Chapter 9: Di Balik Sakit yang Tak Terduga

1088 Kata
Hari itu, Hana memulai minggu dengan semangat baru. Setelah semua tekanan di rumah dan sekolah, kabar baik akhirnya datang menghampirinya. Pagi itu, ia menerima pemberitahuan bahwa ia terpilih untuk mendapatkan les gratis di Neutron, sebuah bimbingan belajar yang sangat terkenal di kota. Tak semua siswa berkesempatan mendapatkan program gratis ini, dan bagi Hana, ini adalah kesempatan besar untuk semakin mengasah kemampuannya. Ia merasa sedikit lebih percaya diri—ini adalah titik balik yang ia butuhkan setelah segala tekanan di sekolah dan rumah. Sambil menggenggam brosur Neutron dengan erat, Hana membayangkan masa depannya yang lebih cerah. Mungkin, dengan bimbingan tambahan dari tempat les tersebut, prestasinya di sekolah akan semakin membaik. Ia berharap bisa kembali meraih peringkat tertinggi di kelas, meskipun ada Rahayu yang terus mencoba merusak reputasinya. Rasa optimisme mengisi pikirannya saat ia melangkah menuju sekolah pagi itu. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar. Hari Senin, saat upacara bendera berlangsung di sekolah, Hana mulai merasa aneh. Dari awal, tubuhnya sudah terasa lebih lemas daripada biasanya, tapi ia mencoba mengabaikannya. Berbaris bersama teman-teman di lapangan, Hana merasakan keringat dingin mengalir deras di pelipisnya. Pandangannya semakin kabur, dan suara-suara di sekelilingnya terdengar samar. Tiba-tiba, kakinya terasa sangat berat, dan dunia di sekitarnya perlahan memudar. Sebelum ia menyadari apa yang terjadi, semuanya menjadi gelap. Ia jatuh pingsan di tengah lapangan upacara. Ketika Hana membuka matanya, ia sudah berada di UKS. Tubuhnya masih terasa lemah, dan di sampingnya, ia melihat papahnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Alih-alih terlihat khawatir, papahnya tampak kesal. "Kamu pingsan," ujar papahnya singkat, tanpa sedikit pun nada empati. Papah menjemputnya dari sekolah dan membawanya pulang tanpa banyak bicara. Sepanjang perjalanan, Hana merasa canggung dan bingung. Ia berharap papahnya akan menunjukkan sedikit perhatian, atau setidaknya bertanya apakah ia merasa lebih baik. Namun, harapan itu segera pupus saat mereka sampai di rumah. Sesampainya di rumah, papah Hana duduk di ruang tamu dengan raut wajah yang tidak ramah. "Kamu jangan malu-maluin, penyakitan gini. Makan yang banyak biar gak pingsan kayak tadi," katanya dengan nada dingin. Kata-kata itu menusuk hati Hana. Ia merasa tersinggung, namun tak bisa membalas. Bukankah sakit adalah sesuatu yang di luar kendalinya? Bukankah seharusnya orang tua mendukung dan memberi semangat saat anak mereka sakit? Tapi papah Hana seolah menyalahkannya, seolah-olah ia sengaja membuat dirinya pingsan di sekolah. Malam itu, Hana kembali merasa aneh dengan tubuhnya. Batuk-batuknya semakin parah dan terus mengganggu tidurnya. Setiap kali ia mencoba tidur, batuk-batuk itu menyerangnya, membuatnya terbangun berkali-kali. Semakin lama, kondisinya semakin memburuk. Akhirnya, Hana memutuskan untuk meminta izin tidak masuk sekolah dan memeriksakan dirinya ke dokter bersama papahnya. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter memberikan kabar yang mengejutkan. Hana mengidap penyakit yang memerlukan perawatan rutin. Setiap minggu, ia harus menjalani terapi sebanyak tiga kali, setidaknya selama beberapa bulan ke depan. Berita ini menghancurkan semangatnya. Bagaimana ia bisa terus belajar dan mengikuti les di Neutron kalau harus menjalani perawatan rutin? Hari-hari berikutnya diisi dengan perjalanan bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani terapi. Setiap kali Hana kembali ke rumah, tubuhnya terasa semakin lemah. Ia mulai merasa dirinya berbeda dari anak-anak lain. Sementara teman-temannya bermain, belajar, dan menjalani kehidupan normal, Hana harus menghadapi kenyataan bahwa tubuhnya tidak sekuat dulu. Pada suatu hari, kondisi Hana memburuk lebih jauh, dan ia harus dirawat inap di rumah sakit. Rasa lemah yang ia rasakan semakin parah, dan meskipun ia mencoba untuk tetap kuat, mentalnya mulai goyah. Di kamar rumah sakit, ia terbaring sendirian, memandang langit-langit sambil bertanya-tanya, "Kenapa aku harus mengalami ini?" Papahnya datang menjenguknya, tetapi bukannya memberikan dukungan, ia malah mengucapkan kata-kata yang semakin membuat Hana merasa tak berharga. "Dasar penyakitan," kata papahnya dengan nada dingin, seolah-olah Hana memilih untuk berada di situasi ini. Hana menahan air matanya, menatap kosong ke arah jendela. Perasaannya campur aduk, antara marah, sedih, dan merasa sangat kesepian. Ia ingin bertanya, "Kenapa papah begitu keras padaku? Apa salahku?" Tapi ia tahu, pertanyaan itu hanya akan membuat semuanya lebih buruk. Jadi, ia memilih diam, membiarkan luka batin itu meresap lebih dalam. Malam di rumah sakit terasa panjang. Hana merenung, memikirkan betapa berbeda hidupnya dibandingkan teman-temannya. Mereka semua tampak menjalani kehidupan yang normal—bisa bersekolah, bermain, dan bersenang-senang. Sementara itu, ia terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dikelilingi mesin-mesin dan selang infus. Rasa tidak adil menghantamnya dengan keras. Hana pun teringat, sejak kecil ia selalu diajarkan untuk menjaga kesehatan. Mamahnya selalu melarangnya jajan di luar atau membeli makanan sembarangan di sekolah. Setiap hari, mamah dengan penuh kasih sayang menyiapkan bekal makanan yang sehat untuk Hana bawa ke sekolah. Ia dibekali buah, sayuran, dan makanan rumahan yang terjamin kebersihannya. Bahkan, minuman yang Hana bawa selalu air mineral dari rumah, bukan es atau minuman manis dari kantin. Semua dilakukan demi menjaga kesehatannya. Namun, meskipun ia selalu menjaga pola makan dan mengikuti semua nasihat mamahnya, sakit tetap saja datang tanpa diduga. "Sakit memang tidak memilih, ya," pikir Hana. Ia merasa bingung—apa lagi yang bisa ia lakukan? Selama ini, ia merasa sudah hidup sehat, tetapi tetap saja tubuhnya lemah. Dalam keheningan malam, Hana menyadari bahwa ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa kita kendalikan. Sakit adalah salah satunya. Meski telah berusaha menjaga kesehatan, tubuhnya tetap rentan. Namun, di tengah rasa kecewanya, Hana tahu satu hal: Ia harus tetap berjuang. Tidak peduli seberapa berat jalan yang harus ia tempuh, ia tidak boleh menyerah. Meskipun dukungan dari papahnya tidak ada, ia masih punya mamah, dan yang terpenting, ia masih punya dirinya sendiri. Di kamar rumah sakit yang sunyi itu, Hana memutuskan satu hal: Ia akan sembuh. Tidak peduli seberapa berat perjalanannya, ia akan kembali berdiri dengan tegak, dan suatu hari nanti, ia akan membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia lebih kuat dari yang pernah ia bayangkan. Hari-hari perawatan berikutnya penuh dengan perjuangan. Setiap terapi yang dijalani, Hana berusaha tetap optimis. Ia membayangkan dirinya pulih dan bisa kembali ke sekolah, mengejar pelajaran yang tertinggal, dan melanjutkan les di Neutron. Sesekali, ia merasa putus asa, tetapi dalam hati ia tahu, ia tidak akan menyerah begitu saja. Ketika akhirnya kondisinya berangsur-angsur membaik, Hana merasa bangga pada dirinya sendiri. Ia telah melalui begitu banyak, dan meskipun perjalanannya belum selesai, ia tahu dirinya lebih kuat daripada sebelumnya. Di satu sisi, penyakit ini mengajarkannya banyak hal tentang kehidupan—tentang pentingnya tetap bertahan meski keadaan terasa sangat sulit, dan tentang nilai sejati dari kesehatan yang seringkali kita anggap remeh. Hana bertekad, setelah sembuh, ia akan kembali ke sekolah dengan semangat baru. Tak peduli apa pun yang dikatakan papahnya, ia tahu bahwa dirinya berharga dan mampu. Sakit bukanlah akhir dari segalanya; justru, itu bisa menjadi awal dari kekuatan baru yang tak pernah ia sadari sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN