Menjauhlah!! (flasback)

1281 Kata
             Aku masih menatapnya tajam. Baru pertama kali aku menemui manusia seperti dia. Dihari pertama bertemu dengannya, dia sudah berani menciumku. Sekarang setelah menciumku, dia hanya diam menatapku sambil tersenyum. Manusia seperti apa sebenarnya dia ini?            “Apa tidak ada permintaan maaf?” aku mulai berkata.             “Aku sangat menyukaimu dengan wajah ketus begini, Nat. Sangat cantik” Ah! Sulit dipercaya! Aku mendelik.             Taksi terlihat dari kejauhan. Aku melambaikan tangan. Aku harus segera pergi jika tidak ingin celaka sekarang. Taksi berhenti tepat didepanku, aku segera meraih handle pintu taxi.             “Aku antar, Nat?” dia memegang lengan ku.             “Tidak perlu. Tolong jauhi saya! Pulanglah, anak istri Anda menunggu dirumah!”  dia melepaskan lenganku. Buru-buru aku masuk taksi. Aku ilfeel dengannya. Mungkin akan berbeda rasa jika dia adalah laki-laki 30an. Sayangnya dia adalah laki-laki uzur berusia 50an. Membayangkan nya saja sudah membuatku malas. ******             Monday = Moneyday. BUT, I HATE MONDAY!             Kulirik jam dinding. 06:00             Uuhhh, aku malas sekali hari ini. Terputar kembali memori semalam.             Aaarrgghhh! Aku benci! Aku menjejak-jejakan kaki ke kasur. Menutup seluruh tubuhku dengan bedcover, lalu membukanya lagi. ‘Takdir buruk seperti apa ini, Tuhan? Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Please? Hmm.. oke Tuhan? Berikan aku laki-laki yang terbaik, tampan dan kaya kalau bisa. Please.. I beg You.’ Aku harap Tuhan mendengarkan aku pagi ini, terutama aku harap Tuhan mengabulkan semua doaku pagi ini secepatnya.             Aku beranjak dari tempat tidurku. Berjalan kearah dapur. Ada Bik Min disana. Dia yang membantu membereskan rumah dan memasak setiap hari, saat pekerjaan sudah selesai dia akan pulang dan besok pagi akan datang lagi. Bik Min sudah lama membantu dirumah Eyang. Bahkan sejak aku bayi mungkin. Usia nya juga sudah tidak muda lagi. Dulu Bik Min tinggal disini, tapi sejak dia mempunyai cucu, dia meminta ijin untuk pulang hari, akupun mengijinkan. Lebih bagus seperti itu, aku pun kurang nyaman tinggal dengan orang lain dirumah. Walaupun Bik Min sangat baik dan rajin dalam bekerja.             “Neng, sarapannya sudah saya siapkan di meja.” Sapa nya.             “Ya, Bik. Makasih.” Aku menyambar jus jeruk dimeja. Aku sangat haus.             Bik Min tersenyum.             Aku bergegas mandi dan bersiap-siap bersiap kekantor. Aku hanya karyawan biasa. Tentu saja harus ontime kalau tidak mau dipecat. Sebenci-bencinya aku terhadap hari senin, tetaplah aku harus bekerja. Aku butuh makan. Masih untung Eyang meninggalkan aku rumah ini, sehingga aku tidak perlu susah-susah membayar sewa rumah. aku hanya perku survive untuk makan dan kebutuhanku yang lain.             Jam sudah menunjukan pukul 07:33. Aku harus bergegas.             “Bik, nanti jangan lupa kunci pintunya ya. Banyak maling akhir-akhir ini”             “Iya, Neng. Sudah mau berangkat kekantor tho?”             “Hmm,,” aku mengangguk, tersenyum ambil memakai sepatu.             “Hati-hati dijalan ya, Neng..” aku mengangguki pesan Bik Min.             Aku berjalan keluar pintu. Menutupnya lalu berjalan kejalan besar untuk menyetop taksi. Saat tiba-tiba ada mobil silver berhenti dihadapanku. Seseorang didalam mobil menurunkan kaca jendela. Dia?!             Aku mengedip-ngedipkan mata tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Darimana dia tahu alamatku? Aahh aku lupa, dia adalah Hanum Utama. Semua bisa dia ketahui. Tapi apa dia itu seorang pengangguran atau apa sampai-sampai dia bebas mengintili aku kemanapun aku pergi?             “Nat, aku antar ke kantor yuk!” ajaknya sambil menjalankan mobilnya mengiringi langkahku.             “Saya naik taksi aja, Pak!” aku mempercepat langkah.             “Ooh, ayolah! Ini udah siang, Nat. Nggak akan ada ruginya aku mengantarkanmu. Naiklah!” sepertinya dia tetap akan bersikap begini walau pun aku menolak nya.             Tapi otak warasku masih berfungsi. Aku mempercepat langkahku.             Dia menghentikan mobilnya tepat didepanku lalu keluar dari mobil. Aku memutar badan berusaha lewat jalan yang lain. Namun rupanya dia sudah ada dibelakang mobil dan berhasil mencegahku.             “Nat, aku hanya ingin dekat denganmu. Aku hanya ingin mengenalmu. Kenapa kamu menghindari aku seolah-olah aku ini menjijikan dimatamu?” dia memang menjijikan dimataku. Membuat aku merasa ilfeel dan tertekan.             “Pak, tidak sepantasnya pria seusia anda mengejar-ngejar gadis. Saya tidak tertarik dengan anda. Tolong jangan ganggu saya lagi. Saya mau berangkat bekerja, saya bisa terlambat.” Aku memandang wajahnya. Dai tampak kecewa dengan jawabanku.             “Baiklah, ayo masuklah kemobil. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu.” Dia membimbingku masuk ke mobilnya. Aku terpaksa mengikuti langkahnya. Aku tidak mau mengundang  perhatian banyak  orang. Dia menunduk hendak memasangkan seatbelt untukku.             “Saya bisa sendiri, Pak.” Aku menarik seatbelt dan menautkannya melintasi tubuhku.             Dia duduk dengan tenang disebelahku. Aroma musk menguar dari tubuhnya.                        “Kamu betah bekerja ditempatmu sekarang, Nat?  Nggak ada rencana mau pindah bekerja keperusahaan lain?"             “Begitulah.” Aku mengedarkan pandangan ku keluar jendela. Ku lihat langit, mendung. Lagi.             “Diperusahaanku ada….”             “Terima kasih, Pak Hanum” aku memotong kalimatnya. Dia terdiam, menghela nafas panjang. Aku tau pasti dia akan menawariku pekerjaan ditempatnya. Dengan begitu dia akan sering bertemu denganku. Sedangkan aku ingin menjauh darinya. Ilfeel lama-lama berada didekatnya.             “Jangan memanggilku pak, Nat. Cukup panggil aku, Mas saja. Mas Hanum.”             What???! Mas???!! Gak salah denger nih??? Aku tersenyum sinis.             Perjalanan terasa begitu lama. 15menit singkatku jika naik taksi terasa seperti 1jam saat diantar Hanum. Tapi tak berapa lama, mobil Hanum sudah sampai diparkiran kantor. Aku menyuruhnya mengantar sampai tempat parker saja. Aku tidak mau teman-temanku melihat aku diantarkan oleh om-om. Jangan sampai mereka berpikiran aku ini simpanan om-om.             “Terima kasih sudah mengantar saya.” Aku bergegas membuka pintu mobil.             “Aku tidak mempunyai istri, Nat. Apa aku boleh mengenalmu lebih jauh?” rupanya dia belum mengerti dengan semua bahasa tubuhku. Aku terdiam sejenak, memikirkan kata yang pas untuk melakukan penolakan yang cukup menyakitkan agar dia tidak mengganguku lagi.             “Terima kasih. Sebaiknya besok tidak usah lagi mengantar saya, Pak.” Aku membuka pintu mobil. Berlalu meninggalkannya dalam diam. ******             Pemikiran ku kacau hari ini. Mood ku berantakan sejak pagi dimulai dengan hadangan dari Hanum. Dilanjutkan dengan urusan kantor, banyak sekali pekerjaan. Aku lembur malam ini. Tidak bisa aku percaya. Haruskah aku begini selamanya. Aargghh rasanya ingin marah-marah, tapi pada siapa? Hiks.             Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Sepertinya aku harus pulang sekarang. Pekerjaanku yang belum selesai akan aku bawa pulang dan aku lanjutkan dirumah. Aku tidak ingin terperangkap digedung ini sendirian. Mungkin sudah tidak ada karyawan lain yang berada disini selain security. Membuat bulu kudukku merinding membayangkan apa yang bisa saja aku lihat dilorong.             Aku mengemasi barangku dan mempercepat langkah keluar dari kantor yang terletak di lantai 11 ini. Keluar dari kantor, aku bertemu dengan Agus. Security 20tahun yang selalu saja shift malam. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya jika pagi hari. Aneh juga security itu, orang lain berlomba untuk mendapatkan shift pagi sedangkan dia selalu minta shift malam.             “Malam lagi, Gus?”             “Iyo, Mbak. Nglembur tho, Mbak? Jam segini kog baru keluar.” Tanyanya dengan bahasa medhok, khas banget. Dia baik, dan cukup menarik secara tampang dan postur. Lumayan untuk ukuran security.             “Iyo, biar bisa ketemu kamu!” aku suka menggodanya. Security kantorku ini sangat polos. Aku sudah sangat sering lembur, jadi sudah tidak asing lagi dengan security yang satu ini.             “Ahh, mbak Shiya bisa aja!” Agus tersipu. Aku tertawa melihat ekspresinya.             Shiya adalah panggilan ku pada umumnya. Tapi orang-orang terdekat memanggilku Nat. Aku melambaikan tangan pada Agus dan security lainnya. Berjalan menuju jalan besar yang tepat berada didepan kantorku. Sampai mata ku terbelalak entah untuk berapa kali hari ini.             “Nat, lembur? Ayo aku antar pulang.” Dia lagi, dia lagi.             Dan begitulah selama sebulan ini! Dia selalu saja mengantar dan menjemputku bekerja. Bahkan aku jadi sering melihatnya berada di café Arlette. Aku memang termasuk kategori lumayan. Hidung manncung. Sorot mata tajam. Rambut tebal dan hitam. Bibir penuh dan badan langsingku yang banyak menarik laki-laki selama ini. Tapi aku tak berharap bahwa yang tertarik itu adalah laki-laki yang seusia papaku! Aku jadi malas pergi ke café Arlette lagi, tapi rindu sahabatku itu. Sering kali aku menjawab kasar pertanyaan yang dilontarkan Hanum, tapi laki-laki itu bahkan tidak mundur satu langkah pun. Malah semakin gencar saja mendekatiku. Hari-hariku semakin suram sebulan terakhir. Aku sering kali menghindari, namun kali itu juga selalu gagal. Aku bingung harus bagaimana lagi agar laki-laki ini tidak menggangguku terus-menerus?!                    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN