Pagi itu, Hana terbangun dengan senyum di wajahnya. Perasaan bahagia menyelimuti hatinya setelah semalam ia menerima hadiah dari papahnya. Sepulang dari klinik, papahnya memberikan sebuah kotak berwarna merah muda. Hana sangat terkejut karena biasanya, papahnya jarang memberikan hadiah secara langsung akibat kesibukan pekerjaannya sebagai dokter mata. "Ini hadiah untukmu, Hana, karena kamu selalu berprestasi di sekolah," kata papahnya sambil tersenyum lembut.
Dengan penuh antusias, Hana membuka kotak itu dan di dalamnya terdapat sepasang sepatu hitam yang indah. Hana melompat kegirangan dan memeluk papahnya erat-erat. "Terima kasih, Pah! Sepatunya cantik sekali! Aku akan memakainya besok!" katanya dengan mata berbinar-binar. Papahnya hanya tertawa kecil sambil mengusap kepala Hana, "Kamu layak mendapatkannya, Nak. Pakailah dengan bangga."
Hadiah sepatu itu bukan hanya tentang barang fisik, tapi juga perasaan bahwa papahnya memikirkan dirinya meskipun sibuk. Kesibukan papahnya sering kali membuat Hana harus menjalani banyak hal sendirian, namun sepatu itu menjadi simbol perhatian dari sosok yang sangat ia kagumi. Sepatu tersebut menjadi sesuatu yang sangat spesial baginya.
Keesokan paginya, Hana bangun lebih awal. Ia tak sabar untuk mengenakan sepatu barunya ke sekolah. Setelah mengenakan seragam, Hana dengan hati-hati memasukkan kakinya ke dalam sepatu hitam itu. Namun, saat memakainya, ia merasa bahwa sepatu itu sedikit kebesaran. Kakinya yang mungil tampak tidak begitu pas di dalamnya. Sesaat Hana berpikir untuk menggantinya dengan sepatu lamanya, tapi kemudian ia memutuskan untuk tetap memakainya. Sepatu itu hadiah dari papahnya, dan ia ingin menunjukkan kepada semua orang betapa senangnya ia.
Di sekolah, Hana berjalan dengan penuh percaya diri meskipun sedikit tidak nyaman karena sepatu yang longgar. Ketika waktu istirahat tiba, beberapa teman sekelasnya mengajaknya bermain sepak bola di halaman sekolah. Biasanya Hana tidak tertarik untuk ikut, tetapi hari itu ia merasa lebih berani dan ingin bergabung.
Permainan berlangsung seru, dan Hana ikut berlari-lari mengejar bola. Tiba-tiba, bola datang ke arahnya, dan Hana menyiapkan dirinya untuk menendang bola sekuat mungkin. Dengan penuh semangat, ia mengayunkan kakinya. Namun, saat kakinya melayang, bukannya bola yang terbang, tetapi sepatunya yang terlempar tinggi ke udara! Sepatu itu melayang dan mendarat di atas genteng sekolah. Hana tertegun, sementara teman-temannya tertawa keras melihat kejadian tersebut. Meskipun awalnya merasa malu, Hana akhirnya ikut tertawa bersama mereka. Situasi yang canggung berubah menjadi momen lucu yang membuat hari itu terasa lebih menyenangkan.
Salah satu teman Hana segera memanggil tukang kebun sekolah untuk membantu mengambilkan sepatu Hana yang tersangkut di genteng. Tak lama kemudian, sepatu itu kembali ke tangan Hana, meskipun sedikit kotor dan berdebu. Hana membersihkannya sebisanya dan kembali memakainya. Meskipun ada sedikit rasa malu, Hana tetap merasa hari itu adalah hari yang baik.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Keesokan harinya, papah Hana harus berangkat lebih awal dari rumah. Pagi itu, papahnya sudah berangkat sejak subuh untuk melakukan operasi mata pada pasien katarak. Karena kesibukan papahnya, Hana tidak bisa diantar oleh papahnya. Untungnya, kakek dan neneknya sedang menginap di rumah. Kakek Hana pun menawarkan diri untuk mengantarnya ke sekolah dengan menggunakan motor.
Saat perjalanan ke sekolah, Hana merasa sedikit gugup karena biasanya ia diantar oleh papahnya dengan mobil. Namun, kakek Hana yang sudah sangat berpengalaman di jalan membuatnya merasa tenang. Mereka hampir tiba di sekolah ketika tiba-tiba, di sebuah tikungan sempit, sebuah motor dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan tinggi. Kakek Hana mencoba menghindar, namun kecelakaan tidak bisa dielakkan. Benturan keras terjadi, dan tubuh Hana terlempar dari motor. Dalam hitungan detik, ia merasakan panas yang luar biasa menjalar di kakinya.
Ternyata, kakinya terjepit di bawah motor, dan knalpot motor menyentuh kulitnya, menyebabkan luka bakar yang menyakitkan. Hana berteriak kesakitan, air matanya mengalir deras. Kakeknya dengan cepat membantunya bangun, memastikan bahwa Hana tidak mengalami cedera yang lebih serius. Pengendara motor yang menabrak mereka segera meminta maaf, namun kakek Hana lebih fokus pada kondisi cucunya yang terluka.
Setelah memastikan bahwa tidak ada cedera lain yang serius, kakek Hana melanjutkan perjalanan dan mengantar Hana ke sekolah. Namun, langkah Hana tertatih-tatih saat ia berjalan menuju kelas. Setiap langkah yang diambilnya terasa seperti tusukan jarum di kakinya. Sesampainya di kelas, Hana duduk di tempatnya tanpa banyak bicara. Teman-temannya segera menyadari perubahan dalam dirinya. "Hana, kenapa kamu diam saja? Kamu kelihatan tidak enak badan," tanya salah seorang temannya.
Pertanyaan itu seakan membuka pintu emosi Hana. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya dan segera menangis. Ia menunjukkan luka di kakinya yang memerah akibat luka bakar kepada teman-temannya. Mereka semua terkejut melihat kondisi kakinya, dan salah satu temannya langsung berlari keluar kelas untuk memanggil guru. Guru mereka segera datang dan membawa Hana ke ruang UKS untuk mendapatkan perawatan.
Di UKS, luka bakar di kaki Hana segera diobati dengan hati-hati. Guru UKS membersihkan luka itu, memberi salep, dan membalutnya agar tidak terkena infeksi. Hana hanya bisa meringis menahan rasa sakit, tetapi setidaknya perawatannya selesai dengan cepat. Setelah itu, Hana kembali ke kelas, meskipun diminta untuk beristirahat dan tidak banyak bergerak.
Sepulang sekolah, Hana merasa sangat lelah. Luka di kakinya membuatnya sulit berjalan, dan pikirannya dipenuhi dengan rasa sakit serta kejadian kecelakaan tadi pagi. Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamarnya tanpa banyak bicara kepada siapapun. Hana merebahkan dirinya di tempat tidur, mencoba melupakan rasa sakit dan kejadian buruk yang baru saja dialaminya.
Beberapa saat kemudian, pintu kamarnya terbuka. Farel, kakaknya, masuk perlahan-lahan dengan wajah penuh kekhawatiran. "Hana, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya lembut. Hana hanya diam, tidak menjawab, tatapannya lurus ke arah jendela.
Farel mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. "Aku sudah dengar dari kakek tentang kecelakaan tadi. Kakek bilang kamu terluka cukup parah," kata Farel dengan suara yang penuh perhatian. Hana hanya mengangguk pelan, air mata kembali mengalir di pipinya. Farel meraih tangan adiknya, menggenggamnya dengan erat. "Jangan khawatir, Hana. Luka itu akan sembuh. Semua hal buruk akan berlalu, kamu hanya perlu sabar. Kita semua ada di sini untukmu."
Kehadiran Farel di sisi Hana memberikan ketenangan yang tidak bisa dijelaskan. Meskipun Farel tidak banyak bicara, kehadirannya sudah cukup untuk membuat Hana merasa lebih baik. Ia tahu bahwa kakaknya selalu tahu bagaimana cara membuatnya merasa tenang, bahkan di saat-saat tersulit sekalipun.
Malam itu, meskipun kakinya masih terasa sakit, Hana bisa tidur lebih nyenyak. Ia tahu bahwa besok adalah hari yang baru, dan meskipun hari ini penuh dengan cobaan, ia akan bisa melewatinya dengan dukungan dari keluarga yang selalu ada untuknya.