8

1164 Kata

Kami duduk mengelilingi meja bertaplak putih bundar dengan posisi Morgan yang duduk diantara aku dan perempuan itu. Perempuan yang aku lihat kemarin bersama dengan Morgan. Sabar adalah kata yang sejak tadi menjadi kata mantra untukku bertahan supaya tidak mencakar wajah cantik milik perempuan yang hingga kini masih tidak kuketahui nama mau pun statusnya di sini. Tapi satu hal yang sejak tadi aku rasakan sejak kami duduk di meja ini adalah perasaan tidak nyaman. Alasannya hanya satu, meski hanya mengenakan sebuah blazer dan rok pensil berwarna senada, merah maroon, perempuan itu tampak jauh lebih anggun dan berkelas bila dibandingkan dengan diriku yang mengenakan dress semahal ini. "Bagaimana kabar kalian?" tanya Friska, ibu mertuaku. Suaranya yang lembut begitu menyenangkan untuk di de

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN