Chapter 7: Ditinggalkan Teman

1271 Kata
Hari itu, suasana di sekolah tidak seperti biasanya bagi Hana. Meski biasanya ia merasa bangga dengan prestasinya yang diakui guru-guru, hari ini semua terasa berbeda. Teman-temannya mulai menjauh, tidak lagi tersenyum atau menyapa seperti sebelumnya. Rasanya seperti dunia yang dulu hangat kini berubah dingin, sepi, dan penuh dengan tatapan asing. Tapi Hana tahu bahwa ia tidak bisa terus menerus larut dalam perasaan itu. Saat jam pelajaran berakhir, seperti biasa, Hana langsung menuju toko buku favoritnya. Membaca adalah pelariannya, tempat di mana ia bisa menemukan kedamaian dari segala kekacauan di luar. Di antara rak-rak buku yang berderet rapi, Hana merasa seperti menemukan kembali dunianya. Ia menyusuri lorong-lorong yang dipenuhi buku-buku baru, berharap menemukan bacaan yang bisa menyibukkan pikirannya. Hana mengambil beberapa buku bacaan ringan, beberapa buku pelajaran untuk memperdalam materi sekolah, dan tentu saja, buku diary baru. Diary adalah satu-satunya teman yang setia mendengarkan setiap keluh kesahnya. Setiap halaman diary dipenuhi dengan cerita-cerita tentang kehidupannya, perasaan-perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan kepada siapa pun. Hana merasa lebih mudah mencurahkan semua isi hati di atas kertas daripada berbicara dengan orang lain. Setelah selesai memilih buku, Hana membayar di kasir dan memasukkan semuanya ke dalam tasnya. Saat berjalan pulang, pikirannya kembali teringat pada kejadian di sekolah. Kenapa teman-temannya begitu mudah percaya pada Rahayu? Ia tahu bahwa tidak semua dari mereka menyetujui apa yang Rahayu katakan, tapi mereka tetap memilih menjauh. Rasa kesepian itu datang lagi, seperti bayangan yang selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi. Sesampainya di rumah, Hana langsung menuju kamarnya. Ia meletakkan tasnya di meja dan mengeluarkan buku diary barunya. Ia membuka halaman pertama dan mulai menulis: "Hari ini lagi-lagi terasa berat. Semua orang menjauh. Apa aku salah? Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, tapi kenapa rasanya begitu sulit? Mungkin benar, cuma diary ini yang bisa mengerti aku. Cuma kamu yang selalu mendengarkan tanpa menghakimi. Aku harap suatu hari nanti, semua akan berubah, dan aku bisa punya teman yang benar-benar peduli..." Setelah menulis beberapa paragraf, Hana berhenti sejenak. Ia menatap keluar jendela, melihat langit yang mulai memerah karena senja. Di luar, suara keceriaan anak-anak kecil yang bermain di halaman rumah tetangga terdengar samar-samar. Tapi di dalam kamarnya, keheningan mendominasi. Hana merasa tempat ini adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa merasa aman dan tidak harus berpura-pura menjadi kuat. Waktu berlalu, dan tidak lama kemudian, kakaknya, Farel, masuk ke kamar Hana tanpa mengetuk. "Hei, kamu nulis diary lagi?" tanya Farel dengan senyum jahil. Hana tersenyum kecil, satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa lebih baik hanyalah kakaknya. "Iya, Bang. Aku lagi curhat sama diary. Hanya dia yang mau dengerin aku." Farel duduk di tepi tempat tidur Hana, lalu menatap adiknya dengan penuh perhatian. "Dek, kamu tahu kan, kalau kamu bisa cerita ke aku juga? Aku selalu siap dengerin kamu." Hana menatap Farel dan merasa lega. Meskipun tidak banyak bicara kepada orang lain, ia selalu merasa nyaman berbicara dengan kakaknya. "Bang, di sekolah... teman-temanku menjauh gara-gara Rahayu. Dia bilang aku sok pintar, dan sekarang mereka gak mau temenan sama aku lagi." Farel mendesah pelan. "Kamu tahu, Han, kadang orang-orang iri sama yang mereka lihat sebagai kelebihan. Tapi kamu gak perlu berubah hanya karena mereka gak suka. Tetap jadi dirimu sendiri. Mereka yang kehilangan kalau menjauh dari kamu." Hana tersenyum kecil. Nasihat kakaknya selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik. "Kamu benar, Bang. Aku gak akan biarin mereka bikin aku merasa rendah diri." Farel tertawa kecil. "Itu baru adikku! Ayo, keluar. Makan malam sudah siap." Malam itu, Hana merasa sedikit lebih ringan. Meskipun dunia luar terasa penuh tantangan, ia tahu bahwa di rumah, ada keluarga yang selalu mendukungnya. Diary akan selalu menjadi tempat curhatnya, tapi kakaknya adalah seseorang yang selalu bisa membuatnya merasa lebih kuat. Keesokan harinya, di sekolah, Hana berusaha bersikap seperti biasa. Meskipun beberapa teman masih menjauh, ia tidak memperlihatkan kesedihan di wajahnya. Saat jam istirahat, ia duduk sendirian di pojok kelas, membaca buku yang baru dibelinya kemarin. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara yang familiar. "Hai, Hana!" Hana mendongak dan melihat Marcel berdiri di depannya. Marcel tersenyum hangat, dan di belakangnya, Febriansyah melambaikan tangan. Hana merasa hatinya sedikit hangat melihat mereka. "Kamu gak makan siang?" tanya Febriansyah. Hana menggeleng. "Aku udah bawa bekal, mau makan nanti." Marcel duduk di sampingnya, lalu berkata, "Kalau kamu butuh teman ngobrol, kita di sini kok." Hana tersenyum kecil. Meskipun banyak yang menjauhinya, setidaknya ada beberapa orang yang masih bersikap baik. Percakapan kecil dengan Marcel dan Febriansyah membuat hari itu terasa lebih ringan. Mereka membahas tentang pelajaran, hobi, dan bahkan sedikit bercerita tentang kejadian di kelas les. "Celci kemarin keliatan galak banget, ya," kata Febriansyah sambil tertawa kecil. "Tapi sebenarnya dia baik, kok." Hana hanya tersenyum. Ia belum sepenuhnya yakin tentang Celci, tapi setidaknya ia tahu bahwa ada orang-orang yang peduli padanya. Pelan-pelan, ia merasa bahwa tidak semua orang di sekelilingnya memusuhi. Ada teman-teman yang tulus dan bersedia mendukung, seperti Marcel dan Febriansyah. Hari itu, Hana pulang ke rumah dengan perasaan yang lebih baik. Ia kembali menulis di diary-nya, menceritakan tentang percakapan dengan Marcel dan Febriansyah. Meskipun masih ada tantangan di depan, Hana tahu bahwa ia bisa melewatinya, satu hari demi satu hari. Di akhir tulisannya, Hana menulis, "Hari ini sedikit lebih baik. Mungkin aku tidak sendiri seperti yang aku pikirkan. Ada orang-orang yang peduli, dan itu sudah cukup untuk membuatku merasa kuat. Terima kasih, diary, untuk selalu mendengarkanku. Semoga besok akan lebih baik lagi." Dan dengan itu, Hana menutup diary-nya, bersiap untuk menghadapi hari berikutnya dengan sedikit lebih banyak harapan di hatinya. Setelah makan siang bersama Farel, Hana kembali ke kamarnya. Ia duduk di meja belajarnya, menatap buku diary yang tergeletak di atasnya. Baru saja ia menulis tentang bagaimana hari-harinya semakin berat di sekolah, tentang teman-temannya yang semakin menjauh. Namun, di dalam dirinya, ada perasaan lega setelah berbicara dengan Farel. Kakaknya selalu bisa membuatnya merasa lebih baik, meskipun masalah di sekolah tidak begitu mudah terselesaikan. Hana membuka halaman baru di diary-nya dan kembali menulis: "Hari ini aku sedikit merasa lebih baik. Farel bilang aku gak boleh berubah hanya karena orang lain tidak suka dengan aku yang sekarang. Aku harus tetap jadi diriku sendiri, dan itu membuatku merasa sedikit lebih kuat. Aku tahu masalah di sekolah belum selesai, tapi mungkin dengan waktu, semua akan kembali seperti semula." Selesai menulis, Hana menatap keluar jendela kamarnya. Ia bisa melihat matahari yang mulai terbenam di ufuk barat, menyisakan semburat jingga di langit. Suara anak-anak yang bermain di luar terdengar samar-samar, tapi Hana tidak tertarik untuk bergabung. Ia lebih memilih ketenangan kamarnya, di mana ia bisa merenung tanpa gangguan. Di malam hari, setelah makan malam, Hana duduk bersama keluarganya di ruang tamu. Mamah dan papahnya sedang sibuk berbicara tentang pekerjaan, sementara Farel sesekali mengomentari hal-hal lucu yang ia lihat di media sosial. Hana lebih banyak diam, meskipun sesekali ia tersenyum mendengar candaan Farel. Meskipun keluarganya selalu ada untuknya, Hana tidak bisa menghilangkan perasaan terasing yang ia rasakan di sekolah. Setelah beberapa saat, Farel menatap Hana. "Besok ada acara apa di sekolah, Dek?" Hana mengangkat bahu. "Gak ada yang spesial, Bang. Cuma kelas seperti biasa." Farel mengangguk. "Kamu masih bete sama teman-temanmu?" Hana menatap kakaknya dengan tatapan kosong, lalu mengangguk pelan. "Iya... mereka masih menjauh gara-gara Rahayu." Farel mendesah. "Yah, mungkin butuh waktu buat mereka sadar. Yang penting, kamu tetap jadi diri kamu sendiri. Jangan biarin mereka bikin kamu berubah." Hana mengangguk lagi. Kata-kata Farel selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik, meskipun hanya sementara. Setelah menghabiskan beberapa waktu bersama keluarganya, Hana akhirnya kembali ke kamarnya dan bersiap untuk tidur. Di balik perasaan kesepiannya, ada harapan kecil yang tumbuh bahwa mungkin, suatu hari nanti, semua akan kembali normal. Namun, sampai hari itu tiba, Hana tahu bahwa ia harus tetap kuat, menghadapi segala rintangan dengan keteguhan hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN