011. Pertemuan Biru & Jingga

2315 Kata
Sehari sebelum pernikahan, Biru menghabiskan malamnya dengan puisi-puisi yang dibuat pada note lalu membuangnya begitu saja pada tempat sampah. Bahkan jika saja berniat dikumpulkan mungkin puisi-puisi itu bisa menghasilkan antalogi. Wajahnya benar-benar terlihat putus asa, bahkan seharusnya Biru masih harus merevisi beberapa part dari tulisannya tapi dia benar-benar dalam keadaan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali marah terhadap dirinya sendiri. Kecewa? Tentu saja. Manusia mana yang baik-baik saja manakala ditinggal oleh kekasih yang paling dicintainya. Rasanya entah sudah berapa kali dia berusaha menidurkan diri, berusaha istirahat, tapi sangat sulit dirasa. Dadanya benar-benar sesak saat menyadari seseorang yang paling sangat diinginkan pergi meninggalkan dia dan memutuskannya dengan tali pernikahan yang akan dia rayakan. Biru cukup ambisius untuk mendapatkan kembali Nadya tapi akhirnya tidak bisa karena mungkin terlalu terlambat. Dia tak bisa menghitung waktu dengan tepat. Bahkan sekarang sudah pukul 02.00 dan seharusnya dia terlelap seperti biasa. Tapi tetap tidak bisa. Setelah kertas pada notes menipis, Biru meletakan kepalanya di meja, membiarkan dirinya terkurung kegelapan dan biarkan dirinya meredakan emosi di sana. Dia mendengar alunan nada dering dari ponselnya lamat-lamat terdengar. Ia meraihnya dengan malas benda pipih yang berada di atas nakas itu. 12 digit nomor yang tak dikenal menyapa. Biru mengernyit, siapa yang menelponnya malam-malam seperti ini? Dia malas untuk berbicara, malas untuk basa-basi, tapi barangkali penting juga. Mau tak mau akhirnya dia mengangkat panggilan itu. "Ya halo." "Biru?" Suara lelaki terdengar berat dari seberang. "Iya, ini siapa?" "Bisa temui saya bentar?" "Malem-malem gini? Kayak nggak kenal ada hari yang namanya besok," omel Biru. "Maaf, tapi saya udah ada di angkringan dekat rumahmu." "Tapi ini siapa?" "Jingga." "Oh, pantes nggak sopan." Biru langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia mengembuskan napas keras, lalu mengambil jaket dan segera keluar kamar. Lampu seluruh ruangan di rumahnya telah padam. Orang tua dan adik satu-satunya sedang tidur, dia buru-buru ke luar dan berjalan menuju angkringan yang berada sekitar 50 meter dari rumahnya. Memiliki tempat tinggal di tepi jalan memang memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri. Kekurangannya, jelas berisik karena siang atau malam kendaraan tak pernah sepi. Kelebihannya, tempat ini sangat strategis yang bisa menjangkau tempat mana pun dengan mudah. Tinggal di Batu memang luar biasa. Setelah melihat seseorang yang sedang mengaduk kopi hitam yang sedang duduk di luar angkringan, Biru langsung mendekat. Tanpa basa-basi dia langsung duduk di samping lelaki yang lebih tua setahun dari dirinya itu. Dia tak berminat untuk membuka percakapan, kedua matanya menatap jalanan di depan sementara dia malas untuk memesan makanan atau minuman. "Nggak mau mesan kopi?" tanya Jingga, agaknya dia mengalah untuk membuka percakapan. "Nggak usah basa-basi, ada apa?" tembak Biru to the point. "Kamu masih menyukai Nadya?" tanyanya. "Iya." "Terus waktu itu kenapa kamu putusin Nadya?" "Lo mau tau bangetkah masalah gue sama dia? Bukannya bentar lagi lo udah jadi suaminya, nggak penting apa yang terjadi sama gue dan Nadya. Semuanya udah berakhir gara-gara elo." "Saya?" "Ya siapa lagi? Yang mau nikah sama Nadya, kan, elo!" Suara Biru terdengar amat ketus. "Dan Nadya, dia juga mungkin masih suka sama kamu," lanjut Jingga. "Mungkin." "Tapi kehadiran saya di sini cuma mau minta maaf, maaf banget kalau saya mengecewakan kamu. Jujur, saya nggak bisa lepasin Nadya. Saya harus nikah sama dia. Saya nggak bisa melepas Nadya sama kamu, saya harap kamu bisa berhenti mendekati Nadya," tutur Jingga. "Gue udah duga itu. Dan menurut gue nggak penting," jawab Biru enteng. "Kalau kamu selalu hadir, apakah Nadya bisa lupain kamu?" Jingga bertanya retoris. "Lo takut Nadya nggak bisa suka sama elo?" tukas Biru, suaranya semakin meninggi. Agaknya dia tidak bisa tampil lebih kalem sedikit pun. "Kalau saya bilang iya kenapa?" "Itu cuma ketakutan lo. Bahkan belum apa-apa lo udah pesimistis," ejek Biru. Sejujurnya ia sangat emosi dengan kedatangan Jingga ke sini. Lelaki itu bisa-bisanya meminta dia untuk menjauhi Nadya bahkan setelah Biru mulai paham bahwa dia mungkin tak bisa lupakan Nadya. Entah mengapa pada akhirnya Biru berada pada posisi seperti ini, maksudnya kenapa dia harus saling berebut padahal dia harus menyadari bahwa mungkin pilihannya hanyalah mulai pergi. Namun jika berhenti bukan Biru mamanya. Dia tampak keras kepala dan memperjuangkan apa yang dia bisa. "Kalau bisa, saya akan bawa Nadya pergi selepas menikah nanti," ujar Jingga. "Setakut itu? Tapi ya sok aja itupun kalau Nadya mau. Apa lo nggak tau kalau Nadya sangat mencintai kota kelahirannya?" "Persetan dengan itu. Kalau kota ini selalu bikin dia inget kamu, saya akan membantu dia lupain kamu dengan pindah kota misalnya. Saya rasa itu jalan satu-satunya," tutur Jingga. Biru tersenyum sinis, dia kemudian berdiri. Obrolan dengan Jingga terasa membosankan. Dia tak mau menahan emosi lebih lama, mungkin meninggalkan Jingga adalah cara satu-satunya. Dia langsung pergi kembali menuju rumah, pulang dan membiarkan dirinya kembali sendiri. Dia duduk di ruang tamu yang gelap, lalu merebahkan tubuhnya di salah satu kursi. Pandangannya menatap langit-langit di atas sana. Ia merasa menjadi orang yang amat menyedihkan. Jika menengok ke belakang, Biru tentu tahu bahwa Jingga adalah kakak tingkat mereka berdua. Ketika itu Nadya dan Biru hanya maba dari fakultas Ekonomi dan Bisnis pada sebuah Universitas di kota Malang. Sejak pertama kali diadakan Ospek, Biru sudah mulai mendekati Nadya. Mereka berkenalan dan akhirnya berteman. Berhubung tempat tinggal mereka tidak terlalu jauh, Biru sering mengajak Nadya keluar dan jalan-jalan. Saat itu nama 'Tangkai Ra' belum seterkenal sekarang. Biru hanya menulis pada sebuah blog dan beberapakali menerbitkannya pada koran. Dan Nadya tak pernah tahu hobi Biru. Nadya hanya tahu Biru seorang pendaki, bukan penulis. Ketika sudah jalan semester satu, Biru mengungkapkan perasaannya pada Nadya dan akhirnya mereka berpacaran sejak saat itu juga. Tetapi di semester tiga, Nadya yang awalnya tidak mengikuti Organisasi apa pun, memutuskan untuk ikut Organisasi. Saat itu Biru lebih fokus pada volunteer dan magang part time. Ketika di semester lima Biru mulai sibuk dan sering tidak memiliki waktu untuk Nadya, Jingga mulai mendekati Nadya. Saat itu Biru selalu pergi mendaki dengan temannya ketika libur dimulai, atau ketika di rumah pun dia selalu bekerja part time dan kala itu Biru sudah mulai aktif menulis walaupun buku-bukunya hanya terjual beberapa eksemplar saja kala itu, tetapi siapa sangka bahwa pada akhirnya buku itu pula yang hingga sekarang laris di pasaran. Saat itu Biru seakan tak memiliki sedikit pun waktu untuk Nadya. Dia sering ketiduran pada jam-jam masih sore, dan malam digunakan untuk nongkrong dengan teman-teman, hingga akhirnya Nadya mulai dekat dengan Jingga. Mengetahui hal itu, Biru sempat marah pada Jingga, tapi nyatanya itu bukan murni kesalahan Biru, Nadya pun selalu mengiyakan jika Jingga mengajaknya pergi. Sampai akhirnya Biru yang mulai terlupakan. Biru kehilangan mood untuk mengerjakan skripsi, ketika itu dia ingat betul bahwa kewajibannya mangkrak hingga dia baru lulus di semester 11. Tahun-tahun itu Biru hanya fokus pada bukunya, dijauhi Nadya benar-benar membuatnya seperti orang tidak waras. Hingga akhirnya usai kelulusan, Nadya mulai jauh dari Jingga dan hubungan mereka kembali seperti semula. Dan sekarang Biru merasakan untuk kedua kalinya, barangkali dia harus mengakui bahwa kali ini terasa lebih sakit daripada sebelumnya, terasa lebih hancur daripada sebelum kejadian ini. Namun nahas, waktu tak bisa berbalik seperti sediakala. Seketika lampu menyala. "Mas Biru, kenapa belum tidur?" Seorang gadis berpiyama abu-abu tua datang dan duduk di kursi seberang sembari setelah menaruh nampan mie rebus. Ah, Biru sampai tak menyadari bahwa sejak tadi adiknya di dapur. "Nggak papa. Kenapa kamu bikin mie-nya cuma satu?" tanya Biru. Di depan keluarganya, dia harus baik-baik saja. Rasanya tidak etis jika mereka juga ikut terkena imbas atas emosinya. "Nggak bilang kok. Mas Biru tumben juga tidur di sini," komentar Riri. "Capek." "Makanya tenaganya jangan diforsir, Mas. Besok ada jadwal lagi?" tanya adiknya. "Ada, abis zuhur kalau nggak salah." "Tapi kayaknya muka Mas Biru bener-bener nggak bersahabat. Apa bisa tetep jadi pembicara walaupun kamu nggak baik-baik aja?" Biru duduk, dia menatap gadis 20 tahun di depannya. "Ri, kelihatan banget ya muka Mas Biru beda?" Yang bernama Riri mengangguk. "Beda banget. Kayak lagi banyak masalah." Dia menyeruput kuah mie rebusnya, lalu mulai memakan kembali mie-nya. Dia terlihat sangat menikmati walau Biru tahu, masakan Riri selalu keasinan. Riri sangat suka menambahkan bubu dari dapur yang dicampur dengan bubu default dari mie-nya sendiri, lalu entah berapa kali Biru pernah memakan masakan adiknya dan rasanya selalu mengenaskan. Namun begitu dia tetep menghabiskannya dan mengatakan pada Riri yang sejujurnya, tetapi Riri tetap pada pendirian bahwa masakannya paling enak sealam raya. "Besok baik-baik aja sih. Kayaknya harus istirahat." Setelah memiliki coffee shop, tak pernah sekali pun Biru melamar pekerjaan. Dia menikmati hobi barunya dengan menjadi waiters sekaligus belajar menjadi seorang barista. Namun meski begitu cukup jarang Biru datang ke kafe karena dia harus pergi dari satu kota ke kota lain karena diundang menjadi pembicara. Kadang universitas yang mengundangnya, kadang juga sekolah, dan ada instansi-instansi tertentu yang membuatnya berhasil menjadi pemuda yang cukup sibuk dengan jadwalnya. Di atas panggung ia mengatakan bahwa wajar ketika mudah merasakan patah hati, pada akhirnya waktu akan menyembuhkan luka. Tapi di belakang panggung dia seringkali menyesali pernyataannya karena ternyata patah hati tak semudah itu untuk dipulihkan. "Riri udah bayar UKT?" tanya Biru. Riri mengangguk. "Ayah yang bayar waktu kemarin." "Mas, kan, udah bilang kalau mau bayar UKT biar Mas Biru yang bayar." "Mas Biru belikan Riri ponsel baru aja, ya. Ponselku tadi jatuh dari lantai dua. Terus tadi layarnya bener-bener retak. Sempet nyala, tapi sekarang mati. Riri jadi belum buka media sosial apa pun deh dari sore." "Kenapa bisa jatuh?" "Aku lagi foto matahari terbit, tapi licin kayaknya tanganku jadi berhasil mendarat ke bawah deh." "Ya udah nanti besok kamu beli." "Sama Mas Biru, kan?" "Sendirian aja ya, Ri. Atau sama temenmu. Besok Mas Biru kan ada jadwal. Ya tapi itu juga kalau jadi, sih," lirih Biru. Jika bisa dibatalkan, mungkin dia akan batalkan saja dulu. Terlepas dari jadwal, dia benar-benar tak bisa ber-haha-hihi di panggung seperti biasanya. "Tapi aku nggak ngerti spek-nya," tolak Riri. "Nanti Mas kasih tau, nanti Mas chat Riri atau nanti vidcall sekalian, hadeuh ... padahal beli ponsel nggak sesulit itu." "Okay deh, Makasih Mas Biru. Tapi jangan bilang ibu, ya. Nanti aku dimarahin." "Ya." Biru bangkit, dia kemudian berbalik dan berjalan menuju tangga, menaiki anak tangga satu per satu sebelum akhirnya kembali masuk ke kamar miliknya. Di lantai dua terdapat dua kamar, yaitu miliknya dan milik adik satu-satunya, Riri. Beda lima tahun dengan Riri, membuat Biru sangat menyayangi gadis itu. Mereka hanya dua bersaudara dan tinggal berempat dengan orang tuanya. Memiliki keluarga kecil yang sangat suportif benar-benar menjadi berkah tersendiri, tapi nahasnya Biru terlalu sering tidak menyadari. Dia benar-benar kalut malam ini. Dimatikannya lampu kamar, melepas jaket, membuka gorden jendela lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap langit malam dari balik kamar sedikit membuat dirinya merasa tenang. "Ah, patah itu perihal biasa. Generasi muda mana yang belum pernah merasakan? Saya, kamu dan kalian semua di sini mungkin sudah pernah merasakan itu. Saya memang ada pengalaman perihal itu, dan memang cukup lama untuk kembali normal kayak sediakala. Susah malahan. Saya ngerasa bahwa diri saya sendiri pun nggak bisa diandalkan, saya juga ngerasa bahwa otak saya nggak akan bisa dengan cepat hapusin memori-memori itu. Kita nggak bisa log in dan log out sesuka hati. Pada akhirnya, ya kita mengandalkan waktu buat nyembuhin luka kita. Kita ngandalin semesta yang pada akhirnya membantu kita untuk melepas semuanya. "Proses penyembuhan itu agak lama ya saya kira. Tapi kalau kita sudah berusaha menerima, maka terasa akan mudah. Bagi yang sudah pernah merasakan, patah hati memang biasa, cara patahnya yang kerapkali tak pernah biasa. Ketika kita sudah menaruh harapan terhadap seseorang atau sesuatu hal, saat itu pula nggak lama lagi kita akan merasakan patah luar biasa. Trust me, nggak ada orang yang nggak pernah patah hati. That's impossible. Gue yakin temen-temen gue yang dateng hari ini pernah tuh ada yang diputusin. Keep calm, semuanya akan baik-baik aja. Kehidupanmu nggak bergantung sama dia, napasmu nggak disediakan olehnya. It's okay not to be okay, tapi kamu harus tetap bangkit. "Gue jadi pengin cerita deh. Sebenernya kita ini terjebak oleh pikiran-pikiran kita sendiri. Kita menjadi manusia yang nggak bebas karena buah dari pikiran kita. Ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran itu buah dari pikiran kita yang sebenarnya nggak penting-penting amat buat dipikirin. Gue tau mungkin dalam hati lo ngomong, lah enak ngomong doang mah gampang. Ya, tapi coba deh kita sadari lagi, ternyata ketakutan yang lo pikirin itu emang karena lo takut gagal, kan? Lo takut apa yang selama ini lo rencanakan bakalan gagal. "Coba kalau lo lebih percaya kalau semuanya bakal berjalan lancar, lo nggak bakal takut. Lo nggak bakal ragu dan lo nggak bakal cemas. Ibaratnya, misalkan lo mau ke jalan-jalan ke Jatim park sama temen lo, pagi-pagi lo persiapan nih karena katanya lo mau berangkat siang nanti, nah lo waktu itu ngerasa takut nggak? Gue kira nggak bakal lah, ya. Lo udah tau jalannya, lo siapkan duitnya, lo tinggal berangkat. Paling-paling lo cuma bayangin kalau udah sampai di sana mau ngapain-ngapain kan gitu. Beda kalau lo misalnya mau mulai berjualan, pasti ada rasa takut. Lo cemas nanti bakal ada yang beli nggak? Nanti laku nggak ya? Nanti penilaian produknya kayak gimana ya? Padahal saat itu lo belum benar-benar terjun bakulan. That's life. "Padahal siapa tau dari jualan itu akhirnya jalan lo emang di situ jalannya. Basic lo emang jualan dan kita nggak tau kan jalan setiap orang beda. Jadi, saran gue sih jangan takut kalau lo mau mulai sesuatu. Persepsi-persepsi buruk bolehlah dihilangin dulu, karena itu yang akan menghambat kehidupan lo. Kita nggak tahu jalan ke depan itu kayak gimana, rahasia. Kita nggak tahu nanti kita jadi apa, besok akan terjadi atau harus melakukan hal kayak gimana, jadi menurut gue yang paling penting itu daripada lo fokus sama hari esok, mending maksimalkan untuk hari ini. Karena bagaimana pun esok itu belum pasti, sedangkan hari ini sedang terjadi. So, semangat dan jangan mudah menyerah. Lo harus bertahan, lo harus terus hidup." Pada masanya Biru pernah berkata sedemikian hebat pada semua peserta, fansnya, tetapi dia lemah di belakang mereka. Dia benar-benar payah untuk jujur pada dirinya sendiri bahwa dia tak pernah baik-baik saja. To be continued~ Terima kasih telah membaca cerita ini ^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN