Ciremai 2014 kala itu ...
Saat itu gerimis mulai turun, Biru menarik tangan Nadya menuju ke warung yang tak jauh dari sana. Mereka berdua tampak saling berdiam. Nadya memutuskan untuk memesan dua mangkuk mie, lalu mengajak Nadya untuk duduk di sana sembari menunggu reda. Rencananya mereka akan langsung pulang karena Nadya sudah beberapa kali dicemaskan oleh ibunya. Sebagai anak perempuan satu-satunya wajar jika sejujurnya sang ibu tak boleh Nadya pergi jika tak bersama Biru.
"Gue minta maaf ya, Nat, kalau keputusan gue sebajingan ini. Gue sadar kalau mungkin ini terburu-buru tapi gue harap lo paham. Dan Nadya, meski demikian gue nggak akan pergi ninggalin lo. Telfon gue kapan pun lo butuh dan jangan pernah sungkan cerita atau apa pun kayak sediakala. Gue tahu gue nggak akan dapet kepercayaan lo lagi, tapi dipertahankan pun akan jadi masalah yang berat. Gue minta maaf." Suara Biru terdengar menyesal, tapi bagi Nadya jelas menyakitkan.
Kau tahu, rasanya seperti ditusuk sebuah panah yang amat tajam, tapi bedanya ini tak berdarah.
"Nggak semudah itu." Nadya berdesis.
"Gue tahu."
Caramel—Nadya, seperti sedang mendapat bisikan oleh Nadya asli. Wanita itu seperti sedang bercerita padanya. Seakan-akan ingatan itu murni milik Caramel juga. Semuanya terasa membingungkan. Tapi mengenai nostalgia itu ... rasanya sangat sesak saat itu. Tiba-tiba Biru memutuskan dengan mudahnya. Jika mengingat-ingat lagi, sesaknya masih terasa hingga sekarang. Jika boleh memutar waktu mungkin lebih baik Nadya tak pernah mengenal Biru dan tak perlu memiliki hubungan sepesial dengannya. Namun, ia tahu bahwa waktu tak bisa dikembalikan dan satu-satunya jalan keluar adalah membiarkan waktu yang menyembuhkan. Karena seberapa kuat di berusaha untuk melupakan, karena saat itu pula dia mengingat tentang bagaimana kenangannya bersama Biru.
"Gue pengin lo yang mutusin hubungan ini, tapi gue rasa nggak akan mungkin. Gue tau lo orang yang paling berpegang teguh sama perkataan lo. Tapi posisi gue juga serba salah, Nat. Gue nggak bisa biarin hubungan kita kayak gini terus, seolah-olah kayak berada dalam hubungan terlarang. Gue pikirin ini dari lama, gue juga nyesek kalau gue inget bahwa akhir dari hubungan kita nggak jelas. Tapi Nat, gue cuma pengen lo lepas dari gue dan bisa bahagia dengan diri lo." Lagi-lagi Biru menabur garam pada sayatan yang telah Nadya dapatkan. Perih tentu saja, tapi Nadya menahannya agar tak roboh di depan dia.
Tak lama dari itu seorang pelayan tiba sembari membawa baki dan dua mangkuk mie rebus. Dia menaruhnya di atas meja, beserta teh hangat pula. Nadya sudah kehilangan mood untuk makan bahkan ketika sejujurnya dia merindukan aroma mie ketika masih menuruni terjalnya jalanan gunung. Dia memakai topinya, lalu tanpa banyak bicara dia langsung mencangklong ransel. Saat itu Nadya telah muak dengan semua yang dikatakan Biru. Pernyataan-pernyataan Biru hanyalah alasan yang tak pernah ingin ia dengar lagi. Jika kisah romansa memang demikian sulitnya, sejak awal seharusnya dia tak perlu ikut serta terjun ke dalamnya. Dia kira sakit hati yang dia rasakan saat ini hanya ada pada novel yang pernah dibaca, tapi nyatanya dia merasakan juga. Sebuah drama yang membuat hatinya patah.
"Nadya, mau ke mana?" Biru berdiri, seperti hendak menahan perempuan itu.
"Pulang." Singkat jawaban Nadya. Bahkan kali itu dia tidak tahu akan berjalan ke arah mana, pulang naik apa, terminal bus ada di mana karena ketika pergi, ia bersama-sama dengan kawan Biru menggunakan travel. Nadya benar-benar belum pernah ke Jawa Barat, segalanya masih asing tapi jika dibandingkan kota ini sikap Biru sekarang jauh lebih asing seakan Nadya tak pernah mengenalnya. Biru telah menyakitinya.
"Kita pulang sore, Nat. Berangkat bareng pulang juga bareng," bujuk Biru. "Jangan bikin keputusan kayak gini, gue nggak mau lo kenapa-napa," lanjutnya. Raut wajah Biru saat itu seperti seseorang yang sedang bersalah. Bagaimana tidak, karena sejak awal dialah yang memulai semuanya. Hati perempuan mana yang tidak patah ketika dihadapkan pada keputusan yang membingungkan seperti ini. Biru benar-benar lelaki yang berhasil membuat Nadya tak pernah habis pikir.
"Jujur, aku muak denger pernyataan kamu," kata Nadya. "It's okay kalau kita putus. Okay, kita akhiri hubungan ini sampai di sini dan anggap aja kamu nggak pernah kenal aku dan aku bakal lupain kamu. Seolah-olah kita nggak pernah dipertemukan. Dan satu hal lagi, nggak usah ngomongin alasan-alasan kamu itu karena pada akhirnya aku tau intinya itu karena orang tua, kan? Okay, aku paham. Nggak usah dijabarin, nggak usah kasih alasan kenapa kamu sayang aku, kenapa kamu nggak mau ninggalin aku kalau pada akhirnya ending cerita kita emang gini." Nadya terlihat emosi. Sejak tadi ia berusaha menahannya tetapi untuk kali ini seakan dia tidak bisa jika tidak mengeluarkannya di depan lelaki yang pernah menghabiskan waktunya di Jakarta itu. Dia kesal dan benci dengan keputusan Biru. Dia seperti seseorang yang kehilangan kendali.
"Okay, gue minta maaf." Biru menyerah.
"Jangan pernah ngomong sama aku lagi!" Ancam Nadya. Dia kemudian meninggalkan Biru yang masih berada di warung itu sementara mie milik Nadya tak dimakannya.
Jika mengingat kejadian tiga tahun lalu itu, jelas Nadya masih merasa sesak. Rasanya perempuan itu pun benci dirinya sendiri yang saat itu tak bisa menerima keputusan Biru. Padahal setelah itu Nadya berusaha menjadi lebih baik, maksudnya ia berubah karena dirinya sendiri. Ia selalu belajar dan memantrai diri sendiri bahwa Biru memang bukan untuknya, bukan jodohnya dan lebih dari itu Biru bukan siapa-siapa baginya. Ada banyak lelaki di dunia ini tapi kenapa saat itu Nadya menangis karena Biru? Tapi namanya juga cinta. Nadya mengakui betul bahwa dia benar-benar menyukai Biru, mencintai Biru dan menyayanginya. Dan ketika dengan sangat tiba-tiba Biru memutuskan untuk pergi, apa yang bisa kau lakukan? Jelas saat itu Nadya benar-benar hancur. Segalanya benar-benar berubah, hingga akhirnya ia menyadari dengan perlahan bahwa kepergian Biru bukanlah akhir dari hidupnya. Ia masih memiliki impian yang harus diraih, ia masih memiliki hari yang panjang untuk move on dari lelaki itu. Itu saja.
Tiba-tiba Biru menggenggam tangan Nadya. Dalam sekejap perempuan itu langsung menjauhkan tangannya dari tangan kekar lelaki itu. "Mau apa?"
"Aku sayang sama kamu, Nat."
"Udah terlambat." Caramel tak mengerti. Di satu sisi ia menilai bahwa kesalahan masa lalu itu murni salah Biru, tapi di sisi lain dia ingin berpendepat bahwa Nadya harus memberi kesempatan kedua. Biru menyayanginya.
"Kita nggak bisa mulai dari awal? Seenggaknya kasih aku kesempatan kedua. Bukannya kamu belum bisa menyukai orang lain? Sekarang aku kembali jadi Biru yang beda. Biru yang pengin berjuang buat dapetin Nadya lagi," desis Biru.
"Udah terlambat kubilang," ketus Nadya. "Bukannya ini yang kamu mau? Dan sekarang aku juga udah baik-baik aja. Kadang-kadang aku menyayangkan bahwa pada akhirnya aku ketemu lagi sama kamu. Maksudku, disaat sebentar lagi aku bisa sembuhkan luka, kamu malah datang tiba-tiba. Kayak menghancurkan rencana," ujar Nadya.
Astaga gue ngomong apaan? Bener-bener mulut gue kadang pedes banget. Tapi gimana lagi gue harus bilang sejujurnya, demi Nadya juga. Maksudnya agar pernikahan Nadya dan Jingga berjalan lancar. Batin Caramel.
"Tapi aku mau denger alasan kamu." Biru tipe cowok yang pantang menyerah.
"Alasan apa?"
"Katakan dengan jujur, kau masih mencintaiku?"
Nadya terdiam. Rasanya dia juga ingin bilang bahwa benar, Nadya dalam dirinya masih mencintai dan menginginkan Biru. Setelah kejadian tiga tahun lalu Nadya tak pernah berani jatuh cinta pada siapa pun, karena kebodohan Nadya yang selalu berharap Biru akan kembali setelah berubah pikiran. Dan ketika harapannya tercapai, takdir berkata lain. Bagaimana dia harus menjelaskan pada semuanya bahwa sejak awal dia tidak ingin menikah dengan siapa pun selain Biru.
Aduh, kenapa harus gue yang ada di posisi kayak gini? Ya Tuhan, kalau mau ada pertukaran jiwa kenapa gue nggak diletakkan di tubuh cewek yang masalahnya nggak berat-berat banget gitu. Tahu kalau hidup gue bakal dapet genre fantasi sih, gue mending jadi gulali aja. Ya Tuhan, tolong kalau nanti ada reinkarnasi, di kehidupan selanjutnya lebih baik ciptakan aku jadi permen kapas aja. Lagi-lagi Caramel membatin.
"Nadya, bilang dengan jujur." Kali ini Biru semakin kekeuh.
Nadya menggeleng, "Enggak. Semuanya udah usai. Aku bilang, semuanya udah berakhir." Ia menekan kata-katanya.
"Kamu bohong," debat Biru.
"Mau kamu apa?" Nadya menekan suaranya. Dia bingung apakah rekan-rekan kerja telah mengetahui hubungan mereka? Dia rasa tidak. Itu tiga tahun lalu, dan Nadya baru bekerja di sini dua tahun sekarang.
"Kita lakukan sesuatu biar kamu bisa gagal menikah sama Jingga." Biru mengucap enteng.
"Sesuatu apa?" Nadya tak paham.
"Seperti yang hampir pernah kita lakukan di malam sebelum kepergian kita ke gunung," bisiknya.
"Itu apa?" Wanita itu kaget.
"Nat ... haruskah aku jelasin semuanya dari awal?Kamu lupa?" Kali ini suara Biru lebih pelan.
Astaga Nadya lo berdosa banget. Padahal muka lo polos, anjir. Batin Caramel.
"Enggak! Gila lo," sentak Nadya.
"Ini jalan satu-satunya."
"Aku nggak mau. Udahlah, aku bilang kalau ini udah usai. Yang udah biarkan udah, kita mulai jalan masing-masing dan nggak usah berharap lebih. Mungkin semuanya harus kayak gini." Nadya mulai terlihat capek, Biru terlalu memaksa.
"Aku nggak mau kamu menikah sama orang lain."
"Terserah. Bukannya waktu di gunung kamu yang kekeuh kalau katanya kamu harus mengakhiri hubungan kita? Katanya kamu pengin aku bahagia, dan setelah kamu bener-bener udah lepasin aku, kamu hilang tanpa kabar, sekarang kamu kembali lagi? Kamu pengin kita kayak dulu lagi? Biru, apa ada jaminan kalau kamu nggak bersikap kayak sebelum-sebelumnya? Jujur, aku sakit waktu itu. Aku kayak orang gila tapi nggak ada yang pernah paham perasaan aku, sekalipun itu kamu."
"Aku ngerti perasaan kamu, Nat. Aku paham."
"Ya udah, udah. Aku capek." Nadya bangkit, dia kemudian masuk ke kantor menuju ruang kerjanya. Niat hati sengaja pagi-pagi ia datang agar tidak telat, tapi ia malah dipertemukan dengan Biru yang membuatnya nambah lelah. Tapi dari hati yang terdalam, Nadya memang rindu lelaki itu, dia ingin memeluknya jika memang bisa. Tapi pada akhirnya Nadya tidak mau merendahkan dirinya begitu saja. Dia bertekad ingin melupakan Biru, setidaknya sampai ketika dia mendengar nama Biru disebut, Nadya tak pernah merasakan apa pun.
Aduh gila, deg-degan juga. Masih nggak paham kenapa gue seakan-akan beneran jadi Nadya. Bukannya gue cuma minjem tubuhnya aja? Tapi kenapa gue harus ngerasain semua yang dirasakan Nadya? Kayak yang nggak adil. Maksud gue, ini terlalu berat. Caramel mengucap dalam hati.
**
Selepas sang Ceo datang, pertemuan dimulai. Sebenernya ini bukan sebuah pertemuan resmi, tapi memang ada beberapa point yang disampaikan salah satunya mengenai ide branding bagi penulis baru yang belum memiliki nama. Begitu ketika dijelaskan oleh teman sesama Editor Nadya.
"Mungkin kita juga akan mengusung ide baru. Karena kita memang harus bersaing dengan banyaknya penerbit di luar sana. Konsep lama sepertinya harus diganti dan kita harus memulai branding dengan ide yang segar," kata sang Ceo. "Jika salah satu dari kalian ada ide, boleh bicarakan terlebih dahulu."
"Mungkin saya punya ide." Nadya mengangkat tangan.
Buset gue keren amat nih. Tapi gue emang pernah tau sekilas waktu kuliah dulu. Lagian kayaknya ini belum populer di tahun 2017.
"Ya, bagaimana Nadya? Tumben mau nyumbang ide, biasanya manut-manut aja," komentar Ceo.
"Sesekali kita membuat video yang berisi cuplikan naskah tersebut, dan dibuat trailer gitu. Terus bisa juga membuat video tanpa suara yang isinya potongan percakapan, kemudian kita butuh pembuatan animasi lebih banyak yang nanti akan lebih mempercantik tampilan feed. Dan jangan lupa untuk memperhatikan harga dengan menghadirkan paket bundling atau diskon, kemudian terakhir jangan lewatkan adakan giveaway mendadak, karena itu bisa menaikan insight," ucap Nadya. Dia mencoba memberikan idenya walau beberapa memang sudah terpakai. Dia hanya bingung akan mengatakan apa, tapi perihal harga yang diturunkan itu memang cukup bisa mencakup banyak masyarakat yang ingin memiliki bunga dengan harga yang cukup miring.
"Maaf, itu pembuatan animasi hanya untuk feed maksudmu?" Seorang admin sosial media bertanya, dia merupakan lelaki 24 tahunan yang setahu Nadya baru lulus kuliah bulan lalu.
"Nggak juga, tapi untuk video juga. Jadi trailernya bukan mengambil dari potongan film seperti yang sekarang banyak digunakan, tapi kita buat animasi untuk trailer itu dari kita sendiri."
"Sekarang banyak digunakan? Siapa yang gunakan maksudmu? Penerbit mana?"
Aduh anjir, ini kan konsep 2020-an gawat banget. Masa gue bilang itu yang kelak akan ramai, kan nggak mungkin, Bodoh!
"Ya, saya salah bicara, Mas. Maksudnya mungkin ini akan baik untuk promosi nanti," kilah Nadya.
"Ah, tapi itu akan memakan biaya yang nggak main-main," balasnya.
Ini juga yang Nadya bingungkan sebenarnya. Tapi dia yakin bahwa idenya bisa membuat insight meninggi dan bisa bersaing dengan penerbit mayor lain.
"Saya akan coba setujui ini," kata sang Ceo. "Idenya cukup bagus. Kalau ada ide lain boleh sampaikan," katanya lagi.
Sesekali Nadya mendapati Biru yang selalu memandang ke arahnya. Laki-laki itu seakan jarang melepas pandangannya dari Nadya. Bahkan ketika Nadya berbicara tadi, Biru seperti sedang menikmati suaranya. Laki-laki itu benar-benar gila menurutnya.
Ketika pembahasan mulai selesai, Nadya segera mengambil tas dan hendak langsung pulang. Tadinya dia ingin di kantor hingga sore, tapi sayangnya keadaan membuatnya tidak betah berada di sini. Ia merasa sungkan karena kehadiran lelaki yang sedang mengobrol dengan sang Ceo di ruang paling depan kantor itu.
"Nat, masa langsung pulang," kata salah satu temannya.
"Iya nih, buru-buru. Soalnya masih ada kerjaan di rumah."
"Padahal pengen ngajakin kamu makan bakso aci. Aku abis beli dari toko orange waktu tiga hari lalu, dan udah sampai sekarang. Ayolah, Nat."
"Kapan-kapan deh, ya. Aku belum bisa mampir." Nadya menolak halus. Sesungguhnya dia juga sudah lama ingin bakso aci tapi ...
"Ayolah Nat, bentar."
"Kak Nadya!" Seseorang memanggil namanya. Nadya menoleh. Dia mendapati perempuan berumur 20 tahunan, memiliki wajah yang terlihat ceria dan senyum yang manis.
"Kak, makasih ya udah jadi editorku, aku seneng akhirnya ketemu Kak Nadya di sini. Awalnya aku nggak tahu kalau kakak ini yang namanya Nadya. Naskahku yang Mendung Pagi gimana menurut Kakak?" ujarnya sumringah.
Ah ternyata dia penulis.
"Ah iya salam kenal ya. Ngomong-ngomong naskahmu ciamik banget. Aku nggak sabar nunggu versi cetaknya nih," kata Nadya.
"Ah iya Kak makasih. Semoga Kak Nadya nggak sakit kepala deh liat tulisanku."
"Mana bisa, bagus gitu kok." Nadya tertawa kecil.
Selepas mengobrol sebentar, Nadya memutuskan untuk segera keluar dari kantor. Rasanya dia ingin segera pulang saja, rehat di rumah atau paling tidak dia akan memasak apa pun yang bisa dibuatnya. Atau membeli saja mungkin. Malas untuk berurusan dengan dapur. Yang terpenting tidak di sini. Tidak menatap wajah Biru. Kasihan Nadya.
Seseorang tiba-tiba menarik pergelangan tangannya ketika Nadya hendak mengambil helm dari spion kaca. Nadya terkejut, dia melihat Biru dan dengan paksa lelaki itu menarik Nadya memasuki jalan kecil yang berada di samping kantor. "Mau ke mana? Biru, lepasin nggak?!" bentak Nadya.
"Plis, aku mau ngomong sama kamu bentar," katanya.
Setibanya di jalan kecil, Biru melepas tangan Nadya. Lelaki itu menatap Nadya dalam. Kehangatan pandangan Biru seperti dirasakan kembali oleh Nadya. Harum dari parfum lelaki itu masih sama seperti sediakala. Begitu dalam bayangan Nadya..
"Aku masih suka dan terus suka sama kamu. Nadya, sebelum ijab terdengar, aku bakal berjuang buat dapetin kamu. Aku yakin aku masih punya kesempatan. Aku yakin, sekali lagi aku yakin. Ingat ucapanku." Biru berbisik lembut.
Anehnya kali ini Nadya tak memberi penolakan. Dia membiarkan wajah Biru mendekat ke arah wajahnya. Nadya menutup kedua matanya, Biru memegang leher perempuan di depannya, dan dengan pelan Nadya mulai merasakan bibir Biru menyentuh bibirnya dengan lembut. Namun, buru-buru Nadya mendorong Biru setelah kesadarannya kembali. "Biru, udahlah! Aku pulang!" Dia langsung bergegas menjauhi Biru, agaknya mereka berdua mulai gila. Bahkan ketika minggu depan Nadya akan menikah dengan Jingga, sejujurnya tak seharipun dia bisa membayangkan bahwa Jingga akan menjadi suaminya. Tidak. Jika pun bisa, Nadya tak mau menikah dengannya.