperti suami yang dapat dia dekati. Jadi, momen seperti ini malah membuat Akina salah tingkah. Bergerak perlahan, Akina mencoba melepas diri untuk bangun lebih awal dari sang suami. Namun, malah membuat Darma tergeregap. "Kenapa?" Sepertinya Akina salah bergerak sampai Darma malah linglung. Kentara sekali nyawanya belum terkumpul. "Maaf, Mas." Akina meringis, mer

