Allov - 3

1998 Kata
Selama hampir tiga jam Alisya menghabiskan waktunya dengan Alexcio di ruangan yang katanya adalah ruangan pribadi Alexcio di sekolah ini. Alisya menatap bosan Alexcio yang sedari tadi sama sekali tidak mempedulikannya, dia seakan hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Entah sudah berapa kali Alisya terus menghela nafas karena kesal di abaikan terus oleh Alexcio, bukannya dia menginginkan Alexcio perhatian padanya, hanya saja suasana semacam ini membuatnya sangat tidak betah. Sudah beberapa kali Alisya membuat alasan berupa dia ingin ke kantin karena sudah sangat lapar, sampai dia mengatakan ingin mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru tapi sama sekali tidak diperbolehkan oleh Alexcio. Alexcio seakan tahu hal apa yang harus dia lakukan untuk membuat Alisya tidak bisa beralasan. "Bosan?" Tanya Alexcio berjalan kearah Alisya dengan sebuah buku di tangannya. "Banget" ucap Alisya singkat seperti Alexcio yang bertanya. Alexcio tersenyum tipis mendengar perkataan dari Alisya, dia membungkukkan badannya sehingga wajah mereka menjadi sejajar. Dia mengacak pelan rambut Alisya dengan senyuman tipis yang terukir di kedua sudut bibirnya. Sedangkan Alisya dia memandang kesal Alexcio yang menurutnya terlalu sok ganteng. "Kita pergi makan sekarang" ucap Alexcio yang lebih bisa dikatakan sebagai sebuah pernyataan daripada sebuah pertanyaan. "Nggak mau aku udah kenyang dengan rasa bosan hampir tiga jam kamu ngurung aku di sini." ucap Alisya memalingkan wajahnya serta melipat tangannya di depan d**a. Alexcio sedikit terkekeh melihat sikap dari pacarnya itu. "Mau makan atau aku paksa makan?" Tanya Alexcio sarat akan ancaman pada Alisya. "Pokoknya kalau aku bilang enggak ya enggak pokoknya. Jangan maksa dong" ucap Alisya bernada kesal yang membuat Alexcio langsung menatapnya tajam. "Oh jadi sekarang kamu udah berani ngebantah aku? Mau kebebasan kamu setelah ini berakhir?" Ancam Alexcio. "Aku nggak ngebantah, aku cuma beneran nggak mau makan" ucap Alisya mencoba membela diri. "Udah nggak usah beralasan. Sekarang juga kita ke kantin." Ucap Alexcio yang langsung menarik Alisya untuk keluar dari ruangannya. Di sepanjang koridor Alexcio sama sekali tidak mau melepaskan genggaman tangannya pada Alisya walaupun sedari tadi Alisya berusaha terus untuk melepaskan genggaman tangannya. Alisya paling tidak suka saat menjadi pusat perhatian orang - orang di sekitarnya seperti saat ini, hanya karena kejadian tadi pagi dia sudah di perhatikan terus. "Lepasin tangan aku, nggak?" ucap Alisya entah yang keberapa kalinya. "Nggak! Kamu cukup diam aja" ucap Alexcio dan terus melangkahkan kakinya menuju ke kantin. Sesampainya mereka di kantin, Alexcio melihat kebeberapa arah hingga dia menemukan apa yang dia cari. Dia langsung menuju ke tempat dimana ada keempat orang siswi yang sedang sibuk memakan makanan mereka. Setelah sampai di situ, Alexcio langsung melepaskan genggaman tangannya pada Alisya dan langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Woy sya duduk napa" ucap Flora karena Alisya hanya berdiri dan terus memperhatikan Alexcio yang pergi meninggalkan kantin entah mau kemana. "Eh iya iya" ucap Alisya sedikit terbatah karena terkejut dengan ucapan Flora barusan. "Pacar lo kenapa tuh? Kok dia langsung pergi gitu aja, kalian nggak lagi marahan kan?" Tanya Syela Laras yang baru saja menelan kunyahan makanannya langsung mengintrupsi ucapan Syela "Yah kali Syel masa orang baru jadian tadi pagi udah marahan aja" ucap Laras "Yah mungkin lagi sariawan kali tuh pacarnya makanya kayak gitu" ucap Sisi Alisya sama sekali tidak mau menanggapi ucapan dari para sahabatnya itu karena dia terlalu malas untuk menanggapi perkataan mereka. "By the way, lo nggak mesen makanan?" Tanya Sisi Alisya menggelengkan kepalanya dan kembali memainkan ponselnya. "Lah terus ngapaian lo disini kalo nggak makan?" toa Flora "Mau berenang gue disini" jawab asal Alisya. Tidak berapa lama datang seorang ibu paruh baya yang berjualan di situ dengan membawa sepiring nasi goreng dan juga sebotol air mineral. "Itu lo yang pesan, sya?" Tanya Laras "Enggak kok bukan gue yang pesan" ucap Alisya, karena memang benar dia tidak memesan makanan yang saat ini sudah ada dihadapannya. "Yaudahlah makan aja kalo gitu, lo lagi beruntung kali hari ini dapet makanan tanpa di pesan." Ucap Syela "Ih ogah gue" ucap Alisya menolak untuk memakan makanan di hadapannya itu. Ting Sebuah notif di w******p masuk membuat Alisya langsung membuka lockscreen ponselnya. Alexcio Makan makanan kamu sekarang, itu aku yang pesan tadi. Kamu nggak usah bayar karena aku udah bayar tadi. Alisya sama sekali tidak membalas chat dari Alexcio tapi dia akhirnya memakan makanan yang dipesan oleh Alexcio itu. "Katanya tadi nggak mau makan, lah terus kenapa sekarang makanannya di makan bu?" ejek Sisi pada Alisya "Udahlah Si, udah bisa di pastiin kalo makanan yang lagi di makan oleh Alisya pasti pacarnya yang mesen." Ucap Laras. "Nah benar tuh, pas ngebaca chat yang masuk barusan masa langsung berubah pikiran buat makan tuh makanan." Ucap Flora menambahkan. Karena lama lama menjadi kesal sendiri karena terus di serang oleh ke empat sahabatnya itu. Alisya memberhentikan makannnya dan langsung membuka suara. "Kalian berisik banget sih, gue nggak makan kalian protes, gue makan juga kalian protes. Mau kalian apasih?" ucap Alisya kesal. "Mau kita ya seperti biasa buat lo kesal sekesalnya , sya" ucap Syela yang membuat Sisi, Laras, Flora langsung tertawa. Perkataan dari Syela membuat Alisya tambah kesal, apalagi ketika keempat sahabatnya itu tertawa seakan mengejek dirinya. Alisya berdiri dari duduknya dan langsung pergi begitu saja tanpa menghabiskan makanannya sama sekali membuat keempat sahabatnya itu merasa bersalah sehingga mereka langsung mengikuti Alisya yang berjalan dengan cepat keluar dari kantin. "Aduh neng kalian mau pada kemana atuh? Bayar dulu pesanannya napa" ucap seorang ibu ibu yang berjualan di kantin itu menghampiri Sisi, Laras, Flora, dan Syela yang ingin secepatnya mengejar Alisya yang entah telah kemana. "Aduh bu, bentaran aja napa bayarannya. Ini kita lagi pada buru buru tau nggak bu" ucap Sisi. "Aduh nggak bisa gitu dong neng, biarpun mau buru buru tapi bayar dulu dong. Atau jangan jangan kalian nggak punya uang ya? Makanya kalian mau pergi gitu aja?" tuduh ibu penjual di kantin itu yang membuat mereka berempat tidak terima karena di beri tuduhan seperti itu. "Enak aja ibu nuduh kita kayak gitu. Kita punya uang kali bu, tapi ya kita itu lagi buru buru karena teman kita itu-" Laras sempat terdiam sebentar karena tidak tahu harus memberikan alasan apa. "Teman kita lagi sakit" sambung Flora "Iya bu teman kita lagi sakit, dan butuh ke dokter karena sakitnya parah" ucap Syela menambahi. "Kalo nggak ke dokter nanti teman kita mati terus gentayangin ibu gimana? Emang ibu mau teman kita gentayangin ibu cuma gara gara ibu nggak ijinin kita buat nemenin dia ke rumah sakit?" ucap Sisi menakut nakuti. "Nah bener tuh bu. Ibukan baik jadi sekarang kita boleh pergi kan?" rayu Syela. Ibu penjual kantin yang tahu jika mereka hanya mau membohonginya langsung memberikan ancaman yang membuat keempat perempuan itu berteriak. "Saya tau kalian pasti pada bohongin saya. Sini cepetan bayar atau kalau nggak saya bakal laporin kalian ke polisi" ancam ibu penjual di kantin itu. "Apa bu? Ibu mau laporin kita kepolisi? Aduh ibu jangan gitu dong. Kan kita berempat langanan setia ibu, masa ibu tega sih mau laporin kita ke polisi cuma gara gara masalah kayak gini?" ucap Flora memelas. "Yah makanya bayar sini cepetan" tagih ibu penjual di kantin itu. Sisi, Laras, Flora dan Syela akhirnya langsung memberikan uang mereka ke ibu penjual dikantin itu yang langsung menghitung uang yang mereka berikan padanya. "Nah kan kalo dari tadi kayak gini, udah saya biarin kalian pergi" ucap ibu penjual di kantin itu dengan senang dan langsung pergi dari hadapan mereka berempat. "Aish ganggu aja, mana Alisya nggak tau pergi kemana lagi" ucap Kesal Flora "Iya nih nyebelin banget tuh ibu ibu rempong. Padahal kita lagi buru buru mau ngejar Alisya" ucap Syela "Udahlah mending kita nyari dia ketaman belakang aja. Kalian tau sendirikan Alisya suka banget kesana buat baca novel kalo lagi nggak ada guru." Ucap Sisi. "Yaudah ayo kita kesana" ucap Laras menarik satu persatu teman temannya itu untuk segera berjalan. Mereka pun menuju ke taman belakang sekolah yang merupakan tempat favorit dari Alisya sahabat mereka. ❤❤❤ Alexcio terlihat begitu tenang membaca bukunya dengan bersandar di dinding yang ada di rooftop sekolah. Dia hanya duduk lesehan bersama keempat sahabatnya. "Bro, emang lo nggak bosan apa baca buku muluh tiap hari?"Tanya Alano yang sibuk mengupas kulit kacang. "Nggak" jawab singkat Alexcio tanpa menatap lawan bicaranya sama sekali. "Huh. Udahlah Lan, lo tau sendiri Alexcio semenjak datang ke Indonesia minggu lalu hobinya baca buku muluh" ucap Davin. Alexcio tidak membantah ataupun menanggapi ucapan dari Davin, karena kebenerannya memang begitu. Selama satu minggu sisa waktu liburan, keempat sahabatnya memang pergi ke rumahnya dan dirinya hanya sibuk membaca buku, dan hanya merespon seperlunya jika para sahabatnya itu bertanya. "Tapi gue kok ngerasa aneh ya?" Tanya Bryan entah pada siapa. "Aneh apanya?"Tanya Kelvin yang sedang rebahan di tikar sambil memainkan ponselnya. "Yah anehlah, yang gue tau Alexcio sahabat kita nggak hobi baca buku waktu kita SMP dulu. Kan aneh jadinya sekarang jadi hobi baca buku" jelas Bryan. "Yah itu mungkin karena—" Kelvin tidak sampai meneruskan perkataannya karena langsung di potong oleh Alexcio. "Nggak usah bahas masa lalu, Alexcio yang dulu udah mati" ucap Alexcio menutup buku bacaannya dan menatap kearah sahabat - sahabatnya yang melihatnya dengan pandangan heran. "Kenapa kalian natap gue kayak gitu? Ada yang salah sama gue?" Tanya Alexcio. "Lex, lo sadar nggak kalo lo itu beda banget sekarang. Lo itu kayak bukan Alexcio yang gue kenal" ucap Bryan. Alexcio sempat tersenyum tipis sebelum dia membalas perkataan Bryan. "Iya gue emang beda sekarang, gue udah nggak kayak dulu lagi karena Alexcio yang dulu udah mati bersama dengan masa lalu" ucap Alexcio. Kelvin langsung bangun dari rebahannya mendengar perkataan dari Alexcio. "Lex jangan buat masa lalu membuat lo seakan - akan adalah orang lain, Alexcio yang gue kenal nggak sedingin ini dulu. Alexcio yang dulu hangat dan nggak irit bicara" ucap Kelvin. Alexcio bangkit dari duduknya dan berdiri menghampiri kelvin . Dia langsung menarik kerah seragam sekolah Kelvin. "Tau apa lo tentang masa lalu gue ha? Lo itu cuma jadi penonton dari sebagain orang yang sok tau masa lalu gue kayak gimana." ucap Alexcio menatap tajam Kelvin. "Iya gue tau gue cuma jadi orang yang sok tau tentang masa lalu lo. Tapi yang lo harus ingat, gue itu sahabat lo yang nggak mau liat lo seperti orang asing kayak gini" ucap Kelvin. "Lo mending diam aja dan nggak usah ikut campur sama urusan gue" ucap Alexcio melepaskan cengkramannya pada kerah Kelvin setelah itu langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan sahabat sahabatnya. Alano, Bryan, dan Davin yang sedari tadi hanya menjadi penonton duduk mendekat kearah Kelvin. Mereka tadinya bukannya tidak ingin membantu Kelvin tapi mereka yakin walaupun Alexcio sedang marah tadi, dia tidak akan sampai tega memukuli sahabatnya sendiri. Dan itu memang terbukti, mereka berlima sudah bersahabat semenjak mereka berusia 5 tahun yang saat itu dimana mereka bertemu di taman kanak kanak dan sampai sekarang mereka selalu bersama semenjak saat itu. "Sorry kita nggak bantuin lo tadi" ucap Davin Kelvin tidak menampilkan wajah marah sama sekali, malahan dia tersenyum mendengar perkataan dari Davin. "Nggak usah minta maaf kali, santai aja. Lagian kalian kayak nggak tau aja Alexcio itu kayak gimana. Emang mungkin sekarang dia jadi orang berbeda, tapi biar kayak gitu di nggak pernah sampai mukul temannya semarah apa pun dia"ucap Kelvin. "Yah dia memang nggak bisa nyakitin sahabatnya. Dan itu yang buat gue salut sama dia" ucap Alano. "Eh tapi ngomong - ngomong tadi pagi Alexcio nembak cewek anak kelas 11 kan? Tanya Alano. "Iya emang kenapa?" Tanya Bryan. "Yah gue cuma khawatir aja kalo sampai sih cewe itu cuma di jadiin mainan sama Alexcio. Yah kan kalian liat sendiri, dia aja masih ke bawah bayang bayang masa lalu. Gue kasihan aja kalo tuh cewek di sakitin sama Alexcio" ucap Alano. "Gue yakin Alexcio nggak mungkin tega nyakitin hati perempuan. Jangan pura pura lupa deh sama Alexcio yang anti dengan nyakitin hati perempuan. Gue yakin pasti ada alasan lain di balik dia nembak cewek kelas 11 dengan tiba tiba gitu" ucap Kelvin. "Semoga aja tuh cewek bisa buat Alexcio bisa berdamai dengan bayang bayang masa lalunya" ucap Davin. "Yah semoga aja. Semoga cewek itu bisa mengobati luka di masa lalu Alexcio." ucap Bryan. ❤❤❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN