Tiga Puluh Enam

985 Kata

Perlahan mata itu mulai terbuka, rasa pening melanda. Kisha menatap nanar langit-langit kamar yang bernuansa dingin itu. Air matanya kembali berderai. Haruskah ia kembali kehilangan setelah beberapa kali merasakan itu. Tidak cukupkah kenangannya bersama Gara yang hilang? Mengapa Gara juga harus meninggalkannya? Lalu, bagaimana bisa ia menggali kembali kenangan yang ia lupakan itu? Kisha menangis lagi.   "Nona sudah bangun ternyata."   Kisha menoleh pada Prans yang baru memasuki kamar. "Jenazah Bos masih di rumah sakit. Kalau Nona mau menunggu nggak apa-apa, tapi kalau Nona mau melihat Bos yang terakhir kalinya juga saya tidak bisa melarang."   Tangisnya pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya menumpahkan seluruh getar perih dalam dadanya. Kapan Tuhan akan bersikap

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN