Setelah gurun, jalan yang kami lewati berubah lagi. Menjadi sebuah hutan lebat dengan pohon menjulang tinggi dan suara-suara menakutkan di seluruh penjuru arah. Herannya aku tidak merasa kaget lagi. Kurasa dengan sendirinya pikiranku telah terbiasa dengan keadaan lembah ini. Aku menengadah, memutar tubuhku mengobservasi sekeliling. Suasana di sini mengingatkan akan megahnya hutan Moon Drop, dengan perbedaan di efek cahaya. “Tempat ini indah sekali, kan?” Aku tidak bisa menghentikan diriku untuk tidak mengaguminya. “Lihat, Kiran mulai lagi kambuh anehnya.” “Haha, jangan begitu Daisy. Kiran hanya penyuka hutan.” “Kau bilang begitu, tapi ikut mengejek.” Sebaliknya, teman-temanku malah menjadikan rasa senangku sebagai bahan candaan. Aku jadi cemberut, membuang muka tak senang. “Setid

