Pukul 06.00, di dalam kamar hotel, Biru masih terlihat asyik memainkan menonton salah satu film dari Netflix melalui laptopnya. Acara akan dimulai pukul 10.00, dan kebetulan tempatnya tak jauh dari hotel yang ditempatinya kini, hanya memakan waktu sekitar 15 menit berkendara mobil. Dia dan anggota lainnya akan berangkat 30 menit sebelum acara dimulai.
Sesekali Biru tampak meneguk air mineral dari botol dan menaruhnya kembali. Bahkan ketika sedang menonton tayangan aksi saja, dia masih mengingat Caramel, Nadya, dan perjalanan lintas waktu yang masih dan mungkin akan selalu mengganggu pikirannya. Sudah beberapa artikel yang ia baca semalaman, selama dalam perjalanan ke sini, tapi tak ada satu pun yang benar-benar mampu meyakinkan Biru terhadap benar adanya tentang lintas waktu. Baginya meyakini hal-hal seperti itu terlalu fantasi, tapi jika memperhatikan perbedaan Nadya, Biru juga terdesak di antara percaya atau tidak.
Handphone berdering. Biru meraih benda pipih hitam yang berada di atas meja itu. "Ya halo," sapa Biru.
"Biru, berangkat pukul sembilan, ya." Seseorang dari seberang berkata.
"Okay, siap."
"Okay."
Biru mematikan ponselnya, lalu menaruhnya asal sedangkan dia masih tenggelam di balik selimut demi menikmati 59 menit lagi menuntaskan film-nya. Selain menulis, Biru memang suka membaca, suka kopi, senja, gunung, dan Nadya. Namun persetan dengan semua hobinya, tetap saja mengingat masa lalu adalah hal yang paling sering di-replay tanpa bosan. Mengingat senyum Nadya, membayangkan semasa dulu Nadya sempat tertawa karena tingkah keduanya, dan Nadya hari ini yang membuatnya kembali jatuh cinta.
Lama mereka tidak saling jumpa dan sapa, kemudian kembali bertemu dengan Nadya yang telah beda. Nadya yang darinya sekarang benar-benar membuat Biru jatuh berkali-kali. Entah kali ini Biru jatuh cinta pada siapa. Nadya lama atau ... Nadya baru? Tapi yang pasti Biru memang menyukai dia. Nadya-nya.
Lelaki itu kemudian bangkit setelah mematikan handphone. Dia merasa bahwa harus segera melakukan persiapan. Dia harus mandi, sarapan, dan setelah itu pergi. Laptop miliknya ia taruh di meja nakas dengan asal, sementara lelaki itu kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Di bawah shower, air mengalir membasahi rambutnya yang kian panjang. Sengaja Biru tak pernah memotongnya karena ia sangat menyukai gaya rambutnya saat ini. Gondrong merupakan sebuah validitas bagi dirinya. Ah tidak, tak perlu memakai kalimat yang dipahami, Biru hanya tidak percaya diri jika memotong rambutnya dan membuatnya menjadi pendek. Itu saja. Bahkan dia tak peduli dengan omelan ibunya yang mengatakan bahwa laki-laki tidak terlihat rapi jika rambutnya panjang, menurut Biru laki-laki dan perempuan sama saja, asal sama-sama diurus.
Ia kemudian keluar, mengeringkan tubuh dengan handuk, mengeringkan rambut legamnya dengan hairdryer, lalu memakai kemeja panjang cokelat bergaris putih yang pada bagian lengannya dilipat hingga siku, kemudian memakai levis sebagai setelannya.
Setelah memakai sepatu sneaker dan menguncir rambutnya, dia segera menyampirkan tas kecilnya lalu keluar untuk menunggu teman-temannya di lobi. Dia sengaja tak sarapan dan akan sarapan di luar, di restoran langganan ketika mereka ke Bandung.
Di lobi, ramai pengunjung hotel yang sedang menikmati pagi di sini. Biru segera memakai topi dan keluar untuk sekadar mencari udara segar dan merokok. Rasanya sudah lama dia tak menyesap kretek itu.
Dia merogoh ponsel dari saku celana, menekan kontak dan mendekatkan benda pipih di telinga. "Mas, aku pengen sarapan di resto depan." Biru berujar.
"Sarapannya bareng aja, Ra. Nanti sarapan di tempat sama yang lain juga. Kamu kalau di Bandung kebiasaan suka-suka sendiri deh," omel temannya. Yang tak lain adalah seseorang yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap Biru. Bisa dikatakan seorang manager Biru. Tapi bagi Biru, Moka sudah seperti abangnya sendiri. Pasalnya Moka seperti setir bagi kendaraan yang Biru naiki. Segala hal yang tak sejalan dengan karirnya, Moka yang selalu ada untuk menasihati Biru.
"Ya udah aku cuma mau ngerokok. Cepetan aku udah di luar, jangan lama-lama." Biru mematikan sambungannya, lalu berjalan ke arah ruko tepi jalan sekadar membeli rokok dan soda. Dia kangen sekali dengan suasana kota ini. Tapi menetap lama pun hanya akan membuat dirinya merasa bosan.
Tak lama kemudian, mobil hitam berhenti. Biru bangkit, lalu masuk dan duduk di depan, sebelah sopir. Di belakang sudah ada Moka dan kedua temannya. Ia membuka kaca jendela, lalu melanjutkan kegiatannya menyesap kretek dan membiarkan asapnya keluar. Alunan musik dari One oke Rock meramaikan kendaraan, kedua teman Biru lainnya asyik di depan laptop entah mencari data atau apa pun, Biru tak ikut campur, sementara Moka mungkin sedang sibuk dengan panitia di sana.
Di beberapa titik, sesekali mereka terjebak kemacetan. Namun syukurlah, akhirnya mereka datang tepat waktu di salah satu Universitas Negeri di kota Bandung. Mereka langsung diarahkan untuk masuk ke sebuah ruangan perkumpulan, sementara para penonton, tamu, dan seluruh hadirin telah duduk rapi memenuhi kursi-kursi. Acara yang diadakan di gedung ini merupakan acara dari Organisasi kampus dan mereka mengundang Biru untuk menjadi pembicara sekaligus motivator. Jika mendengar kata motivator, bahkan Biru sendiri saja merasa geli.
Tepat pukul 10.00 acara dimulai. Biru mulai memasuki panggung, dan ia menatap ratusan mahasiswa yang kemudian menyambutnya dengan riuh dan tepuk tangan yang tak henti-henti. Sang pembawa acara meminta Biru untuk duduk, dan Biru duduk di salah satu kursi yang telah disediakan.
"Beranjak ke acara selanjutnya setelah kita mendengar sambutan-sambutan dari Dr. Mufrikhin, S.Pd selaku kaprodi, dan mendengar sambutan dari Dekan, acara selanjutnya adalah tentu saja merupakan acara inti yang mana kita telah menantikannya sejak lama. Mari kita sambut penuturan dari penulis terkenal, youtuber hebat, Tangkai Ra!"
Tepuk tangan kembali terdengar, Biru tersenyum ke arah mereka dan berdiri di atas panggung penuh percaya diri.
"Selamat pagi kepada semua mahasiswa dan mahasiswi yang sangat saya banggakan. Rasanya baru kali ini saya menghapus peraturan tentang ketidakbolehan untuk mem-publish wajah saya. Biasanya ketika saya diundang oleh komunitas, saya akan selalu memberi peraturan ketat tentang haramnya mem-posting wajah saya, tapi hari ini ... hari pertama saya menghapus peraturan itu."
"Ah gila, keren banget!"
"Kak Ra, ganteng banget."
"Hebat!"
"Ra ganteng ish."
"Aa Ra!"
Teriakan-teriakan antuasias itu membuat Biru semakin merasa berharga bisa berada di tengah mereka, membuat dia semakin bangga menjadi dirinya sendiri, dan membuatnya semakin mencintai popularitasnya tentu saja. Gawat. Bahkan hari ini, dia takut jika popularitasnya akan hancur.
"Apa yang akan kita mulai bahas pertama pada tema, cara jatuh cinta pada sastra? Jatuh cinta sama orang mah udah biasa, tapi pernah nggak sih kita dipinta belajar untuk jatuh cinta pada sastra?
"Sastra ... saat mendengar kata sastra apa yang langsung terlintas di otakmu?" Biru bertanya.
"Novel."
"Cerpen."
"Karya."
"Apa pun, diksi yang indah, puisi, kata-kata, semuanya bisa dikatakan sastra."
Suara-suara itu mulai bersahutan antusias untuk menjawab pertanyaan Biru.