7. Bala Bantuan

1330 Kata
Semua hal yang tak terduga sama sekali, akan muncul pada saat-saat terakhir..  Author *** Jatuh tempo pembayaran SPP adiknya tinggal satu hari lagi, yang artinya besok semuanya harus dilunasi karena kalau sampai tidak, Rifa tak akan ikut MID semester tahun ini. Dan akan mengulang ujian sendirian pada saat pembayaran Rifa sudah lunas.  Begitulah pendidikan sekolah swasta yang cukup elite tempat Rifa mengenyam pendidikan, beda dulu dengan Rishi yang bisa sekolah di sekolah negeri karena mendapat beasiswa dengan mengandalkan otak cerdasnya. Sedang kalau Rifa memiliki otak yang pas-pasan membuatnya harus gugur waktu mendaftar beasiswa sekolah negeri. Dan mengharuskannya bersekolah di sekolah swasta yang banyak biayanya.  Rishi yang sedang berada di toko bunga, ditemani oleh Diana. Sebab jadwal hari ini yang mengantar pesanan bunga pelanggan adalah Rara.  "Gimana Rish, kamu udah dapat pinjaman nggak?" tanya Diana sambil menata beberapa letak bunga yang berantakan. Rishi yang berada di sampingnya pun menoleh mendapat pertanyaan dari bossnya.  "Belum Mbak, uangnya masih kurang banyak. Padahal besok hari terakhir pembayaran." lesu Rishi. Diana menghela napas panjang.  "Maaf ya, Mbak nggak bisa bantu kamu saat ini." kata Diana menyesal.  "Nggak papa kok Mbak, jangan merasa bersalah. Malah aku malu sebenarnya harus merepotkan Mbak Diana terus-menerus."  "Jangan ngomong gitu ah, Mbak udah menganggap kamu dan Rara itu seperti adik Mbak. Jadi kalau ada apa-apa jangan pernah sungkan sama Mbak ya." Rishi tersenyum haru mendengar perkataan Diana. Ia sungguh bersyukur dengan adanya Diana dalam hidupnya. Ibu dua anak itu sangat baik padanya dan juga pada Rara.  Diana bukan kayak boss yang suka mengatur ini-itu namun Diana adalah boss yang sangat royal pada kedua pegawainya. Itulah yang membuat Rara dan Rishi betah bekerja di toko bunga milik Diana ini.  Lagi asyiknya melakukan kegiatan menata bunga, Rishi sampai tak sadar kalau ada seseorang yang sadaritadi memperhatikannnya sesekali tersenyum tipis, menatap setiap gerak lincah tangan Rishi yang sedang menata bunga-bunga. Diana yang tadi menemani Rishi kini telah menghilang entah kemana. Akhirnya tak tahan lagi akhirnya pemuda itu mengeluarkan suaranya juga.  "Ekhemm.." sontak membuat Rishi yang mendengarnya berbalik lalu terkesiap begitu melihat ternyata adalah Aaron.  "Mau apa kamu kesini?" tanya Rishi ketus.  "Wow, santai kali. Untuk ukuran pegawai toko kamu nggak ada ramah-ramahnya ya sama pelanggan," goda Aaron apalagi begitu melihat Rishi langsung gelisah di tempatnya. Mau tak mau Aaron tertawa pelan. "Santai aja kali Rish, aku cuma bercanda." Aaron melanjutkan katanya dengan cepat takut gadis di depannya ini tersinggung.  "Maaf, ada apa? Mau beli bunga?" tanya Rishi dengan suara yang agak lembut. Bukan apa-apa Rishi baru sadaritadi kelakuannya sangat kekanak-kanakan.  "Nggak kok, aku kesini mau ketemu kamu." Aaron langsung pada intinya bilang pada Rishi kalau memang ia datang untuk bertemu dengan Rishi.  "Maaf saya nggak bisa, saya lagi kerja sekarang." Rishi mencoba menolak namun pernyataan Aaron membuatnya langsung menatap pria itu dengan lekat.  "Cuma sebentar kok, aku hanya ingin memenuhi janji aku buat bantuin kamu aja. Yaitu pinjaman uang." ucap Aaron santai. Rishi terdiam sejenak memikirkan keputusan yang akan ia ambil, menerima bantuan yang ditawari oleh pria ini atau menolaknya seperti kemarin-kemarin.  Namun begitu mengingat jatuh tempo adalah besok, akhirnya dengan berat hati Rishi mengiyakan.  "Oke, kita bicara di luar aja." Rishi berjalan cepat melewati Aaron menuju ke luar toko untuk bicara lebih nyaman. Rishi tak sempat pamit pada Diana karena ia pikir mereka bicara tidak jauh-jauh banget.  Aaron mengikutinya dengan senyum lebar.  Sampai di depan toko meraka melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus.  "Oke, saya akan menerima bantuan kamu. Tapi sebagai pinjaman, kan?" Ya, hanya sebagai pinjaman sebab Rishi tak mau berhutang budi lagi pada seseorang.  "Ya kalau itu mau kamu anggap aja ini sebagai pinjaman walau sebenarnya aku ikhlas memberikan dengan cuma-cuma." Rishi melengos, kan apa yang baru saja yang dipikirkannya kalau pria ini akan memberikan uang itu dengan percuma. Namun ia tahu pasti ada balasan yang harus Rishi lakukan. Meski Rishi belum tahu apa itu, tetapi Rishi tak mau ambil risiko itu.  "Saya nggak mau punya hutang budi pada kamu." jelas Rishi.  "Yaudah kalau gitu," Aaron menghela napas kecewa padahal ia sangat tulus memberikan bantuan ini pada gadis itu, namun sepertinya Rishi malah salah tanggap akan sikapnya. "Ini uangnya, kamu bisa membayarnya kalau kamu udah punya uang atau kamu juga bisa mencicilnya." terang Aaron demikian.  Rishi menerima sebuah amplop putih itu yang disodorkan oleh Aaron padanya, lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah, nanti saya akan hubungi kami kalau sudah ada uang. Ohiya berapa nomor ponsel kamu supaya saya gampang buat hubungi." minta Rishi sambil menyodorkan ponsel jadulnya pada Aaron tanpa malu.  Aaron yang melihat ponsel Rishi hanya meringis dalam hati, ia semakin penasaran sama hidup Rishi yang sangat sederhana ini. Tak heran waktu gadis itu di rumahnya, Rishi kelihatan canggung sekali.  Seperti tersadar Aaron langsung mengambilnya lalu mengetik nomornya, betapa mirisnya hidup gadis ini. Lihat saja ponsel jadul Rishi bahkan angkanya sudah tak lengkap lagi membuat Aaron kesusahan ketika mengetikkan nomor ponselnya.  Setelah selesai dengan cepat ia menyerahkan ponsel Rishi lalu tersenyum lembut.  "Yaudah, aku nggak bisa lama-lama karena harus kembali ke kantor Ayah aku. Kalau gitu aku pamit dulu ya." Rishi hanya mengangguk sebagai jawaban, Aaron segera berbalik kemudian masuk kedalam mobilnya. Menghela napas sedih Aaron segera menjalankan mobilnya ke jalanan.  Aaron baru kali bertemu dengan gadis seperti Rishi, hidup dalam lingkungan berada membuat Aaron biasa bergaul dengan kalangan menengah ke atas, walau ia tak pernah memilih teman dalam bergaul namun lingkunganlah yang membuat ia mempunyai kebanyakan teman high class. Maka dari itu begitu melihat hidup Rishi rasanya sangat sedih. Bagaimana tidak ketika ia dan ketiga adiknya malah menghamburkan yang untuk hal yang kadang tidak penting.  Rishi harus bekerja keras untuk mendapatkannya, Aaron mulai belajar bersyukur setelah bertemu Rishi. Gadis itu seolah menyadarkannya betapa beratnya hidup ini yang ia kira bisa Aaron taklukkan dalam genggamannya sebab ada nama besar orangtua dan keluarga di belakangnya.  *** Tiba di rumahnya, Rishi segera mandi lalu sholat maghrib berjamaah bersama keluarganya. Dan setelah itu mereka berkumpul lagi untuk makan malam. Karena ayahnya dapat gaji honor hari ini makanya malam ini keluarga Rishi makan enak walau hanya dengan ikan goreng tepung, sayur asam, dan yang paling wajib harus ada sambal pete pedas.  Itu adalah makanan terfavorit Rishi dan ibunya. Ya, hanya Rishi dan ibunya yang penyuka makanan itu. Sedang ayah dan Rifa tidak terlalu suka. Karena baunya yang cukup menyengat di mulut ketika sudah memakannya walaupun sebenarnya lebih bau jengkol kemana-mana namun Rifa dan ayahnya tak terlalu suka.  Dengan lahap Rishi makan, membuat Rifa menoleh jijik, bukan karena apa. Hanya saja Rifa rasanya mau muntah saja begitu melihat kakaknya makan sambal itu.  Dengan penuh senyum Rishi meminum air putih lalu mengangkat piringnya masuk ke bak cucu piring, diikuti oleh ibunya yang membawa piring suami dan juga putri bungsunya. Mood Rishi kembali membaik setelah makan sambal pete pedas tadi.  Dengan bersenandung, Rishi menggosok piring kotor hingga bersih lalu membilasnya cepat. Setelah selesai dengan piring terakhir Rishi akhirnya pamit kekamar pada ibu dan ayahnya yang sedang nonton diruang tengah.  Setelah masuk kedalam kamar, ia langsung membuka tasnya lalu mengambil amplop putih yang diberikan oleh Aaron dan membukanya, Rishi melotot kaget ketika selesai menghitung uangnya. Yang di berikan pemuda itu lebih dari yang ia butuhkan makanya dengan cepat ia mengambil yang yang ia butuhkan lalu menyimpan kembali sisanya untuk segera di kembalikan pada pemiliknya.  Kemudian menyimpan kembali ditasnya. Rishi keluar kamar menuju kamar adiknya yang berada di samping kamarnya.  Tok.. Tok.. Tok..  Pintu kamar adiknya ia ketuk dengan pelan, begitu mendengar suara dari dalam Rishi langsung masuk kedalam setelah menutup pintu kamar adiknya. Ia melihat Rifa sedang duduk di meja belajarnya sambil terus membaca buku pelajaran dengan serius.  "Dek," tegur Rishi, hal itu membuat Rifa berbalik kemudian menghentikan kegiatannya.  "Ada apa Mbak?" "Mbak udah dapat uang untuk bayar SPP kamu Dek." Rifa langsung tersenyum lega mendengarnya.  "Benaran Mbak?" tanyanya tak percaya. Melihat Rishi mengangguk ia langsung terpekik senang lalu memeluk kakaknya dengan erat. Rishi tersenyum melihat mata binar adiknya. Ternyata keputusan yang di ambilnya sangat tepat, menerima bantuan dari Aaron.  "Ini uangnya, besok kamu jangan lupa bayar ya." Rishi menyerahkan beberapa uang ratusan ribu buat bayaran sekolah adiknya. Rifa menerimanya dengan suka cita. "Iya Mbak, makasih banyak Mbak." Rishi kembali menganggukkan kepalanya.  Tak lama kemudian berdiri untuk pamit. "Yaudah, Mbak ke kamar ya. Kamu lanjutin belajarnya." Gantian Rifa yang mengangguk. Setelah itu Rishi keluar dan kembali ke kamarmya.  Rifa tersenyum bahagia, aku akan giat belajar demi keluarga kita, Mbak. Janji Rifa dalam hati.  Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN