030. Mimpi

1162 Kata
"Biru, aku Caramel!" Seorang perempuan berbola mata cokelat tua serta memakai dress putih selutut tersenyum ke arahnya. Dia memiliki tinggi semampai, kulit seputih s**u, rambut pirang dan wajah yang sangat cantik. Kedua matanya seperti perempuan timur, hidungnya mancung, bibirnya semerah leci dan ketika tersenyum ia memamerkan lesung pipitnya dengan sempurna. Di tepi laut, perempuan itu melangkah mendekati Biru. Langkahnya amat pelan. Di atas pasir, kakinya terlihat sangat cantik. Sesekali rambutnya bergerak tersapu angin, tetapi ia berjalan dengan pasti mendekati Biru. "Biru, aku Caramel. Percayalah, aku Caramel." Dia berdiri di depan Biru dengan senyum yang sangat manis. Bahkan bulan sabit pun mungkin insecure melihat betapa manisnya perempuan itu ketika tersenyum. "Caramel? Kalau aku nggak percaya?" Biru bertanya. "Aku akan membuat kamu percaya. Biru, aku mencintai kamu. Sangat. Biru, aku mohon cintai aku, sayangi aku, aku nggak suka saat perasaanku tak terbalas, Sayang." Caramel mengalungkan tangannya di leher Biru. Biru melingkarkan kedua tangannya di pinggang perempuan itu, sementara kedua matanya tak sekalipun berkedip dari menatap bidadari di depannya. "Aku mencintaimu," bisik Biru. "Biru, aku cuma ingatkan bahwa aku ada, dan tolong percayalah. Aku Caramel." Biru langsung terduduk dari tidur pulasnya. Dia terkejut. Ia mengusap wajahnya, tadi hanya mimpi. Tapi kenapa mimpi itu begitu jelas dan perempuan itu begitu cantik? Apa benar yang hadir dalam mimpinya itu adalah Caramel? Secantik itu kah? Gila. Bahkan kali ini Biru merasa sudah gila dan hilang kewarasan karena perempuan itu. Sangat aneh. Kenapa Biru malah jatuh cinta pada seseorang yang ada di balik tubuh Nadya. Pukul 02.00, Biru menelpon Nadya. Dia hanya ingin memastikan. "Ada apa, Biru?" tanya Nadya. "Kamu masih inget wajahmu? Kamu punya rambut sebahu? Caramel. Maksud gue Caramel, gue ngomongin Caramel." "Iya." "Kulit lo putih? Bentuk mata lo mirip orang timur? Bulat?" "Iya. Kamu tahu?" "Punya lesung pipit?" "Iya. Lo tau dari mana, anjir?" "Sumpah, lo secantik itu? Gue kebangun karena lihat lo di mimpi. Lo nyamperin gue dan bilang kalau lo Caramel. Entah gue udah stres atau bagaimana, tapi ... lo cantik. Gila, lo cantik banget." Suara Biru terdengar menggebu-gebu. "Biru ... nggak ada juga yang ngomong aku nggak cantik. Ngomong-ngomong aku punya akun i********: yang bisa kamu kunjungi. Username-nya caramel404, dan itu gue Biru. Tapi aneh, gue nggak bisa membukanya saat ini, terlalu aneh. Padahal gue nggak pernah ngubah password," lirih Nadya. Biru langsung membuka i********:, lalu mencari username yang dikatakan Nadya padanya. Dia mengetik username itu dan ternyata. Ada! Benar. Biru melihat lima postingan milik Caramel dan gila, bahkan benar ... perempuan itu yang hadir di mimpi Biru. Kenapa? Semuanya semakin aneh. Biru memandang foto Caramel, perempuan itu benar-benar cantik. Tiga di antara lima foto itu, Caramel memakai bikini di lautan. Caramel benar-benar sexy dan gawatnya Biru semakin menyukai. "Itu beneran kamu? Akunmu?" Biru memastikan. "Iya, kenapa? Aku cantik?" "Gila. Sayang, serius ... aku nggak mau kamu suka orang lain selain aku. Please, temui aku. Aku makin gila kalau begini caranya." Biru masih asyik memandangi foto-foto Caramel, menyimpannya di galeri kemudian. "Aku terlalu terkejut waktu terlempar ke tubuh Nadya. Serius, kamu mungkin tahu sekelebat tentang kehidupanku kalau lihat dari i********:, ya begitulah aku, Biru. Aku hedon dan terlalu susah untuk memuaskan apa yang harus aku sukai." Nadya bercerita. "It's okay, tapi gue berterimakasih karena elo percaya sama gue dan menceritakan semuanya sama gue, walaupun sampai saat ini gue belum 100% percaya, tapi seenggaknya gue udah punya pijakan buat percaya sama elo walaupun dikit demi dikit. Ini nggak mudah, tapi mimpi tadi bener-bener kenyataan. Serius, lo cantik Sayang. Cantik banget. Gila." "Ya seenggaknya aku ada alasan kenapa aku harus ucapkan terima kasih. Terima kasih karena udah mau belajar buat percaya, Biru," ucap Nadya. "Sama-sama cantik. Dan Nadya ... Ah, haruskah aku nyebut kamu sebagai Nadya? Kamu nggak sakit hati, kah?" "Sejak awal kalau mau jujur ya sakit hati, tapi ini bagian dramaku menjadi Nadya. Aku nggak mau orang lain tau bahwa di dalam tubuh ini bukan Nadya. Jadi, nggak papa panggil aku Nadya, dan jangan pernah sebut aku Caramel sampai kita benar-benar bertemu," ucapnya penuh penekanan. "Kenapa kamu dinamai Caramel?" "Aku juga nggak tahu. Aku nggak tahu arti namaku." Lama mereka berbincang, hingga pukul 03.00 bahkan dan obrolan itu masih berlanjut. Nadya sendiri tak paham, apakah ini dinamakan perselingkuhan? Oh seharusnya tentu bukan. Dinamakan perselingkuhan jika Nadya asli yang melakukannya, sementara ini adalah Caramel. Nadya yang telah menikah, sementara Caramel belum dan hanya akan menikah jika bersama Biru. "Nadya ... Nat, hallo ...." Tak ada sahutan. Biru tersenyum, mungkin Nadya tertidur, pasalnya panggilan belum dimatikan. Dia kemudian memutuskan untuk mematikannya dan mengetikan beberapa kata. Kamu ketiduran kah? Maaf aku mengganggu waktu istirahatmu. Dia kemudian tersenyum lagi. Memandang wajah Caramel di layar ponselnya. Gila, bahkan dia bisa berubah secepat ini untuk berpaling? Dari Nadya ke Caramel? Dia merasa b***t dan tak tahu diri, tapi nahasnya dia menyukai ini. Biru tak tahu persis sejak kapan dia mulai menaruh perhatian pada Nadya baru. Seingatnya dia masih menyukai Nadya, tapi ... kehadiran Caramel di tubuh Nadya benar-benar membuat dirinya oleng. Terlebih Caramel sangat cantik dan berani. Ia tahu bahwa mungkin perbuatannya salah, tapi bukankah lebih baik begini? Dia tak lagi menyukai Nadya dan pamit mundur karena bagaimana pun Nadya tetap tak akan bisa dimiliki sampai kapan pun. Dia telah terikat oleh lelaki lain dan tugas Biru hanya berpindah dengan mencoba kembali jatuh cinta pada yang lain. Agak gila, tapi tak apa. Sejak awal dia memang tak waras. Tak lama kemudian handphone miliknya berdering. Biru melihat nama Moka di layar. Tumben sekali pukul 04.00 Moka sudah terbangun, biasanya dia baru bangun ketika matahari sudah terbit. Tapi belum juga Biru mengangkat panggilan itu, Moka sudah mengirim pesan pada laki-laki itu. Ra, keluar. Ada sesuatu penting. Biru mengernyitkan dahi. Sepenting apa sampai Moka mengirimkan pesan sefajar ini? Apakah Dua Lipa telah mengeluarkan album kembali, atau Zayn Malik kembali menjadi anggota One Direction? Biru tak paham. Dia segera keluar dan di depan pintu sudah ada Moka. "Ada apa?" tanya Biru. "Ra, lo nggak ada hubungan sama Nadya, kan? Editor kita?" Moka bertanya dengan mimik wajah yang terlihat amat serius. "Kenapa emang?" "Dia udah bersuami. Suaminya telepon gue dan katanya meminta kamu jangan deketin Nadya. Ra, gue mohon jauhi Nadya kalau kalian deket. Ini bisa menghancurkan karir lo, Ra." Moka mengingatkan. "Gue nggak mau karir lo hancur karena dituduh selingkuh, katakan sama gue lo nggak ada hubungan apa pun sama Nadya, kan?" "b******n, ya! Gue nggak ada hubungan apa pun sama Nadya. Sumpah, gue nggak akan biarkan popularitas gue hancur gara-gara dia." Wajah Biru langsung memerah, terlihat sekali bahwa dia sedang menahan amarahnya yang sudah memuncak. "Ra, gue percaya sama lo. Jangan bikin gara-gara. Segila apa pun elo, sekesel apa pun elo, se-stres apa pun elo, tolong jangan sampai berani-beraninya deketin cewek yang udah nikah. Ini bisa jadi berita besar, masalahnya suami Nadya katanya Dosen. Gawat kalau dia udah speak-up. Gue mohon inget kekuatan sosial media, kuat. Lo harus sadar, Ra." "I know. Udah? Gue mau masuk." Biru langsung kembali masuk. Dia langsung menelpon Jingga selepas pintu kembali ditutup. "Halo, Biru," sapa Jingga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN