004. Seberapa Ragu

1932 Kata
Tepat pukul 09.35, Nadya—ya panggil saja Nadya. karena mulai hari ini Caramel telah ikhlas jika dia harus melupakan dirinya untuk sementara. Demi kembali pada tubuhnya kembali, dia rela melakukan apa pun walau harus dibarengi dengan keluhan yang tidak ada habisnya. Tapi jika memang terdesak, dia rasa tak ada salahnya untuk mengeluh. Manusia mana yang tak pernah mengeluh? Ya, setidaknya sekarang mengeluh adalah hobi baru yang sepertinya harus dia geluti mengingat bahwa sekarang hidup tak cukup adil baginya. Menjelang siang seperti sekarang, Nadya baru saja terbangun dari tidurnya. Dia menguap sembari berjalan sempoyongan menuju jendela dan membuka gordennya kemudian. Dia melihat kalender dari ponsel, 09 September 2017. Padahal ia seharusnya sudah berada di pertengahan tahun 2020, berhadapan dengan pandemi yang mulai masuk ke Indonesia tepat 2019 akhir. Andai dia seseorang yang memiliki peran penting dalam sebuah aturan ketatanegaraan, mungkin ia dapat mengatur segalanya dari awal agar negara bebas dari virus. Tapi dia hanya bisa mengubah masa depannya sendiri. Entah di mana, sekarang kembali menginjak ke masa lampau, mundur. Jika saja boleh, dia harusnya bisa memperbaiki diri. Tapi di sini dia tak akan memperbaiki apa pun kecuali melakukan kewajiban saja untuk memilihkan takdir bagi Nadya, ya bagi dirinya. Nadya berjalan ke depan hendak mandi. Seharusnya ia sudah tiba di kantor tepat pukul 08.00 sesuai jadwal, tapi dia yang biasa bangun siang jika tidak ada kelas sungguh-sungguh tak bisa datang tepat waktu. Rasanya dia juga belum siap untuk bertemu teman-teman kantor. Dia tak tahu harus melakukan apa, apa yang akan mereka obrolkan, dan Caramel takut gagal memerankan peran Nadya ketika ia berhadapan dengan rekan kerja. Sungguh nestapa berada di antara orang-orang baru yang tak ia kenal. *** Selepas mandi dan sekarang telah pukul 10.15, Nadya berdiri di depan cermin sembari memperhatikan dirinya yang mengenakan celana kulot hitam dengan dilengkapi outer senada. Dia mengepang rambut panjangnya, lalu menjepit sisi-sisi rambut dengan jepitan milik Nadya. Dia mengambil perlengkapan make up dari laci, lalu menghela napas panjang-panjang karena lagi-lagi tak ia dapati banyak peralatan kecantikan yang Nadya miliki. "Aduh Nadya, lo miskin juga ternyata. Padahal menurut gue lo tambah cantik kalau bisa dandan. Pantesan lo nggak bebas mau milih siapa pun, wong yang suka aja cuma Jingga." Dia bermonolog. "Kalau dipikir-pikir Jingga nggak ganteng-ganteng amat, pendek, dan nggak peluk-able, tapi persetan dengan semua itu emang nyalinya pengin milikin lo kayak udah menggebu-gebu banget sih," lanjutnya. "Nggak bisa bayangin juga kalau nanti gue harus malam pertama sama doi, anjir. Kayak nggak ada cowok lain apa?" Nadya terlihat kesal. Dia memakai bedak tabur seadanya, lalu dipolesnya lipstik nude di bibir. Bahkan Nadya tak memiliki sunscreen. Daripada dia ke kantor dalam keadaan tidak percaya diri begini, lebih baik dia pergi ke gerai kosmetik untuk membeli perlengkapan kecantikan. Sebagai perempuan yang menjunjung tinggi kecerdasan dan kecantikan, tentu Nadya harus melindungi wajahnya dengan sunscreen, karena selain untuk melindungi kulit, ia juga berguna untuk menolak penuaan dini. Akan sangat menyeramkan jika pada wajahnya keriput sebelum waktunya. Dia bangkit, ponsel berdering. Dilihatnya nama 'Ceo Founder' yang memanggil. Nadya terlihat panik, dia harus berkata hati-hati karena harus berhadapan dengan orang yang memiliki jabatan. Ragu-ragu Nadya menggeser tombol hijau, sebelum akhirnya dia mengangkatnya juga. "Halo," sapa Nadya. "Halo Nad, kamu kenapa nggak ke sini?" Sebuah suara yang tidak terlalu enak didengar bertanya dari seberang. Aduh, gue mesti alesan apa. Masa gue bilang telat, tapi kayaknya Nadya nggak pernah ngelakuin hal konyol kayak gini, bangun siang kayak gue. Gawat banget. Lebih baik boong kali ya, karena kalau jujur bisa-bisa gue dicurigai. Batin Nadya. "Nat, halo ... kamu masih di sana, kan? Dengar suara saya nggak?" Kali ini dia mengulang. "Eh iya, Pak, maaf. Saya lupa banget kalau hari ini ada jadwal pertemuan di kantor karena dari pagi saya bolak-balik kamar mandi terus, kayaknya ada yang salah sama pencernaan saya. Gimana dong, Pak?" Setengah cemas akhirnya Nadya menemukan alasan tepat. "Pak? Pak siapa yang kamu panggil, tumben." Suara tawa terdengar berbderai di sana. Aduh, siapa pun deh elo. Beneran ya emang kudu bener aja ini orang-orang. Males banget harus kenal sama temen-temen Nadya. Batinnya lagi. Dia terlihat kesal, tapi setidaknya dia akhirnya tahu bahwa banyak hal yang harus ia hadapi. Culture shock benar-benar akan menjadi sahabatnya selama 63 hari ke depan. Setidaknya dia sudah melewati tujuh hari terseram untuk mengetahui hari-hari Nadya dan mengenali sifat perempuan itu. "Eh iya maaf, Mas. Saya lagi mikir banyak hal jadi kurang fokus." Nadya kembali beralasan. Untung saja ia lulusan pendidikan Bahasa Indonesia setidaknya ada sedikit bekal untuknya membuat karangan-karangan selama di sini. Ya, dia harus pandai mencari alasan dan berdrama selayaknya tokoh utama dalam peran yang dimainkan. "Jadi, hari ini kamu beneran nggak bisa ke sini?" Dia memastikan. "Enggak bisalah, Mas. Lagian meetingnya udah mulai juga, kan? Kalau saya ke sana sekarang tetap aja telat." Nadya beralasan, padahal dia hanya benar-benar tak sanggup untuk bertemu orang-orang. "Padahal penulis Kekasih yang Pergi datang, lho." "Hah? Bener?" Sepertinya Nadya benar terkejut karena sebelum memasuki tubuh Nadya pun Caramel sering membaca tulisan milik tangkai Ra, tapi sayang sekali dia harus melewatkan pertemuan ini. "Iya bener, makanya sayang banget kalau kamu nggak ke sini," jawabnya. "Ya nggak papa deh, Mas. Mana tau nanti ada kesempatan kedua. Kan semuanya nggak harus diselesaikan hari ini." Nadya berusaha menjawab apa adanya. "Ya okay, tapi kamu udah sampai mana ngedit naskah Ra?" Dia kembali bertanya, mungkin naskah itu memang harus diselesaikan karena jadwal terbit makin dekat. Ia dapat membayangkan bahwa penggemar-penggemar Ra sudah memenuhi kolom komentar lelaki itu menagih kapan buku terbarunya terbit? "Sampai ... ya lumayan, pokoknya sesuai deadline. Saya janji akan menyelesaikannya. Walau kayaknya nggak perlu ada yang diedit sih soalnya udah rapi banget. Alurnya udah keren dan ya bakal ngaruh ke esensi dari isi novelnya kalau diedit," jelas Nadya. Aduh, gue ngomong apa, tapi ya semoga dia ngerti maksud gue. "Aneh, Nat. Ya kalau nggak diedit nanti kerjaanmu apa? Dari tadi omonganmu kayak ngelantur nggak kayak biasanya. Ya udah sembuhin dulu kalau emang nggak enak badan, takut saya di sini jadi emosi." "Eh iya." Nadya langsung mematikan sambungan, lalu membanting ponselnya ke kasur. "Gila, omongannya sombong amat. Bener-bener ya gue bisa gila kalau di sini dua bulan lagi. Ini self healing kagak, jadi orang gila iya. Nat, lo anjir kenapa nggak resign aja sih punya atasan aneh emang enak, ya?" Dia mengomel. "Beneran ya kalau nanti gue dapet loker yang gajinya lebih gede dari ini dan kerjanya nggak berat-berat banget, gue resign aja kali. Biar Nadya juga enak. Kerja di kantor yang sekarang bener-bener bikin gue muak. Gaji nggak seberapa, omongan atasannya udah kayak yang punya langit bumi," lanjutnya. Dia berdiri, meraih tas lalu berjalan keluar untuk segara menyalakan motor matic milik Nadya. "Aduh, panas dong ya pakai motor." Nadya berdesis. "Biasanya gue pakai mobil, ini beneran gue kudu banget pakai motor? Mana panas di sini juga lumayan nggak main-main. Beneran ya, ini mah selain bertukar jiwa tukar nasib juga dong Tuhan. Jujur, gue nggak bisa jadi orang miskin. Maksudnya sih si Nadya emang nggak miskin-miskin banget, tapi gue emang nggak bisa begini terus, haduh." Nadya menyalakan mesin motornya dengan kesal, mau tak mau dia harus melakukan ini karena jika naik mobil, pemasukan Nadya tidak akan memadai dan tak bisa dapat bertahan hingga akhir bulan nanti. Dia harus belajar menghemat, meski nalarnya tak bisa menerima bahwa di dunia ini ada orang yang bisa bertahan sebulan dengan gaji kurang dari dua juta selama sebulan. Setelah mesin motornya panas, Nadya mengendarai kendara roda duanya menuju pasar swalayan sesuai petunjuk dari GPS yang dinyalakan. Sejujurnya dia tak yakin ada di mana sebelum akhirnya melihat spanduk-spanduk, ikon-ikon daerah ini yang terpampang pada tempat-tempat tertentu seperti di depan warung pecel, balai desa, sekolah, tukang bakso, ataupun mie ayam. Malang, Jawa Timur. Nadya terkejut ketika dia berada di kecamatan Batu, pasalnya tadi dia hanya melihat nama-nama desa saja. Namun, mungkin ini dari satu hal yang harus disyukuri dari banyaknya hal-hal yang membuat dia kecewa perihal pertukaran jiwa ini. Udaranya tidak terlalu panas seperti berada di kota-kota lainnya, cukup asyik untuk dijadikan healing dari rumitnya pikiran saat ini. Sampai di tikungan, ia belok kiri sesuai arahan GPS. Dari kontrakan ke pasar swalayan sekitar 3 KM yang seharusnya bisa ditempuh 6-8 menit dengan kecepatan cukup tinggi. Serba sulit hidup di sini pikirnya. Dia harus bergerak sendiri jika menginginkan sesuatu, padahal jika di rumah ia hanya berselonjor depan laptop sembari menonton tayangan film, dan apa-apa yang menjadi kebutuhan tinggal menyuruh asisten rumah tangganya. Dan sekarang semua itu hanya menjadi hayalan dari seseorang yang kecewa terhadap takdir dari semesta. Ya, setidaknya dari banyaknya manusia di dunia ini mengapa harus ia yang memerankan drama aneh ini. Tiba di persimpangan, Nadya membelokan motornya ke arah pasar swalayan dan memarkiran kendara yang tak terlalu bagus itu di area parkir. Dia menghela napas panjang, lalu mulai berjalan ke dalam untuk segera berbelanja hal-hal yang dibutuhkan. Bersyukur Nadya memiliki tabungan, sehingga ia bisa menggunakan seluruh uang itu untuk kehidupannya selama dua bulan ke depan. Dia langsung mengambil troll belanjaan, mendorongnya ke arah tempat di mana sayur-sayuran dan buah-buahan saling berjajar. Ia mengambil satu kilogram apel, setengah kilogram anggur hijau, pear, kemudian dia juga mengambil beberapa sayur, daging dan mie instan tentu saja. Setelah selesai, ia beranjak ke arah makanan ringan, mengambil hal-hal yang dibutuhkan untuk camilan ketika malam dan terakhir Nadya berjalan ke gerai skincare untuk membeli macam-macam perawatan yang harus dia punyai. "Mau mencari apa, Mbak?" Seorang penjaga salah satu merk mendekati Nadya ketika mendapati wanita itu hanya menatap etalase dengan tatapan bingung. "Eh, sebentar dong. Gue masih harus milih-milih," sentak Nadya. Dia geram karena saat ini selalu dihadapkan dengan pilihan yang tidak ada untungnya sama sekali. Dia harus mengganti merk skincare dan kosmetiknya untuk sementara dari merk yang harganya bisa dipakai Nadya lama jajan sebulan, dengan merk skincare dengan harga yang terjangkau karena uang Nadya yang terbatas. Jika dia membelanjakan untuk skincare andalannya, dia tak tahu apakah minggu depan masih bisa makan burger atau membeli spaghetti. Ah, paling tidak seharusnya ada persiapan jika tahu akan bertukar peran. Setidaknya ia harus membawa skincare dari rumah agar tidak takut seperti ini. Semuanya memang menjadi sangat rumit, tapi mau tak mau dia akhirnya memilih yang merk-nya lumayan terkenal juga. Setidaknya dia cukup yakin bahwa itu bisa digunakan sementara, selama enam puluh hari lagi. Ah, dia berusaha yakin bahwa skincare penggantinya tidak akan membuat kulitnya berjerawat, merusak skin barrier, menjadikan kusam, dan hal-hal apa pun yang tidak dia sukai. Setidaknya selain berusaha secara terpaksa menerima keadaan pun dia harus berusaha menerima secara terpaksa pula untuk mengganti merk skincare-nya. Tapi sesungguhnya dia belum benar-benar yakin, tapi mau gimana lagi? Ah, kemudian tebersit bahwa mungkin saja Nadya masih memiliki tabungan lain. Tapi, dia ragu jika tidak bagaimana nanti dia makan? Dan sepertinya gaji dari penerbit pun tidak seberapa, tapi sudahlah. Ia harus siap, perkara skincare saja dia terlihat amat rumit. "Mau dipilihkan, Mbak? Cream untuk menghilangkan kusam, atau mungkin serum untuk menghilangkan komedo." Seorang pelayan kembali. Nadya benar-benar kesal. Menurutnya belanja skincare itu paling nyaman di gerainya langsung, dengan begitu dia memiliki banyak waktu, tidak di tempat umum seperti ini. "Iya sabar dong, gue tau apa yang terbaik buat gue," jawabnya. Huh, udahlah. Yakin aja deh kalau skincare ini baik buat kulit gue. Tapi gue juga nggak yakin apakah gue harus milih skincare yang bisa dipakai langsung buat yang udah terbiasa atau buat pemula? Gue nggak tahu Nadya pernah pakai skincare atau enggak, mungkin gue harus beli peeling serum juga kali, ya. Aduh, Nat ... jujur gue agak susah juga ya hidup di tubuh lo. Kayaknya lo tipe-tipe orang yang simpel tapi nggak jelas banget buat gue. To be continued ^^ Terima kasih sudah membaca cerita ini, dan tungguin kelanjutannya besok ya :) Lilac.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN